
"Alana sudah berapa kali Mami bilang jangan!"
Wajah anak itu memerah menahan tangis ketika Sahara berkata dengan nada tinggi kepadanya apalagi tatapan matanya membuat dia takut, mendadak Sahara jadi galak. Beberapa saat yang lalu Alana sedang menemani Sahara di kamar dan melihat Mami nya yang sedang menggambar.
Awalnya Alana hanya diam dan mengajak Mami nya mengobrol, tapi ketika sudah bosan dia minta untuk dibuatkan susu. Setelah dibuatkan Alana naik kursi dan berdiri sambil memperhatikan jari-jari lentik Sahara menggambar di atas kertas juga dengan susu ditangannya.
Berkali-kali Sahara mengatakan agar anaknya itu menghabiskan dulu susunya karena takut Alana yang berdiri terjatuh juga susu yang dia pegang tumpah ke atas meja, tapi anaknya itu tidak menurut. Akhirnya Sahara hanya membiarkan, tapi ketika Alana ingin mengambil pensil lain dan kertas dia mengatakan jangan hanya saja Alana ngeyel.
Alana meletakkan susunya lalu berusaha mengambil pensil dan kertas hingga akhirnya menyenggol susu yang ada di meja. Semua sketsa yang telah Sahara gambar basah hingga membuat kepalanya pening mendadak dan memarahi anaknya.
"Mami sudah bilang jangan Alana kenapa tidak menurut?" Tanya Sahara
Alana mengerucutkan bibirnya dengan mata memerah karena menahan tangis, tapi Sahara tidak melihatnya.
"Sudah Alana turun duduk dulu di sofa biar Mami bersihkan." Kata Sahara
Merasa anaknya belum beranjak juga Sahara menghela nafasnya pelan lalu menatapnya, tapi ketika melihat anaknya seperti ingin menangis dia menghela nafasnya pelan.
"Jangan nangis Ana." Kata Sahara sambil berusaha untuk tersenyum
"Mami jahat malahin Ana! Ana bilang cama Papi!" Kata Alana dengan wajah sedihnya
Sahara memijat dahinya pelan lalu menghampiri anaknya, tapi Alana malah menangis kemudian memukulnya dan berlari keluar dari kamarnya.
"Papiii"
Menghela nafasnya panjang Sahara memilih untuk merapihkan meja serta lantai yang kotor karena susu Alana yang tumpah. Memasukkan semua sketsa yang tadi dia gambar dan sekarang sudah basah terkena air Sahara mendadak pusing memikirkan waktu yang sudah semakin mepet.
Seharusnya Sahara menggambar sketsa terakhir sebelum menyerahkan ke rumah produksi besok, tapi sekarang dia harus mengundurnya dan lagi dia harus berusaha untuk membujuk Alana agar tidak merajuk.
"Ara"
Suara Arjuna membuat Sahara yang sedang mengelap meja mendongak dan menatapnya sambil tersenyum. Suaminya memang ada di rumah dan tadi dia sedang bersama Airlangga di taman belakanga, bermain bola.
"Hmm Ana nangis ya? Dia masih menangis?" Tanya Sahara pelan
Arjuna menggelengkan kepalanya pelan dan mengatakan kalau Alana sedang pergi di antar Bi Yuni bersama Airlangga untuk membeli jajan.
"Ada apa hmm?" Tanya Arjuna lembut
Sahara tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku lagi gambar sketsa tinggal satu lagi terus Alana naruh susu di meja dan kesenggol karena dia mau ngambil pensil jadi tumpah semua terus refleks aku marahin dia, nanti aku minta maaf sama Ana." Kata Sahara
Dia berjalan menuju kamar mandi untuk mengambuil lap pel lantai juga lap kering untuk mengeringkan mejanya.
"Hanya satu kan?" Tanya Arjuna
Sahara tersenyum lalu tertawa kecil sambil menjawab bahwa semua sketsanya basah dan rusak.
"Semuanya"
"Masih ada waktu untuk menyelesaikannya kan?" Tanya Arjuna lagi
"Harusnya besok sudah aku bawa ke rumah produksi, tapi gak masalah bisa diundur beberapa hari." Kata Sahara membuat Arjuna menatapnya dengan cemas
Arjuna tau beberapa hari tidak mungkin cukup dan kalaupun cukup itu artinya Sahara harus begadang untuk menyelesaikannya.
"Jangan khawatir Mas aku gak akan begadang, aku ingat kok kalau ada anak kita disini." Kata Sahara sambil mengusap perutnya
Tersenyum manis Arjuna memeluk istrinya sebentar lalu meminta Sahara untuk duduk saja dan biarkan Bi Yuni saja, tapi Sahara menolak dia tetap melanjutkan kegiatannya.
"Jangan cemaskan Alana nanti dia akan bersikap biasa lagi." Kata Arjuna
"Hmn aku rasa tidak tadi aku sedikit membentak dan sepertinya harus ada permintaan maaf." Kekeh Sahara
"Ada yang kamu inginkan Ra? Tadi kamu hanya makan siang sedikit." Kata Arjuna
Belakangan ini Sahara memang hanya memakan sedikit dari porsi biasanya dan hal itu membuat Arjuna sedikit cemas.
"Apa ya? Kayaknya belum ada deh Mas." Kata Sahara
Setelah selesai membersihkan mejanya Sahara pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan lalu menghampiri Arjuna yang masih berada di kamar mereka. Mengingat anaknya sedang di luar Sahara menghampiri suaminya dan memeluk dari samping, dia lelah sekali.
Sepertinya dia akan sangat sibuk beberapa hari belakangan sketsanya sudah rusak dan dia harus menggambar lagi sejak awal. Masalahnya pasti gambarannya nanti akan berubah karena Sahara tidak mengingat setiap detail dari sketsa yang digambarnya.
"Kepala Ara pusing." Kata Sahara pelan
Mendengar hal itu Arjuna cemas dan langsung membuat Sahara untuk menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Pusing banget?" Tanya Arjuna
"Hanya sedikit." Kata Sahara
"Tidur saja dulu ya?" Pinta Arjuna yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Sahara
Baru akan berbaring tiba-tiba saja Sahara merasa mual dan langsung dia pergi ke kama mandi membuat sang suami langsung mengikutinya.
Semua yang Sahara makan dia keluarkan hingga sekarang Sahara seperti kehilangan kekuatannya, dia lemas sekali dan kepalanya semakin sakit.
Sahara hampir linglung dan jatuh kalau saja tidak ada Arjuna yang menahannya dan langsung membawa ke kamar.
Mata Sahara terpejam berusaha untuk meredam rasa sakitnya ketika dia membuka mata.
Selalu seperti itu kalau dia kebanyakan menunduk.
"Ada yang sakit sayang?" Tanya Arjuna
"Pusing"
"Perutnya? Masih mual?" Tanya Arjuna lagi
"Sedikit"
"Tunggu ya aku ambilkan air hangat dulu." Kata Arjuna yang hanya ditanggapi dengan gumaman oleh istrinya
Beberapa saat setelahnya Arjuna membantu Sahara untuk minum air hangat lalu membaringkan istrinya lagi.
"Sekarang jadi lapar." Keluh Sahara
"Mau makan apa?" Tanya Arjuna dengan cepat
"Tapi, malas makan." Kata Sahara manja
"Makan ya? Biar aku masakin kamu mau makan apa?" Tanya Arjuna dengan lembut
"Mau makan roti aja." Kata Sahara
Mengangguk singkat Arjuna bergegas pergi ke dapur untuk mengambilkan roti dan bersamaan dengan itu anak-anaknya datang. Ada Alana yang tersenyum senang sambil menunjukkan ice cream yang dia bawa.
"Papi Ana beli es klim." Kata Alana dengan semangat
Arjuna mengangguk sambil tersenyum lalu mengambil roti yang ada di lemari.
"Ana sama Angga main berdua dulu ya? Papi mau lihat Mami." Kata Arjuna
"Kenapa dilihat Papi?" Tanya Airlangga
"Mami lagi sakit sayang." Kata Arjuna sambil mengusap rambut kedua anaknya
Setelah mengambil roti yang dia butuhkan Arjuna bergegas pergi ke kamar dan menghampiri Sahara.
"Ra ini makan dulu rotinya biar perut kamu gak sakit karena kosong." Kata Arjuna sambil mengusap lembut pipinya
Membuka matanya Sahara tersenyum lalu bangun dari tidurnya dan bersandar di kepala ranjang.
"Makasih Mas"
Setelahnya Sahara mulai memakan roti yang suaminya bawakan, terkadang dia kesal karena tubuhnya yang lemah dan mudah sekali sakit terutama ketika sedang hamil. Beruntung dia punya Arjuna yang selalu menemaninya tanpa mengeluh, satu-satunya hal yang membuat Arjuna mengeluh hanya Sahara yang selalu makan sembarangan.
"Anak-anak udah pulang?" Tanya Sahara
"Udah mereka lagi makan ice cream dibawah." Kata Arjuna
"Ice cream lagi?" Tanya Sahara tidak percaya
"Seperti kamu suka sekali ice cream." Kata Arjuna membuat Sahara tersenyum tipis
"Aku mau ice cream juga"
Arjuna tertawa mendengarnya Sahara memang mirip sekali dengan anak-anaknya.
¤¤¤
Merasa lemas dan malas untuk keluar kamar Sahara memilih untuk berdiam diri sambil berbaring di ranjang empuknya ketika yang lain tengah makan malam di bawah. Malam ini Sahara tidak memasak makan malam, tapi suaminya yang memasak karena dia benar-benar malas untuk bergerak.
Setiap habis muntah Sahara akan sangat malas untuk melakukan apapun, dia merasa sangat lemas hingga hanya ingin berbaring di ranjang kamarnya. Namun, dia baru ingat kalau dia belum menemui Alana dan mengajak anaknya itu berbicara.
Di sisi lain wajah Alana terlihat murung ketika tidak melihat Mami nya di kamar apalagi ketika Papi nya mengatakan bahwa Mami nya sedang sakit, dia jadi sedih.
__ADS_1
Apa semua karena dia yang tadi nakal?
Tadi Mami nya baik-baik saja sampai Alana yang ngeyel menumpahkan susu di atas meja dan merusak gambaran Mami nya yang indah.
Apa semua salahnya?
"Papi"
Arjuna mendongak dan langsung terkejut melihat wajah murung Alana dengan uraian air mata.
"Ehh ada apa sayang?" Tanya Arjuna sambil menghampiri anaknya
"Maminya Ana mana?" Tanya Alana
"Di kamar lagi tidur." Kata Arjuna
"Mami cakit kalna Ana ya? Mami cakit kalna Ana nakal kan?" Tanya Alana dengan air mata yang mulai berjatuhan
Melihat hal itu Arjuna tersenyum lalu menggelengkan kepalanya dan menghapus air mata di pipi anaknya.
"Tidak sayang sudah jangan nangis nanti Papi dimarahin sama Mami kalau kamu nangis." Kata Arjuna
"Tapi Ana nakal telus abis Ana nakal Mami cakit." Kata Alana sambil menangis
"Tidak Ana"
"Mami malah cama Ana ya Papi?" Tanya Alana lagi
"Tidak sayang." Kata Arjuna
Menghela nafasnya pelan Arjuna berdiri dan langsung memeluk tubuh anaknya yang sedang menangis. Di tempatnya Airlangga menatap dengan bingung, tapi dia tetap turun dan menghampiri keduanya.
"Mami cakit kalna Ana kan?" Tanya Alana lagi
"Dengar ya sayang? Kalian tau kan kalau di perut Mami ada adik bayi?" Tanya Arjuna dengan lembut
Kedua anaknya mengangguk membuat Arjuna tersenyum lalu mengusap sayang puncak kepala anak-anaknya.
"Mami mudah lelah karena ada adik bayi di dalam perutnya dan anak-anak Papi harus jadi anak baik hmm? Jangan membantah perkataan Mami ya?" Kata Arjuna membuat keduanya kembali mengangguk
"Ana mau cama Mami." Kata Alana masih dengan tangisnya
Tersenyum singkat Arjuna menghapus air mata anaknya lalu mencium keningnya sebentar dan mengajak keduanya untuk pergi ke kamar, menemui Sahara.
Saat sampai di depan kamar Alana langsung membuka pintu dan berlari ke dalam membuat Sahara sedikit tersentak apalagi melihat anaknya menangis.
"Ehh kenapa anak Mami menangis hmm?" Tanya Sahara
Alana naik ke atas ranjang lalu memeluk Sahara dengan erat.
"Mami maapin Ana ya? Ana nakal cama Mami." Kata Alana sedih
Tersenyum manis Sahara membalas pelukan anaknya dan mengusap sayang punggungnya.
"Jangan nangis sayang Mami tidak papa." Kata Sahara
"Ana bakal nulut sama Mami tidak mau nakal lagi." Kata Alana semakin mengeratkan pelukannya
Sahara tersenyum lalu menatap sang suami yang juga sedang tersenyum padanya dan Airlangga yang menatap ke arahnya.
"Sudah Ana jangan nangis." Kata Sahara
"Mami jangan cakit." Kata Alana
"Iya tidak sayang Mami sudah sembuh." Kata Sahara
Alana menjauh lalu menatap Sahara dengan penuh harap.
"Cudah cembuh?" Tanya Alana
Sahara tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Sudah dong kan habis dipeluk sama Ana." Kata Sahara
Senyum Alana mengembang dengan sempurna dia kembali memeluk Sahara.
"Cayang Mami"
Astaga menggemaskan sekali anaknya.
__ADS_1
¤¤¤
Maaf karena udah dua hari gak update😢