
Hari minggu adalah hari yang paling Sahara tunggu karena dia bisa menghabiskan banyak waktu dengan keluarganya hal yang belakangan ini sudah jarang dia lakukan. Kesibukannya di butik membuat Sahara lebih banyak menghabiskan waktu disana bahkan tidak jarang dia pulang ketika malam sudah sangat larut.
Sebenarnya Daffa pernah protes karena anaknya yang dianggap terlalu lupa waktu, tapi Sahara selalu mengatakan bahwa dia bisa membagi waktunya dan tidak akan pernah lupa untuk makan tepat waktu serta tidur yang cukup. Meskipun tidak begitu adanya hanya saja Sahara tidak ingin kerja kerasnya selama ini akan berhenti begitu saja karena dia selalu ingat ancaman Daffa.
'Kalau kamu seperti itu terus Daddy tidak akan izinkan kamu kerja lagi Ara'
Akhirnya demi menjaga itu semua Sahara sedikit berbohong. Benar kok hanya sedikit karena sekarang dia sudah makan teratur meskipun untuk tidur yang cukup Sahara belum bisa, tapi tidak papa dari pada Daffa benar-benar menutup butiknya.
Hari ini Sahara berniat mengajak kedua adiknya jalan-jalan karena dia sangat ingin melakukannya dan dia sudah dapat pastikan kalau Devina pasti akan menerima ajakannya, tapi Devano sepertinya dia akan kesulitan membujuknya.
Saat ini Sahara sedang melangkahkan kakinya menuju kamar Devina dan tanpa permisi langsung membuka pintu kamarnya. Di sana dia dapat melihat adik perempuannya yang sedang fokus menatap ke arah laptop yang tengah memutar sebuah film.
"Vina"
Mendengar panggilan itu Devina hanya bergumam pelan sebagai balasan karena dia tidak mau mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Kamu lagi apa?" Tanya Sahara sambil mendudukkan dirinya di sisi ranjang yang lain
"Nonton film Kak lagi seru." Kata Devina
"Masih lama gak?" Tanya Sahara sambil ikut mengalihkan pandangannya ke layar laptop Devina
"Sebentar lagi habis Kak." Kata Devina masih dengan posisi yang sama
"Kalau sudah habis kita jalan-jalan yuk?" Ajak Sahara
"Boleh tuh Kak mau kemana?" Tanya Devina
"Ke mall"
Menekan tombol pause di laptopnya Devina langsung menatap Sahara dengan antusias itu adalah ide yang sangat bagus dan menyenangkan.
"Mauuu"
Tersenyum senang Sahara sudah sangat yakin akan sangat mudah mengajak adik perempuannya dan sekarang tinggal Devano yang harus dia bujuk.
Pokoknya hari ini dia harus jalan-jalan bersama kedua adiknya.
"Sama Devano juga dan sekarang kamu harus bantuin Kakak biar Devano mau di ajak pergi." Kata Sahara
Menganggukkan kepalanya dengan semangat ide Sahara bahkan lebih bagus lagi sudah lama dia tidak jalan-jalan bersama Devano karena saudara kembarnya itu selalu menolak.
"Yaudah sekarang Kakak mau ke kamar Vano dulu kamu selesain aja dulu filmnya." Kata Sahara
Setelah meninggalkan kamar Devina dengan penuh semangat Sahara membuka pintu kamar adik laki-lakinya yang tepat berada di sebelah kamar Devina. Tidak seperti Devina kali ini Sahara membuka pintunya dengan kuat membuat adik laki-lakinya yang sedang membaca buku menatapnya dengan malas.
"Vanoooo"
Berlari kecil menghampiri adiknya Sahara mendudukkan dirinya di sebelah Devano tanpa permisi.
"Selamat siang adikku sayang." Kata Sahara sambil memeluknya dari samping
"Kak ngapain sih? Vano lagi baca buku." Kata Devano sambil berusaha melepaskan pelukan kakaknya
"Ishh kamu tuh kerajinan amat sih! Mending kamu ikut Kakak sama Vina aja yuk? Kita jalan-jalan." Kata Sahara dengan semangat
Tapi, hanya Sahara yang bersemangat karena adik laki-lakinya itu hanya menatapnya tanpa ekspresi lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Malas"
"Ihhh ayokk! Vano kamu tuh sekali-sekali mau kek kalau diajak kan udah lama kita gak jalan-jalan bertiga." Kata Sahara dengan bibir mengerucut
Menghela nafasnya pelan Devano menatap kakak perempuannya itu dengan senyuman kecil.
"Berdua saja sama Devina." Katanya sambil mengalihkan pandangannya ke buku yang sedang dia baca
Berdecak kesal Sahara merebut buku yang dipegang adiknya dengan paksa membuat Devano menatapnya dengan sebal.
"Maunya bertiga! Ayo Vano kapan lagi kita jalan-jalan bertiga?" Kata Sahara sambil menatap adiknya dengan senyuman
"Malas"
"Vanoo! Ayo sekali ini saja yaa? Kakak mau jalan-jalan bertiga sama kalian." Kata Sahara sambil menatap adiknya itu dengan penuh harap
"Kemana?"
Tersenyum penuh antusias Sahara langsung mengatakan rencananya kepada Devano.
"Ke mall mau ya? Nanti kita bisa nonton sama belanja pasti seru deh kalau bertiga." Kata Sahara
__ADS_1
"Lebih seru kalau Kakak cuman berdua sama Vina." Kata Devano membuat Sahara mendengus kesal
"Vanooo"
Menarik-narik lengan baju adiknya Sahara sekarang terlihat seperti seorang adik yang merengek kepada Kakaknya. Terkadang sikap Kakaknya itu memang seperti anak kecil sangat manja sama persis seperti saudara kembarnya.
Baru saja difikirkan sekarang Devina muncul dan ikut menghampiri keduanya membuat Devano menghela nafasnya panjang.
Kalau sudah begini dia tidak punya pilihan lain selain mengalah dan menuruti keduanya.
"Vano ayo kita jalan-jalan." Kata Devina yang berada di sisi sebelah kiri Devano membuat pria itu kini berada di tengah-tengah Devina dan Sahara
"Dia tidak mau Vina." Kata Sahara membuat Devina menatap saudara kembarnya dengan raut wajah menyebalkan
"Ck. Yasudah kita gak usah pergi lebih baik kita di rumah saja dan mengganggu Devano seharian." Kata Devina
Menghela nafasnya pelan Devano akhirnya harus mengalah dari pada dia akan diganggu selama seharian.
"Baiklah aku ikut." Kata Devano
Berseru senang keduanya secara refleks memeluk Devano dari samping membuat pria itu tanpa sadar menyunggingkan sebuah senyuman kecil.
Apakah dia benar-benar seorang adik?
Terkadang dia ragu selain karena sikapnya yang lebih dewasa Devano juga jauh lebih tinggi dari Sahara ataupun Devina.
Sekarang dia merasa seperti sedang menjaga dua orang adik perempuan.
Setelah berhasil meyakinkan Devano mereka dengan segera bersiap-siap lalu meminta izin kepada Daffa dan Fahisa yang tentu saja langsung diizinkan. Sangat jarang sekali mereka bertiga menghabiskan waktu bersama-sama ketika sudah dewasa karena ketiganya memiliki kesibukan masing-masing.
"Wah senangnya anak Mommy pada kumpul semua, kalian hati-hati ya?" Kata Fahisa dengan senyuman yang begitu lebar
"Vano jagaiin adik-adik kamu ya?" Kata Daffa membuat Sahara menatapnya dengan kesal
Sampai sekarang dia dan Daffa memang tidak pernah bisa akur, menyebalkan.
"Ara itu Kakak bukan adik!" Kata Sahara dengan wajah galaknya
"Terutama adik kamu yang ini kamu harus benar-benar menjaganya Vano." Kata Daffa sambil menepuk-nepuk puncak kepala Sahara dengan pelan
"Daddy"
"Vano dengar kan?" Kata Daffa tanpa perduli anaknya yang menatap dirinya dengan kesal
"Hmm dengar"
"Yasudah kalian boleh berangkat, tapi hati-hati dan jangan kebut bawa mobilnya." Kata Daffa
"Ara musuhan sama Daddy!" Kata Sahara dengan wajah galaknya
Melihat tingkah Kakaknya membuat si kembar tertawa ketika melihatnya ternyata Sahara masih sama seperti dulu.
"Sudah kita berangkat saja! Ayo adik-adikku sayang." Kata Sahara sambil menggandeng kedua tangan adiknya
Melihat hal itu baik Daffa ataupun Fahisa tersenyum penuh arti karena setelah sekian lama ketiganya kembali menghabiskan waktu bersama-sama.
¤¤¤¤
Selama lebih dari dua jam Devano benar-benar mengikuti keinginan kedua wanita yang telah memaksanya untuk ikut. Mereka melakukan banyak hal mulai dari menonton film, belanja, dan sekarang berakhir di salah satu restoran untuk istirahat sejenak.
Istirahat sejenak
Iya, karena setelah ini mereka masih akan melakukan hal yang lainnya.
Padahal kaki Devano sudah sangat pegal apalagi selama berjalan bersama keduanya Devano diperhatikan banyak orang karena dia yang berada ditengah dengan tangan yang digandeng oleh Sahara dan Devina.
Tapi, dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti keinginan kedua orang itu dengan sabar.
Sekarang ketika mereka sedang makan Devano akhirnya bisa membuka ponselnya dan membalas beberapa pesan yang masuk disana. Sedangkan di hadapannya Sahara dan Devina sedang sibuk mengobrol tentang apa yang akan mereka lakukan setelah makan.
"Bagaimana kalau kita beli baju? Atau make up?" Kata Sahara dengan wajah penuh antusias
"Atau keduanya?" Kata Devina yang langsung disetujui oleh Sahara
"Setelah itu kita ajak Devano ke toko sepatu tadi dia bilang ingin sepatu kan?" Kata Sahara membuat Devano yang merasa terpanggil mendongakkan kepalanya
"Hmm habis itu baru kita pulang." Kata Devina
Sambil menunggu pesanan datang keduanya mengobrol tentang banyak hal dengan Devano yang hanya menyimak atau menanggapi dengan seadanya sambik memainkan ponselnya. Sampai akhirnya sebuah pesan dari orang yang dia anggap sebagai pacar Kakaknya masuk ke ponselnya dan membuat Devano ingin membalasnya.
__ADS_1
Adik ipar apa kamu tau Ara ada dimana?
Dia tidak bisa aku hubungin :(
Adik ipar yang satunya juga tidak membalas
Pria itu benar-benar tidak menyerah dan masih suka mengiriminya pesan meskipun tidak sesering biasanya. Terkadang Devano membalasnya, tapi dia lebih sering mengabaikannya.
Malas untuk mengetik Devano memilih untuk mengarahkan kamera ponselnya ke arah Sahara dan mengambil gambar Kakaknya yang sedang tertawa, tapi dia lupa kalau ponselnya bersuara.
Ceklek
Mendongakkan kepalanya Sahara menatap Devano dengan mata memicing, tapi yang ditatap tampak biasa saja.
"Kamu foto Kakak ya?" Tebak Sahara yang dijawab dengan anggukan oleh Devano
"Pacar Kakak yang minta." Katanya tanpa rasa berdosa
Membulatkan matanya Sahara segera merebut ponsel yang dipegang Devano dan adiknya itu juga hanya membiarkan. Mendekatkan dirinya Devina yang penasaran mengintip isi pesan di ponsel Devano.
"Ishh Kakaknya jelek banget." Keluh Sahara
Tapi, bersamaan dengan itu sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Devano dan ketika membacanya pipi Sahara mendadak terasa panas.
Cantik sekali♡
Dan tanpa rasa berdosa atau malu Devina berseru membuat beberapa pengunjung menatap ke arah mereka.
"Ciee Kakakk"
Sial! Sahara merasa sangat malu sekarang.
¤¤¤¤
Mendapatkan pesan berisi foto Sahara membuat mood Arjuna membaik setelah beberapa waktu lalu hancur karena perkataan Abian yang mengingatkan pertemuan nanti malam. Sampai saat ini Arjuna masih tidak mengerti kenapa Abian sangat ingin menjodohkannya padahal sudah berkali-kali dia menolak.
Tapi, dia tidak mau mengingatnya sekarang biarkan itu urusan untuk nanti malam.
Saat ini yang dilakukan Arjuna adalah memandangi foto Sahara yang baru saja dikirim oleh Devano. Tadinya dia cukup terkejut karena adik Sahara yang satu itu membalas pesannya bahkan mengirim foto.
Padahal biasanya Devano hanya membaca pesan yang dia kirim atau membalasnya dengan balasan yang sama.
Tanya Kak Ara saja
Dia tidak pernah tersinggung karena itu adalah hak Devano sendiri selain itu dia juga sudah mendapatkan banyak informasi dari Devina.
"Juna"
Panggilan dengan suara yang begitu lembut itu membuat Arjuna mendongak dan medapati Clara yang sedang berjalan ke arahnya.
Saat ini Arjuna sedang berada di perpustakaan kecil yang ada di rumahnya, salah satu tempat teraman dan menenangkan untuknya. Mendudukkan dirinya di hadapan Arjuna wanita paruh baya itu tersenyum penuh arti sambil menatap anaknya.
"Ada apa Mi?" Tanya Arjuna sambil meletakkan ponselnya
Melirik ponsel yang masih menyala itu Clara tersenyum manis ketika tau bahwa anaknya sedang memandangi foto wanita yang dicintainya.
"Itu Sahara?" Tanya Clara membuat Arjuna menunduk dan melihat foto di layar ponselnya
Mengangguk singkat Arjuna tersenyum dengan begitu lebar.
"Hmm dia cantikkan? Seperti Mami." Kata Arjuna
"Kapan-kapan ajak Mami ketemu sama dia ya?" Kata Clara yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Arjuna
"Mami ada apa kesini?" Tanya Arjuna lagi
Terdiam sebentar Clara merasa ragu untuk berbicara, tapi dia tidak mau membuat Arjuna terpaksa melakukannnya.
"Nanti malam kamu akan datang? Kalau tidak mau tidak papa Mami akan bilang sama Papi kamu." Kata Clara
Tersenyum menenangkan Arjuna merasa tersentuh ketika mendengarnya, tapi dia akan tetap pergi.
Setidaknya untuk kali ini saja karena setelahnya Arjuna tidak akan mau lagi.
"Tidak perlu Mi aku akan datang." Kata Arjuna
"Kamu yakin?" Tanya Clara yang dijawab dengan anggukan pasti oleh anaknya
Dia akan datang dan mengatakan langsung kepada rekan kerja Papi nya bahwa dia tidak akan menerima perjodohannya.
__ADS_1
Tidak akan pernah.