
Sejak masuk rumah sakit seminggu yang lalu Sahara benar-benar dilarang untuk melakukan pekerjaan apapun bahkan selama satu minggu itu dia tidak diizinkan memasak oleh suaminya. Sebenarnya ingin protes, tapi dia bisa dimarahi habis-habisan lagi nanti dan akhirnya Sahara hanya bisa menurut.
Masalah pekerjaan di butik Diandra yang berkali-kali datang ke rumah dan melaporkan serta memberi tau semuanya, tidak ada izin bagi Sahara untuk keluar rumah termasuk mengantar anak mereka sekolah. Tidak ada pilihan lain untuk Sahara selain patuh pada suaminya yang juga sangat disetujui oleh Daddy nya kalau dilihat dari itu semua sudah dapat dipastikan Sahara kalah.
Hanya saja dia juga tidak terlalu keberatan karena belakangan ini Sahara memang sangat malas untuk beraktifitas dan hanya berdiam diri di kamar atau pergi ke taman belakang untuk menyiram tanamannya. Satu lagi suaminya juga selalu pulang cepat sekarang membuat Sahara merasa senang, dia tidak sabar menunggu anak dalam kandungannya ini lahir ke dunia.
"Mas Junaaa"
Dia juga suka sekali karena Arjuna selalu datang dengan cepat kalau dia memanggil.
Seperti sekarang contohnya tidak perlu waktu lama untuk membuat suaminya berdiri dihadapannya.
"Ada apa sayang? Butuh sesuatu?" Tanya Arjuna
"Ayo kita ke restoran Mas Juna aku mau makan ayam bakar disana." Ajak Sahara dengan penuh semangat
"Tidak mau makan di rumah saja?" Tanya Arjuna
Sahara menggelengkan kepalanya dengan cepat lalu berdiri dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya meninggalkan Arjuna yang tersenyum melihatnya.
Sambil menunggu istrinya Arjuna mengetik sebuah pesan kepada Mami nya bahwa dia akan menyusul anak mereka sebentar lagi.
Iya, kedua anak mereka sedang bersama Clara sekarang menghabiskan akhir pekannya disana.
Tidak butuh waktu lama Sahara keluar dari dalam kamar mandi dan langsung mengambil jaketnya yang tergantung. Saat ini Sahara hanya memakai kaos oversize dan celana dasar lalu ditambah dengan jaket yang baru saja dia ambil.
"Ayo berangkat Mas." Kata Sahara dengan semangat
Tersenyum manis Arjuna merangkul istrinya dan bersama-sama mereka keluar dari rumah memasuki mobil lalu pergi ke restoran milik Arjuna.
"Nanti kita langsung ke rumah Mami ya?" Kata Arjuna ketika mereka sudah memasuki mobil
Sahara mengangguk dengan semangat lalu mengusap perutnya.
"Aku mau makan ayam bakar dua sama jus alpukat." Kata Sahara dengan mata berbinar
Dia sangat tidak sabar untuk menyantap makan siangnya.
"Iya Ra kamu boleh makan sepuas kamu asalkan tidak pedas dan bukan makanan cepat saji." Kata Arjuna
"Ara laparr bangettt." Kata Sahara membuat Arjuna tertawa melihat tingkahnya
"Sabar yaa Ibu hamil cantik kita lagi dalam perjalanan." Kata Arjuna
"Hmm cepetann Ara laparr." Kata Sahara
Tersenyum penuh arti Arjuna meraih tangan istrinya dan menciumnya berkali-kali membuat senyum manis istrinya mengembang dengan sempurna.
"Gemes banget sih Ra." Kata Arjuna
"Gemes apa ngeselin?" Tanya Sahara dengan mata memicing
"Dua-duanya sayang, kamu kadang gemesin, tapi kadang juga nyebelin." Kata Arjuna membuat Sahara mengerucutkan bibirnya sebal
"Mas Juna juga nyebelin apalagi kalau udah mesum Ara gak suka!" Kata Sahara galak
"Masa? Bukannya kamu suka? Kamu juga gak pernah nolak kalau aku ajak...."
"Ihh kan nyebelinnn!" Rengek Sahara
Arjuna tertawa dan mencubit pipinya gemas.
"Maaf sayang"
Merasa kesal Sahara memukul lengan suaminya cukup kuat, tapi Arjuna malah tertawa dan kembali mencium punggung tangan istrinya.
Meskipun sudah menikah untuk waktu yang lama tetap saja setiap mendapat perlakuan manis itu Sahara merasa begitu bahagia hingga pipinya mulai memanas sekarang.
Entah kenapa Arjuna selalu berhasil membuatnya merasa begitu dihargai dan dicintai.
"Mas Juna"
"Emm"
__ADS_1
"Ara minta maaf ya?" Kata Sahara membuat Arjuna menoleh sebentar ke arahnya
"Kenapa minta maaf?" Tanya Arjuna lembut
Sahara tersenyum tipis, dia merasa bersalah karena sempat membuat suaminya khawatir dan dia malah memikirkan masalah pekerjaan bukannya kecemasan suaminya.
Rasanya Sahata begitu egois.
"Maaf karena udah ngeyel dan bikin Mas Juna khawatir." Kata Sahara membuat Arjuna tersenyum mendengarnya
"Kamu lebih dari apapun Ra, aku selalu takut kalau sesuatu sampai terjadi pada kamu sama seperti kamu yang mencemaskan aku ketika kecelakaan waktu itu." Kata Arjuna dengan penuh pengertian
"Ara merasa jahat." Kata Sahara
"Tidak papa sayang asal jangan kamu ulangi lagi hmm?" Kata Arjuna
"Iya tidak lagi. Ara sedih karena dimarahi sama Mas Juna dan Daddy dada Ara sampai sesak." Kata Sahara jujur
Arjuna tersenyum mendengarnya, begitulah Sahara selalu menyesal pada akhirnya.
Dia senang sekali karena meskipun mudah merajuk, tapi Sahara juga mudah membaik dan kembali bersikap seperti biasa.
Sebenarnya satu-satunya alasan Arjuna marah karena wanita itu sakit, dia tidak bisa melihat istrinya dengan wajah pucat apalagi sampai pingsan seperti kemarin rasanya benar-benar menyakitkan.
"Kami marah karena kami sayang kamu Ra dan kami tidak mau melihat kamu sakit apalagi kemarin kamu sampai pingsan, bisa bayangkan gimana cemasnya kami?" Tanya Arjuna yang dijawab dengan anggukan singkat oleh istrinya
Terbayang seperti apa cemasnya Arjuna karena jangankan pingsan dia mengeluh sakit kepala saja suaminya sudah panik bukan main, dia memang keterlaluan.
"Meskipun tidak terlalu parah, tapi tetap saja kami cemas dan khawatir." Kata Arjuna lagi
"Emm Ara tau makanya Ara minta maaf karena sudah membuat Mas Juna cemas dan kecewa." Kata Sahara dengan raut wajah penuh penyesalan
"Tidak papa sudah jangan diingat lagi yang penting kamu sudah sembuh sekarang." Kata Arjuna membuat Sahara tersenyum senang
"Menurut Mas Juna kita perlu kasih tau Ana sama Angga tentang bayi kita di dalam sini?" Tanya Sahara sambil mengusap perutnya
"Sepertinya akan lebih menyenangkan kalau itu dijadikan kejutan sayang dan biarkan mereka terus berdebat itu lucu." Kata Arjuna membuat Sahara tertawa, tapi dia membenarkan ucapan suaminya
Lalu mereka menghabiskan sisa perjalanan dengan banyak pembicaraan yang menyenangkan.
¤¤¤
"Omaa Kakak nakall sama Anaaa"
Suara rengekan Alana menggema di rumah keluarga Dirgantara bersamaan dengan anak cantik itu yang berlari menuruni tangga membuat Clara berseru heboh. Baru ingin memperingati Alana agar berhenti berlari anak itu sudah lebih dulu tersungkur ketika sampai di anak tangga terakhir.
Sesaat setelahnya suara tangisan terdengar membuat Clara langsung berlari ke arahnya dengan wajah panik dan Airlangga yang ikut berlari menuruni tangga ketika melihat adiknya terjatuh. Tangisan Alana mengeras ketika suara Clara yang menanyakan keadaannya terdengar dia merasa tangan dan kakinya sakit.
"Omaaa"
"Ya ampun Ana sudah Oma bilang jangan lari-lari apalagi kamu turun tangga." Kata Clara yang langsung menggendongnya
"Omaa cakittt"
"Iya sayang sini Oma lihat dulu." Kata Clara
Mendudukkan cucunya di sofa Clara melihat tangan dan kaki cucunya yang terlihat baik-baik saja, tapi Alana terus menangis dan mengeluh sakit.
"Ana kenapa?" Tanya Airlangga
Melihat Kakaknya Alana langsung menatapnya dengan raut wajah sedih lalu menyalahkan Airlangga karena dia jatuh.
"Gala-gala Kakak! Ana jatuh gala-gala Kakak! Nakal nakal Oma Kakak nakal." Kata Alana mengadu
Menghela nafasnya pelan Clara ingin memeluk cucunya, tapi ketika menyenggol tangannya Alana meringis sakit dan kembali menangis.
"Oma cakitt"
Merasa cemas Clara jadi bingung karena tidak ada luka, apa mungkin tangan cucunya terkilir?
"Maaf Ana." Kata Airlangga sambil medekat ke arah adiknya
"Nakal! Nanti Ana gak mau main cama Kakak lagi kalau punya adik balu." Kata Alana sambil memukul lengan Airlangga dengan satu tangannya yang tidak terasa sakit
__ADS_1
Tidak ada perlawanan Airlangga hanya membiarkan adiknya memukul lengannya karena dia juga merasa bersalah.
"Maafin Kakak"
"Ana bilangin Mamii cama Papi!" Kata Alana lagi
"Ana sudah ya? Sini Oma lihat lagi tangannya." Kata Clara
"Cakit Oma." Keluh Alana
Akhirnya Clara memutuskan untuk memanggil Bi Tuni salah satu pekerja rumah tangga yang dulunya memang sering mengurut. Saat wanita yang sudah cukup tua itu datang dan meraih tangan Alana hingga membuatnya meringis dia memegang pergelangan tangan itu lalu sedikit menekannya membuat Alana berseru karena merasa sakit.
"Oma enggak mau cakitt." Kata Alana sambil menangis
"Oma Ana kenapa?" Tanya Airlangga takut dan cemas
"Terkilir?" Tanya Clara memastikan
Bi Tuni mengangguk membuat Clara menghela nafasnya pelan dan meminta wanita itu untuk mengurur lengan cucunya.
Mengangguk faham Bi Tuni bergegas pergi ke kamarnya untuk mengambil minyak dan langsung kembali membuat Alana merasa takut hingga berusaha menghindar.
"Oma takut Ana enggak mau cakitt." Kata Alana sambil memasang wajah memelasnya
"Biar sembuh sayang nanti gak sakit lagi." Kata Clara dengan lembut
Akhirnya dengan sedikit paksaan Alana duduk kembali, tapi dia menangis keras karena merasa sakit membuat Airlangga yang melihatnya merasa takut juga cemas.
"Oma cudahh engakk mau cakit." Rengek Alana sambil menangis
"Oma kenapa?" Tanya Airlangga sedih
"Tidak papa sayang nanti Ana akan sembuh." Kata Clara menenangkan
Setelah selesai Alana masih dengan isakannya langsung memeluk Clara membuat wanita paruh baya itu tersenyum penuh arti dan mengusap sayang puncak kepala cucunya.
"Cakit Oma"
"Nanti sembuh sayang." Kata Clara sambil mencium puncak kepalanya dengan sayang
"Oma mata Ana pelih." Kata Alana
Tentu saja dia habis menangis pasti matanya perih.
"Kita tidur saja ya? Sambil menunggu Mami sama Papi datang." Kata Clara
Alana hanya mengangguk, tapi tetap menempel pada Clara membuatnya tidak punya pilihan lain selain menggendong cucunya sampai ke kamar. Dibelakangnya Airlangga mengikuti mereka dia merasa bersalah karena tadi Alana berlari karena ulahnya yang nakal dan sekarang adiknya kesakitan.
Sampai di kamar Alana langsung dibaringkan di ranjang tidak lupa Clara menyelimuti tubuh cucunya dan mengusap puncak kepalanya hingga anak itu mulai terlelap. Setelah benar-benar tertidur Clara menoleh dan melihat wajah murung Airlangga, anak itu sayang sekali dengan adiknya.
"Ada apa Angga?" Tanya Clara
"Oma aku jahat ya? Ana sakit karena Angga kan? Tadi Ana jatuh karena lari dan Angga yang buat dia sampai lari-lari turun tangga." Kata Airlangga
"Tidak cucu Oma tidak jahat, jangan sedih sebentar lagi Ana anak baik-baik saja hmm?" Kata Clara sambil tersenyum menenangkan
"Nanti Angga kena marah sama Mami dan Papi." Katanya takut
"Tidak nanti Oma yang bilang ya?" Kata Clara
Airlangga mengangguk lesu lalu mendekat ke arah Alana dan mencium keningnya dengan sayang membuat Clara tersenyum melihatnya.
"Ana maafin Kakak ya?"
Manis sekali mereka berdua
¤¤¤
Haii maaf yaa gak update :(
Btw ini aku up di jam setengah sepuluh dan gak tau kapan bakal selesai review nya😂
Makasih yang mau nungguin cerita ini update❤
__ADS_1
Kalau tengah malam updatenya gak papa ya haha😆