Sahara In Love

Sahara In Love
S2 (40)


__ADS_3

Berada di ruang persalinan untuk yang kedua kalinya membuat Arjuna merasa begitu gugup juga cemas ketika menyaksikan istrinya yang sedang berjuang untuk melahirkan anak ketiga mereka. Seharusnya masih tiga hari lagi dari hari yang diperkirakan, tapi ternyata lebih cepat dan hal seperti ini memang biasa terjadi karena sekali lagi itu hanya perkiraan saja.


Sekitar pukul sembilan setelah sarapan Sahara pergi ke kamar mandi dan tak lama setelahnya dia mendengar suara ringisan yang membuat Arjuna bergegas pergi ke kamar mandi. Di dalam dia dapat melihat istrinya yang terduduk di lantai sambil memegangi perutnya dan meringis kesakitan.


Tentu saja Arjuna langsung membawa istrinya ke rumah sakit dan meminta Bi Yuni untuk membawa anak-anaknya ke rumah orang tuanya sambil mengabarkan kalau dia membawa Sahara ke rumah sakit. Sudah cukup lama Arjuna berada di ruang persalinan menunggu dan memberikan kata-kata semangat untuk istrinya.


"Kamu bisa Ra demi anak kita"


Nafas Sahara tidak beraturan dia menggenggam tangan Arjuna dengan begitu erat dan diusaha terakhirnya Sahara berteriak kencang bersamaan dengan suara tangis yang terdengar. Senyum Arjuna terbit dia langsung menatap Sahara yang terlihat begitu lemas dengan mata yang sayu, tapi perlahan sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.


"Anak kita sayang"


Tangan Sahara yang masih berada di genggaman tangan suaminya berkali-kali Arjuna cium dengan sayang.


"Selamat Pak anaknya perempuan"


Mendengar hal itu mereka berdua sama-sama tersenyum, tapi Sahara masih terlihat begitu lemas hingga tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.


Bolehkah Arjuna mengatakan kalau dia sangat bahagia?


Setelah itu Arjuna mencium kening Sahara sebentar lalu berlalu pergi keluar dari ruang persalinan untuk mengabari orang tua dan juga mertuanya yang menunggu di depan. Saat keluar dari ruang persalinan Arjuna langsung disambut dengan penuh antusias dan rentetan pertanyaan pun dia dapatkan membuat pria itu tersenyum tipis, banyak yang menanti kehadiran anaknya.


"Arjuna bagaimana persalinannya?"


"Apa berjalan dengan lancar?"


"Tidak ada sesuatu yang buruk kan?"


"Bagaimana keadaan Sahara?"


"Perempuan atau laki-laki?"


Menghela nafasnya pelan Arjuna menjawab pertanyaan itu satu persatu dan jawaban yang dia berikan membuat mereka semua merasa lega juga senang.


"Persalinannya berjalan dengan lancar dan tidak ada sesuatu yang buruk semua baik-baik saja, anak kami perempuan." Kata Arjuna


"Lalu dimana Sahara?" Tanya Fahisa


"Akan dipindah ke ruang perawatan Mami." Kata Arjuna membuat Fahisa menghela nafasnya lega


Semua mengucapkan syukur ketika mendengar keadaan Sahara yang telah membaik juga kehadiran bayi mungil berjenis kelamin perempuan yang lahir dengan selamat.


Keluarga Arjuna telah menambah satu anggota keluarga baru.


¤¤¤


Sudah satu jam berlalu sejak Sahara dipindahkan ke ruang perawatan dia masih terlihat lemas dan belum banyak bicara hanya tersenyum tipis sambil memperhatikan orang-orang yang terlihat begitu bahagia ketika melihat anaknya yang tertidur pulas. Sejak tadi Arjuna juga belum beranjak dari sisi Sahara dia duduk di dekat sang istri dengan menggenggam tangan Sahara yang terasa begitu lembut juga hangat.


Ucapan selamat terus Sahara terima yang hanya bisa dibalas dengan anggukan singkat juga senyuman tipis olehnya, dia benar-benar masih merasa lemas. Namun, tatapan mata suaminya membuat Sahara merasa menjadi wanita yang begitu spesial tatapan teduh yang Arjuna berikan juga ciuman di punggung tangannya yang sesekali pria itu berikan membuat Sahara merasa bahagia.


Kedua anaknya sedang pergi ke kantin bersama dengan Anjani untuk membeli makan karena ini sudah hampir masuk waktu makan siang.


"Lihat wajahnya benar-benar mirip Sahara." Kata Fahisa membuat Sahara yang mendengarnya ikut tersenyum


"Kamu benar dia sangat mirip dengan Sahara." Kata Clara


Arjuna membenarkan hal itu juga karena bayi mungil itu memang sangat mirip dengan istrinya terutama di bagian bibir.


Duplikat Sahara sekali.


"Mas"


"Iya? Kamu butuh sesuatu sayang?" Tanya Arjuna dengan lembut


Sahara mengangguk singkat lalu mengatakan dengan suara yang begitu pelan kalau dia haus dan dengan sigap Arjuna memberikan minum untuknya.


Setelah menenggak minumannya hingga habis Sahara kembali berbaring dan meraih tangan Arjuna memainkan jari tangannya sambil tersenyum.


"Mau tau nama anak kita sayang?" Tanya Arjuna membuat Sahara menatapnya dan mengangguk singkat


"Mau"


Arjuna tersenyum lalu mengusap pipi istrinya dengan sayang dan menyebutkan nama anak mereka yang sudah dia siapkan.


"Aluna Dirgantara"


Mendengar hal itu Sahara tersenyum, bagus sekali dia suka namanya.


"Alana dan Aluna." Kata Sahara sambil tersenyum


"Si cantik di keluarga kecil kita." Kata Arjuna


Mendekatkan wajahnya Arjuna mencium kening Sahara dengan lembut dan membuat istrinya itu memejamkan matanya.


"Apa Angga marah? Dia mau adik laki-laki." Kata Sahara

__ADS_1


Arjuna menggelengkan kepalanya pelan.


Awalnya Airlangga memang terlihat murung, tapi ketika Arjuna membawanya untuk melihat Aluna anak itu tersenyum dengan begitu lebar.


'Adiknya cantik seperti Mami dan Ana'


"Tidak sayang dia hanya sedikit murung, tapi setelah melihat Aluna dia merasa senang." Kata Arjuna membuat Sahara tersenyum senang ketika mendengarnya


"Aku lega mendengarnya." Kata Sahara pelan


Sesaat setelahnya Daffa datang menghampiri mereka berdua dan hal itu membuat Arjuna langsung berdiri, memberikan ruang untuk mertuanya bicara dengan sang istri. Senyum Sahara mengembang ketika Daffa duduk dan mengusap pipinya dengan lembut.


Terkadang Sahara merindukan saat dimana dia bersikap manja pada Daddy nya.


"Anak Daddy sekarang sudah punya anak tiga, tapi kenapa kamu masih sangat kecil Ra?" Tanya Daffa yang hanya ditanggapi dengan senyuman oleh anaknya


"Terima kasih sudah memberikan Daddy cucu yang sangat lucu dan begitu mirip dengan kamu." Kata Daffa


Sahara mengangguk singkat lalu menggenggam tangan Daddy nya yang berada di wajahnya.


"Kamu sehat terus ya? Jangan sampai sakit dan sering main ke rumah supaya Daddy tidak rindu." Kata Daffa


"Iya Dad"


Mengusap puncak kepalanya dengan sayang Daffa beranjak dari tempat duduknya dan pergi keluar karena ponselnya berdering. Setelah mertuanya keluar Arjuna kembali duduk di dekat Sahara dan menatapnya dengan senyuman.


"Mas Juna tidak lapar?" Tanya Sahara pelan


Arjuna menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak, tapi aku sudah menitip roti sama Anjani." Kata Arjuna


Mengangguk faham Sahara kembali menatap Fahisa juga mertuanya yang masih belum beranjak dari box bayi yang ada di dekat ranjangnya.


"Pasti dia akan sangat mirip dengan Alana." Kata Clara


Fahisa mengangguk setuju karena Aluna kecil memang sangat mirip dengan Alana ketika masih bayi.


"Mamiiii!"


Pintu ruangan yang terbuka juga seruan Alana membuat mereka semua menoleh dan menatap Alana dengan senyuman. Berlari kecil menghampiri Arjuna dia minta untuk dipangku dan setelah berada di pangkuan Arjuna anak itu tersenyum senang sambil menatap Sahara.


Lalu anak itu mulai bercerita dengan penuh kebahagiaan.


"Mamii adiknya lucu cekali, tapi kenapa kita tidak pulang? Ana mau tidul sama adik bayi." Kata Alana


Alana hanya mengangguk singkat sebagai jawaban.


"Mami tadi Ana cama Kakak makan ayam telus beli esklim diantelin cama Ante Jani." Kata Alana


Tersenyum tipis Sahara mengusap puncak kepala anaknya dengan lembut.


"Mamii nanti Ana tidul cini kan? Kata Papi Ana culuh pulang cama Oma, tapi Ana mau cama Mami dan adik." Kata Alana dengan bibir mengerucut


"Ana sama Oma ya?" Kata Sahara


"Mau dicini cama Mami." Kata Alana sedih


"Sama Oma aja hmm?" Pinta Sahara


Terdiam sebentar Alana lalu tersenyum dan mengangguk patuh, dia ingat perkataan Arjuna beberapa waktu lalu.


'Ana harus nurut apa kata Mami ya?'


"Tapi pagi-pagi Ana kecini lagi ya?" Kata Alana


"Iya sayang"


Tersenyum senang Alana minta diturunkan dan menghampiri Anjani yang sedang melihat adiknya. Menarik-narik ujung baju Anjani anak itu minta untuk digendong agar bisa melihat adiknya.


Setelah Alana pergi Airangga datang dia juga duduk dipangkuan Arjuna dan menatap Sahara dengan senyuman, tapi tidak mengatakan apapun. Dengan senyuman Sahara mengusap pipi tembam Airlangga sambil mencubitnya pelan.


"Angga tidak senang?" Tanya Sahara


"Senang adik bayinya lucu." Kata Airlangga dengan senyuman


"Tidak marah sama Mami?" Tanya Sahara lagi


Airlangga menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak Angga senang karena adiknya lucu seperti Ana." Kata Airlangga


Mendengar hal itu Sahara merasa lega, dia takut anaknya merajuk.


"Nama adiknya siapa Mami?" Tanya Airlangga dengan penuh semangat

__ADS_1


"Aluna"


Tersenyum lebar Airlangga mengatakan hal yang membuat kedua orang tuanya merasa senang.


"Angga sayang Aluna"


¤¤¤


Saat malam hanya tersisa Arjuna dan Sahara serta bayi mereka di ruang rawat karena hanya satu orang saja yang dibolehkan untuk menjaga. Meskipun sedikit sulit untuk membujuk kedua anaknya agar mau pulang bersama Fahisa, tapi akhirnya mereka luluh juga setelah Fahisa mengatakan akan langsung mengantar ke rumah sakit kalau mereka sudah bangun tidur.


Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul delapan dan Sahara sedang tertidur dengan begitu pulas, tapi Arjuna yang sama sekali belum mengantuk memilih untuk memperhatikan anak mereka yang juga terlihat lelap. Rasanya waktu berjalan dengan begitu cepat sepertinya baru kemarin mereka menyambut kelahiran Alana, tapi sekarang ada satu bayi lagi yang hadir.


Aluna Dirgantara.


"Hai baby kamu bisa dengar Papi?" Tanya Arjuna


Tentu saja tidak akan ada jawaban karena Aluna belum bisa berbicara.


"Papi tidak sabar melihat kamu tumbuh besar seperti Kakak Alana." Kata Arjuna dengan senyuman yang begitu lebar


Sudah berkali-kali Arjuna mengambil gambar anaknya yang benar-benar terlihat menggemaskan dengan pipi yang begitu tembam.


Berbeda dengan Alana yang lahir prematur Aluna terlihat lebih besar sama seperti Airlangga ketika lahir dulu, tapi mereka berdua terlihat sangat mirip.


Saat tengah asik memperhatikan anaknya suara Sahara terdengar membuat Arjuna bergegas menghampiri istrinya.


"Ada apa Ra? Kamu butuh sesuatu atau mau ke kamar mandi?" Tanya Arjuna


Sahara menggelengkan kepalanya pelan lalu menggenggam tangan Arjuna dan meminta pria itu untuk duduk.


"Mas Juna belum tidur?" Tanya Sahara pelan


"Belum ngantuk sayang." Kata Arjuna dengan senyuman


"Sudah makan malam?" Tanya Sahara lagi


"Sudah"


"Pakai apa?" Tanya Sahara


"Mie instan"


"Kenapa makan mie?" Tanya Sahara


"Tidak papa Ra sesekali." Kata Arjuna


Sahara mengangguk singkat lalu terdiam dan menatap Arjuna dengan senyuman.


"Kamu kenapa bangun?" Tanya Arjuna


"Gak ada yang peluk." Canda Sahara membuat Arjuna tertawa mendengarnya


Mengusap pipi Sahara dengan tangan yang lainnya Arjuna benar-benar menyayangi wanita ini dan selalu ingin menghabiskan waktu bersamanya.


"Ra"


"Hmm"


"Aku sayang sekali sama kamu Ra." Kata Arjuna


"Ara juga"


Mendekatkan wajahnya Arjuna mencium kening Sahara cukup lama lalu mengecup singkat bibirnya.


"Terima kasih banyak Ra karena sudah menjadi bagian dari hidupku dan memberikan begitu banyak kebahagiaan, aku bersumpah tidak akan pernah menyakiti atau meninggalkan kamu"


Sekali lagi Arjuna mengecup bibir Sahara dengan penuh kelembutan.


Tersenyum lebar Sahara menggenggam tangan Arjuna dan meletakkannya di pipi.


Dia selalu percaya bahwa Arjuna tidak akan pernah menyakitinya.


...The End...


¤¤¤


Iya ini enggak bohong memang bener-bener aku tamatin hehe😂


Makasih banyak untuk kalian yang sudah baca cerita ini dan kasih dukungan melalui vote juga comment❤


Aku minta maaf kalau banyak kekurangan di cerita ini dan kalau aku jarang update, i'm so sorry 💔


Aku gak pernah bikin cerita sampai sepanjang ini, tapi karena kalian aku berhasil bikin cerita sepanjang ini❤


Thank you soo muchhh😚

__ADS_1


Jadi, butuh extra parttt???


__ADS_2