
Butuh waktu tiga hari untuk Alana benar-benar kembali menjadi anak yang ceria dan sembuh baik dari demam atau tangannya yang terkilir, lega rasanya melihat anak itu kembali ceria seperti biasa. Sebelumnya baik Arjuna ataupun Sahara benar-benar merasa cemas dan sedih melihat anaknya yang terus berbaring di ranjang bahkan Alana yang biasa sangat lahap ketika makan itu enggan untuk menyantap makanannya hanya memilih untuk tidur saja.
Berat badan Alana memang turun sekarang pipi anak itu tidak setembam dulu, tapi yang terpenting Alana sudah sangat sehat sekarang. Satu hal yang Sahara dan Arjuna syukuri adalah kandungan Sahara yang sama sekali tidak rewel ketika dia menjaga Alana yang sedang sakit.
Hubungan Alana dan Airlangga juga sudah sangat baik mereka kembali seperti biasanya. Alana kembali manja pada Kakaknya bahkan anak itu selalu minta disuapi Airlangga kalau ingin makan.
Seperti sekarang contohnya Alana sedang menyantap makan siangnya dan Airlangga menyuapinya dengan tenang.
"Ana"
Sampai suara Fahisa terdengar dan membuat anak itu tersenyum senang juga menatap wanita paruh itu dengan berbinar. Segera berdiri Alana langsung berlari menghampiri Fahisa dan melompat ke dalam pelukannya.
"Omaaa"
Tersenyum senang Fahisa mengangkat tubuh cucunya dan mencium pipinya berkali-kali.
Sebelumnya Sahara sudah mengatakan kalau Alana sedang sakit dan Fahisa benar-benar cemas ketika mendengarnya, tapi saat itu dia dan Daffa sedang berada di luar kota.
"Ana sudah sembuh? Kata Mami cucu Oma ini sakit." Kata Fahisa sambil menatapnya dengan sedih
Alana mengangguk dan menatapnya dengan lugu.
"Cudah Oma cekalang Ana cudah cembuh kemalin Ana dipeliksa doktel." Kata Alana
Menghela nafasnya lega Fahisa langsung memeluk cucunya dengan sayang dan dia kembali tersenyum melihat Airlangga yang berjalan mendekat.
"Angga sayang Oma kangen sekali sama kamu." Kata Fahisa
Setelah menurunkan Alana dari gendongannya Fahisa langsung memeluk Airlangga dengan sayang dan mencium puncak kepalanya.
"Ehh Mommy kapan datang?" Tanya Sahara yang baru saja keluar dari arah kamar
Menghampiri anaknya Fahisa juga memeluk Sahara dengan sayang dan mengatakan kalau dia baru saja sampai.
"Oma cama ciapa? Cendilian? Tidak cama Ante Vina?" Tanya Alana sambil menatapnya penuh harap
Tersenyum tipis Fahisa mengatakan kalau dia datang bersama Daffa dan sekarang suaminya itu sedang mengobrol dengan Arjuna di depan.
Kalau tentang Devina dia baru ingin menjawab, tapi suara anaknya itu sudah lebih dulu terdengar dan membuat Alana bersorak senang.
"Ante Vinaaa"
"Halo cantikkk kamu sakit yaa? Ululuu kasian sekali kesayangannya Tante Vina." Kata Devina sambil memasang wajah sedihnya membuat Sahara ingin tertawa melihatnya
Sedangkan Airlangga yang melihat kehadiran Devano langsung berjalan menghampirinya lalu ketika sudah dekat Devano langsung memeluknya dengan sayang.
"Mommy gak bilang kalau sama mereka juga." Kata Sahara sambil tersenyum senang
"Kejutan sayang." Kata Fahisa disertai tawa kecilnya
Melihat kedua adiknya yang sedang bersama anak-anaknya membuat Sahara merasa begitu bahagia.
Kehidupannya benar-benar sempurna sekarang dengan suami juga anak-anak dan keluarga besarnya, keluarga Wijaya dan keluarga Dirgantara.
Tidak lama setelahnya sang suami masuk ke dalam bersama dengan Daddy nya dan mereka berdua terlihat sedang mengobrol. Saat melihat anak perempuannya Daffa langsung tersenyum dan merentangkan tangannya membuat Sahara tersenyum senang lalu berlari ke pelukannya.
"Daddyyy"
Tertawa kecil Daffa mengusap sayang rambut hitam anaknya dan mencium puncak kepalanya.
"Apa kabar hmm?" Tanya Daffa
"Ara baikk bangett apalagi ada Mommy sama Daddy yang datang kesini." Kata Sahara dengan penuh semangat
Dia melepaskan pelukannya dan mematap Daffa dengan mata berbinar membuat pria paruh baya itu tersenyum penuh arti.
"Bagaimana kabar cucu Daddy? Apa ada masalah serius?" Tanya Daffa
Sahara tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Alana sudah lebih baik Daddy dan tidak ada masalah serius hanya terkilir biasa, tapi sekarang sudah sembuh." Kata Sahara membuat Daffa merasa lega mendengarnya
Sesaat setelahnya Daffa dibuat terkekeh ketika Alana menghampirinya dan menarik-narik bajunya sambil menatapnya dengan lugu.
"Ada apa hmm?" Tanya Daffa
"Opaa gendong." Kata Alana sambil tersenyum manis
Lucu sekali Daffa langsung mencubit pipinya dengan gemas dan menggendongnya membuat Alana berseru senang lalu mencium pipi pria paruh baya itu berkali-kali, kebiasaan yang sering Sahara lakukan dulu.
"Kalian semua duduk saja dulu Ara mau buatkan minuman." Kata Sahara sambil berlalu pergi
Ditempatnya Arjuna tersenyum bahagia melihat semua orang yang terlihat bersemangat dan senang membuatnya merasa bahagia. Apalagi istri dan anak-anaknya yang terlihat begitu senang juga antusias dengan kehadiran mertua dan adik iparnya.
"Papi Papi nanti Opa mau beliin Ana boneka balu." Kata Alana dengan penuh kebahagiaan
"Benarkah? Bukankah boneka Ana sudah banyak?" Kata Arjuna
Alana tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Belum banyak Papi macih cedikit." Kata Alana
Arjuna hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan anak-anaknya memang manja semua tentu saja mereka selalu dimanja oleh dia dan Sahara juga nenek serta kakeknya.
Semua keinginan Alana dan Airlangga selalu dituruti bahkan keduanya merupakan cucu kesayangan mengingat hanya mereka berdua cucu yang dimiliki keluarga Wijaya dan Dirgantara.
"Sini Angga kita main game seperti yang waktu itu." Kata Devano membuat Airlangga terlihat bersemangat dan langsung duduk dipangkuannya
"Vano jangan diajak main game terus." Kata Sahara yang baru saja datang
Mendengar hal itu Airlangga langsung cemberut, tapi Devano hanya mengangkat bahunya acuh dan tetap membuka game di ponselnya.
"Biar saja dia kan lelaki." Kata Devano membuat Sahara berdecak kesal mendengarnya
"Sudah Ra biarkan saja lagi pula kalau di rumah kita jarang kasih Angga main hp." Kata Arjuna
Menghela nafasnya pelan Sahara memilih untuk duduk disamping Fahisa dan menyandarkan kepalanya di bahu wanita paruh baya itu, senang rasanya bisa berkumpul seperti sekarang.
Keluarga kecilnya benar-benar terasa sempurna.
"Mommy"
"Iya sayang?"
"Mommy rindu sama Ara?" Tanya Sahara sambil menatapnya
Tatapan mata Sahara masih sama begitu lugu dan menghanyutkan membuat Fahisa tersenyum lalu mengusap pipinya dengan sayang.
"Setiap hari Mommy selalu merindukan Ara bahkan terkadang Mommy dan Daddy membicarakan tentang Ara kalau mau tidur." Kata Fahisa
Mendengar hal itu Sahara tersenyum penuh arti dan memeluk Fahisa dengan begitu erat.
"Mommy bahagia sayang melihat kamu dan Arjuna serta anak-anak kalian hidup dengan penuh canda tawa." Kata Fahisa
"Hmm Ara juga senang sangat senang." Kata Sahara
Berada di dalam pelukan Fahisa membuat Sahara merasa sangat nyaman hingga enggan untuk melepaskannya.
Tapi....
"Mami seperti anak kecil"
Airlangga mengganggunya dengan mengatakan hal yang membuat semua orang tertawa sambil menatap Sahara yang tengah memeluk Fahisa dengan manja.
Tapi, dimata orang tuanya Sahara memang selalu terlihat seperti anak kecil.
¤¤¤
Saat malam hari Sahara merasa sangat mual hingga dia enggan untuk makan malam dan hanya menemani yang lainnya makan lalu kembali ke kamar untuk membaringkan dirinya di ranjang. Sedangkan Arjuna sedang mengantar anak-anak ke kamar dan menunggunya sampai tertidur nyenyak, orang tua serta adik-adik Sahara sudah pulang sejak sore.
__ADS_1
Belakangan ini Sahara sudah sangat jarang merasakan mual, tapi sekarang dia benar-benar ingin muntah apalagi setelah mencium bau susu untuk Alana tadi. Awalnya Sahara masih bisa menahan rasa mualnya, tapi dia segera ke kamar mandi ketika merasa benar-benar ingin muntah.
Hoek
Tidak ada yang keluar, tapi Sahara benar-benar merasa ingin muntah rasanya seperti ada yang mengganjal dan membuatnya tidak nyaman.
"Ra"
Suara Arjuna terdengar bersamaan dengan dia yang membuka pintu kamar mandi dan langsung menghampiri istrinya.
"Ada apa hmm?" Tanya Arjuna membuat Sahara langsung merengek
"Mual, tapi gak bisa muntah." Kata Sahara
Baru ingin mengatakan sesuatu Sahara kembali merunduk dan mencoba untuk memuntahkan sesuatu, tapi tetap tidak ada yang keluar.
Hal itu malah membuat perutnya sakit hingga dia meringis kesakitan sekarang.
"Mas Juna sakittt"
Melihat istrinya yang menahan sakit Arjuna langsung merangkulnya dan bertanya dengan lembut.
"Apa yang sakit hmm?" Tanya Arjuna
"Perutnya sakit terus Ara mual banget, tapi gak bisa muntah." Rengek Sahara dengan mata yang berkaca-kaca
"Tiduran dulu ya?" Kata Arjuna yang dijawab dengan anggukan singkat oleh istrinya
Dengan bantuan Arjuna kini Sahara kembali berbaring di ranjang dan wanita itu langsung memejamkan matanya, tubuhnya benar-benar terasa tak karuan.
"Sakit sekali?" Tanya Arjuna cemas
"Emm sedikit"
"Mau makan? Makan sedikit saja ya? Kamu mau apa biar aku buatkan?" Kata Arjuna berusaha membujuknya untuk makan
Sahara menggelengkan kepalanya pelan dan meminta Arjuna untuk berbaring disampingnya.
"Sini Ara mau peluk." Kata Sahara manja
Tersenyum tipis Arjuna menurut dan membaringkan tubuhnya disamping sang istri yang langsung memeluknya dengan erat.
"Masih sakit tidak sayang?" Tanya Arjuna lagi
Sahara menggelengkan kepalanya pelan dan langsung menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
"Benar sudah tidak sakit lagi?" Tanya Arjuna
"Emm"
Menghela nafasnya lega Arjuna mengeratkan pelukannya, tapi dia dibuat menahan nafas ketika Sahara mendongak dan mencium lehernya.
Tidak jangan disitu.
"Ra"
Suara Arjuna terdengar serak, tapi Sahara seolah tidak mendengar apapun dan malah mengecup leher suaminya sekarang hingga membuatnya mengerang.
"Jangan Ra"
Lagi, Sahara tetap mengabaikannya dan tetap melanjutkan apa yang sedang dia lakukan.
"Ra please"
Arjuna hampir gila merasakan kecupan di lehernya, tapi tiba-tiba Sahara berhenti dan kembali memeluknya.
"Sudah Ara mau tidur"
Oh sial sekarang dia harus apa?
__ADS_1
¤¤¤
Maaf yaa dua hari ini gak update😢