
Jantungnya berdetak dengan sangat cepat wajahnya menunduk dan kedua jari tangannya bertautan saling memainkan untuk menghilangkan rasa gugup juga takut. Tepat disampingnya seorang pria dengan rahang mengeras mencengkram stir mobil dengan begitu kuat dan melaju membelah jalanan dengan kecepatan tinggi.
Raut wajahnya menggambarkan kemarahan dan tatapan matanya juga dipenuhi emosi yang mendalam, semua karena kesalahannya. Setelah membuat gaduh di sebuah acara mereka pergi dan dia harus menyiapkan diri untuk segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.
Diandra dan Gibran.
Mereka berdua baru saja pergi dari acara peresmian wedding organizer milik salah satu teman Gibran dan disana tanpa sengaja Diandra bertemu seseorang yang sangat dia kenal. Namanya Sagara dia salah satu teman baik Diandra ketika SMA dan mereka cukup dekat, tidak malah sangat dekat dan pernah menjalin kasih juga.
Awalnya mereka hanya berbincang sampai akhirnya ketika cahaya mulai menggelap karena musik mulai terdengar dan beberapa orang sibuk berdansa. Pria bernama Sagara itu mengajak Diandra berdansa dan mereka melakukannya dengan diikuti tatapan tajam milik Gibran.
Mereka berdansa mengikuti alunan musik sambil mengobrol tentang banyak hal hingga ditengah-tengah musik yang mengalun Sagara mengatakan kalau dia merindukan Diandra lalu tangan yang sebelumnya ada di pinggang Diandra merambat naik ke lehernya. Di tengah keterkejutannya Diandra hanya diam bahkan ketika Sagara mendekatkan wajahnya sampai dia merasa Sagara ditarik menjauh secara paksa.
Suara umpatan terdengar bersamaan dengan pekikan orang-orang yang menyadarkan Diandra bahwa Gibran baru saja memukul Sagara.
"Brengsek!"
Masih dengan wajah terkejutnya tangan Diandra di tarik paksa lalu dia mengikuti langkah kaki Gibran yang begitu cepat membawanya keluar dari gedung. Wajah pria itu memerah karena amarah dan Diandra hanya bisa menurut sambil menahan sakit ditangannya karena genggaman yang begitu erat.
Dan disinilah mereka sekarang.
Mobil Gibran saat ini berhenti di area apartemen dan setelah memarkirkan mobilnya dia kembali membawa Diandra ke apartemen miliknya. Di dalam lift Diandra tetap diam sambil sesekali melirik Gibran yang rahangnya mengeras dan sebelah tangannya yang terkepal kuat.
Berhenti di lantai tiga Gibran membawanya ke apartemen miliknya dan jantung Diandra berdetak semakin cepat ketika Gibran mendudukkan dengan paksa di sofa. Wajahnya memerah dia lalu pergi ke dapur dan membuka kulkas meminum air dingin yang ada di dalam sana lalu kembali menghampiri Diandra.
"Jadi karena pria brengsek itu?" Tanya Gibran marah
"Kak...."
"Karena dia kamu berbulan-bulan menggantung aku dan tidak memberikan jawaban atas lamaran yang selalu aku tanyakan?!" Tanya Gibran lagi
Diandra menggelengkan kepalanya pelan, bukan itu alasannya.
"Kak bukan gitu...."
"Lalu apa Diandra?! Katakan apa?!" Tanya Gibran
"Aku... aku dan Sagara hanya..."
"Jangan sebut nama pria brengsek itu dihadapanku!" Kata Gibran marah
Diandra memejamkan matanya ketika Gibran mengatakan hal itu dengan nada tinggi seolah membentaknya.
"Pria itu menyentuh kamu dan ingin mencium kamu, tapi kenapa kamu hanya diam?! Apa kamu suka dengan pria brengsek itu?" Tanya Gibran lagi
Pria itu seolah dipenuhi dengan emosi yang tidak bisa Diandra atasi.
"Tidak Kak..."
"Aku menunggu kamu Diandra, sudah berbulan-bulan sejak aku melamar kamu dan tidak diberikan jawaban apapun." Kata Gibran dengan suara yang semakin mengecil
Diandra hanya diam dan menundukkan wajahnya tanpa mau bicara banyak hal, dia takut salah bicara dan malah membuat Gibran semakin marah.
Nafas Diandra tertahan ketika Gibran duduk disampingnya meraih tubuhnya dan membuat dia berhadapan dengan tubuh kekarnya. Jari telunjuk Gibran menyentuh dagunya dan menariknya agar Diandra bisa menatap matanya.
Mungkin Gibran akan menyesali hal ini nanti, tapi dia tidak peduli.
"Kamu hanya milik aku Diandra! Aku bisa melakukan apapun untuk membuat kamu menjadi milik aku!" Kata Gibran dengan penuh penekanan
Wajah Gibran mendekat dan membuat Diandra menahan nafasnya untuk sesaat apalagi ketika deru nafas pria itu mengenai lehernya. Tangan kecil Diandra memegang lengan kekar Gibran ketika bibir pria itu menyentuh lehernya.
Digigitnya bibir bawahnya untuk menahan suara yang ingin dia keluarkan ketika sebuah kecupan mendarat di leher jenjangnya. Beberapa kali Gibran mengecup lehernya sebelum dia menjauhkan wajahnya dan menatap Diandra lagi, menyatukan kedua dahi mereka lalu mengusap pipinya dengan lembut.
"Kenapa Ra? Kenapa kamu tidak pernah mau memberikan jawaban? Apa kamu meragukan perasaanku?" Tanya Gibran
Dia rela menunggu selama berbulan-bulan untuk jawaban atas lamarannya, tapi hari ini dia malah melihat wanita yang sudah dia lamar hampir dicium oleh lelaki lain.
"Tidak Kak bukan begitu aku...."
Perkataannya dibungkam dengan ciuman menggebu Gibran tangan kekar pria itu berada dipinggang dan menariknya semakin dekat lalu kedua tangan Diandra dibawa untuk melingkar di lehernya. Saat Diandra hanya diam Gibran menggigit bibir bawahnya pelan dan membuat Diandra refleks membuka mulutnya hingga berhasil membuat pria itu memperdalam ciumannya.
"Mmhh... Kak... sudah..."
Diandra berusaha bicara ditengah ciuman mereka, tapi Gibran tidak mau berhenti dan malah mengangkat tubuh mungil Diandra, membawanya untuk duduk dipangkuannya.
__ADS_1
Semakin ditarik mendekat Diandra merasa semakin takut juga cemas kalau mereka akan melewati batas. Saat merasa Diandra hampir kehabisan nafas Gibran menjauhkan wajahnya dan mereka berdua sama-sama terengah.
Sekali lagi Gibran menarik dagu Diandra agar wanita itu menatapnya dan sial dia semakin menggila ketika melihatnya.
Tatapan sayu dan bibirnya yang sedikit membengkak serta merah di lehernya membuat Gibran semakin menggila.
"Kamu cantik sekali Diandra." Kata Gibran sambil mengusap bibir bawah Diandra dengan gerakan lembut dan perlahan
"Kak aku..."
Lagi perkataannya terputus ketika Gibran berdiri dan menggendongnya dia semakin cemas ketika pria itu membuka pintu, memasuki kamar yang cukup luas. Perlahan Diandra dibaringkan di atas ranjang dan Gibran menatapnya dalam diam, memuji kecantikan Diandra di dalam hatinya.
"Kamu mencintai aku Diandra?" Tanya Gibran
Diandra menatapnya sebentar lalu menganggukkan kepalanya.
"Siapa pria brengsek tadi?" Tanya Gibran
"Sag..."
"Bukan namanya!" Tegas Gibran
"Teman sekolah aku." Kata Diandra
"Kalian pernah berpacaran?" Tanya Gibran lagi
Diandra hanya mengangguk sebagai jawaban dan hal itu membuat rahang Gibran semakin mengeras.
"Kamu tau sesuatu Diandra?" Tanya Gibran sambil mendekatkan wajahnya dan membelai wajah cantik Diandra dengan jari telunjuknya
Diandra menggelengkan kepalanya pelan.
"Now you're my baby"
Gibran mengatakannya sambil berbisik lalu kembali berhenti di leher Diandra dan mengecupnya sekali.
Kembali menatap wajah Diandra yang terlihat memerah Gibran kembali menciumnya dengan begitu lembut, tapi menggebu-gebu.
"Dan tidak boleh ada orang lain yang menyentuh kamu atau berfikir untuk memiliki kamu." Kata Gibran
"Berhenti bicara kata tidak Diandra!" Kata Gibran marah
Diandra menahan nafasnya kala telunjuk Gibran membelai wajahnya dan terus turun hingga ke lehernya.
Gibran yang sebelumnya duduk di tepian ranjang mulai naik dan berada di atas Diandra lalu mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. Nafas Diandra tertahan lalu dia menggelengkan kepalanya pelan, memohon agar Gibran berhenti, tapi sayangnya yang dia dapat malah ciuman di bibirnya.
Tubuh Gibran terus mendekat dan menuju punggungnya dia menjauhkan wajahnya, menatap Diandra yang kembali menggelengkan kepalanya pelan. Sayangnya wajah memerah, bibir yang sedikit membengkak, rambut berantakan, dan merah di lehernya membuat Gibran semakin dilanda gairah.
Diangkatnya sedikit tubuh Diandra bersamaan dengan Gibran yang menarik resleting gaun berwarna biru muda yang dia pakai.
"Kak jangan"
Tidak memberikan tanggapan Gibran menarik turun gaun itu dari tubuh Diandra lalu kembali menatapnya dan sial dia tidak bisa menahan diri lagi. Suara lenguhan Diandra terdengar ketika Gibran kembali menyerang leher jenjangnya memberi banyak kecupan disana.
"Kamu milik aku Diandra"
Gibran berbisik ditelinga Diandra sambil menggigitnya pelan.
"Kak jangan..."
"I can't stop"
Sekali lagi Gibran mencium bibir gadisnya yang membuatnya candu, bibir yang membuatnya terobsesi dengan Diandra dan hampir gila kalau melihat dia bersama pria lain selain dirinya. Tangan Gibran mulai menjelajah ke bagian-bagian tubuh Diandra membuat wanita itu menahan nafasnya dengan tatapan sayu juga wajah memerah sempurna.
Dia takut dan cemas.
Diandra berharap Gibran tidak akan berbuat lebih jauh.
Tapi, ketakutannya semakin muncul ketika Gibran menjauhkan dirinya dan menatap dengan penuh gairah.
Nafas pria itu terngah rambutnya juga berantakan bibirnya basah karena ciuman mereka membuat Gibran terlihat begitu menawan.
Dia yakin ada banyak sekali wanita yang rela menyerahkan tubuhnya untuk Gibran kalau mereka melihat hal ini, tapi yang jelas Diandra bukan salah satunya.
__ADS_1
Diandra sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau dia tidak akan menikah, dia tidak akan percaya pada sebuah hubungan lagi.
Rasa takut kembali menguasi diri Diandra ketika Gibran melepas jas nya lalu melemparnya asal dia juga menarik lepas dasinya dan membuka satu persatu kancing kemeja putihnya. Nafas Diandra tertahan ketika perut kotak-kotak itu terlihat dengan begitu jelas dan dada bidang Gibran yang sialnya malah membuat fia berfikir kalau akan sangat nyaman untuk bersandar disana.
"Kamu menyiksa aku Diandra." Kata Gibran dengan suara seraknya
Diandra ingin bangun, tapi Gibran langsung menangkap kedua tangannya menyatukan dan membawa tangan mungilnya ke atas kepala.
Dengan cepat Diandra menggelengkan kepalanya ketika Gibran mengambil dasi yang telah dia lepas lalu mengikat tangannya hingga dia tak bisa berkutik.
"Kak..."
"Sstt jangan panggil aku Kakak sayang." Kata Gibran sambil mengusap pipi Diandra dengan jari telunjuknya
"Call me Daddy"
Diandra kembali menggelengkan kepalanya, dia mulai takut.
"Kak aku.... ehmm jangan Kak...."
Tubuh Diandra bergerak gelisah ketika Gibran menyentuhnya disana dan menekannya cukup kuat.
"Jangan panggil aku Kakak!" Tekan Gibran lagi
"Tapi, Kak... ahh jangann"
"Masih mau memanggil aku Kakak?" Tanya Gibran lagi
Gibran mendekatkan wajahnya lagi lalu berbisik di telinga Diandra dengan suara seraknya.
"Call me Daddy"
Diandra baru ingin mengatakan sesuatu, tapi Gibran kembali menyentuhnya disana dan membuatnya semakin frustasi.
"Daddy ehmm berhentii"
Senyum Gibran terbentuk dia kembali menatap wajah Diandra.
Kenapa Diandra bisa membuatnya segila ini?
"Hmmpp"
Sekali lagi Gibran mencium Diandra dengan penuh gairah membuat Diandra berusaha melepaskan tangannya yang terikat.
Entah berapa lama, tapi ketika ciuman mereka terlepas Gibran dengan segera menanggalkan semua pakaiannya dan melepaskan semua dalaman milik Diandra juga.
Hingga mereka benar-benar polos sekarang.
Mata Gibran dipenuhi kabut gairah sedangkan Diandra semakin cemas dia menggelengkan kepalanya pelan, tapi Gibran malah menindih tubuhnya. Pria itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Diandra dan menciumnya beberapa kali sebelum menjauhkan wajah lalu menatap Diandra lagi.
"Ini hukuman untuk kamu karena sudah membiarkan pria lain menyentuh kamu"
Setelah perkataan itu Diandra meringis kesakitan karena merasa begitu sakit dan perih di bagian bawahnya. Nafasnya terasa berat dia seperti ingin pingsan, tapi ciuman dibibirnya membuatnya Diandra tetap membuka matanya.
Rasa sakit bercampur nyeri menguasai dirinya apalagi ketika Gibran mulai bergerak.
"Jangan pernah dekat dengan pria selain aku." Kata Gibran setelah dia menjauhkan wajahnya
Mata Diandra terpejam ketika rasa sakit itu perlahan menghilang.
Suara desahan mereka berdua saling bersautan di apartemen ini, semua berawal dari rasa cemburu.
Satu hal yang sama-sama keduanya yakini.
Mereka akan menyesali hal ini nantinya.
¤¤¤
TANGANKU GEMETERAN NGETIKNYA😭
Sumpah ini aku udah nulis dari malam, tapi baru selesai sekarang karena BINGUNGG😂
Udah yaa jangan nanya lagii gimana prosesnya terus terus terus teruss😂
__ADS_1
Nanti aku memang mau buat cerita khusus mereka berdua, tapi nanti masih dalam proses😋
MASIH GEMETARAN INI TANGANNYA!