Sahara In Love

Sahara In Love
S2 (29)


__ADS_3

"Tutup saja butiknya"


Perkataan itu membuat Sahara membulatkan matanya dan langsung menatap Daddy nya dengan raut wajah memelas, tapi sepertinya kali ini tidak akan berhasil karena wajah Daffa sangat-sangat tidak bersahabat. Rasanya Sahara mau menangis kalau butiknya benar-benar ditutup, bukan hanya masalah penghasilan, tapi dia juga memikirkan banyaknya karyawanan yang harus resign kalau butiknya ditutup dan semua kerja kerasnya harus berakhir begitu saja.


Sekitar pukul sepuluh Daffa memang datang menemui anaknya dan memarahi Sahara habis-habisan hingga membuat anaknya tidak bisa mengatakan apapun dan hanya bisa menundukkan kepalanya. Sebenarnya Arjuna ingin mengataka sesuatu karena dia tidak tega melihat istrinya, tapi sama seperti Daffa dia juga sangat-sangat kesal dengan Sahara.


"Dia masih tetap makan dan bisa berbelanja meskipun butiknya ditutup." Kata Daffa


"Daddyyy"


"Tidak akan ada negosiasi, kamu diam saja di rumah." Kata Daffa tegas


"Dad! Ara tidak mungkin menutup butik." Kata Sahara dengan wajah memelas


Ayolah tanggung jawabnya cukup besar ada beberapa kontrak yang sudah dia tanda tangani dan ada banyak karyawan yang bekerja untuknya.


Iya, Sahara memang tetap bisa makan dan berbelanja meskipun butiknya di tutup.


Tapi, bagaimana dengan nasib para karyawannya?


Dia tau dia salah karena tidak memperhatikan kesehatannya, tapi menutup butik juga cukup keterlaluan.


"Lalu? Kamu mau bekerja dan berakhir sakit lagi? Kamu bahkan tidak memikirkan kesehatan juga kandungan kamu Ara!" Kata Daffa marah


"Ara janji ini yang terakhir." Kata Sahara


"Kamu selalu mengatakan hal yang sama setiap sedang sakit." Kata Daffa


"Daddy! Ara akan marah kalau Daddy benar-benar menutup butik Ara dan Ara tidak akan mau bicara sama Daddy kalau itu sampai terjadi." Kata Sahara


"Baik buka saja butiknya, tapi jangan pernah bicara lagi sama Daddy!" Kata Daffa membuat Sahara menatapnya dengan tidak percaya


Matanya mulai berkaca mendengar perkataan Daffa barusan, tapi Daffa malah mengalihkan pandangannya dan menatap Arjuna sebentar.


Dia tidak akan mau mengalah kali ini sudah cukup semuanya. Semuanya sudah keterlaluan Sahara yang awalnya hanya mengesampingkan kesehatannya kini juga melupakan dengan bayi yang dikandungnya.


"Kamu tidak tau bahwa semua orang khawatir dan kamu malah memikirkan pekerjaan? Serius Ara? Kamu sudah berubah sekarang." Kata Daffa


"Daddy"


Memilih untuk tidak mendengarkan alasan apapun Daffa langsung pergi dari ruang rawat Sahara dan meninggalkan anaknya yang sudah mau menangis sekarang. Beberapa saat setelah Daffa pergi isakan Sahara terdengar dan membuat Arjuna menghela nafasnya pelan lalu menghampiri istrinya.


"Ara"


"Daddy jahat"


Sahara mengatakan hal itu dengan raut wajah penuh kesedihan juga air mata yang mengalir.


Menyunggingkan senyuman tipisnya Arjuna mengusap pipi istrinya yang berurai air mata dan berusaha untuk menenangkannya. Dia mengerti kenapa mertuanya sampai mengatakan hal tadi, semua karena rasa khawatir yang dirasakan terhadap anak kesayangannya.


Seperti yang semua orang tau Daffa sangat menyayangi Sahara hingga dia tidak akan membiarkan kalau ada sedikit saja luka di tubuh anaknya, apalagi sampai harus di rawat seperti sekarang. Meskipun tidak terlalu parah dan akan sembuh dalam waktu dekat tetap saja Daffa merasa cemas, semakin di biarkan bisa semakin parah kan?


Tentu saja Daffa tidak mau kalau sampai itu terjadi.


"Daddy jahat! Mas Juna sekarang Daddy jahat sama Ara! Daddy jahat!" Kata Sahara dengan isakannya


Jangan lupakan kondisi Sahaa yang sedang hamil membuatnya semakin sensitif dan mudah menangis.


"Sstt sudah sayang, Daddy kamu melakukan ini semua karena dia sayang sama kamu." Kata Arjuna dengan lembut


"Daddy jahat! Ara juga tidak mau sakit, tapi Ara punya tanggung jawab dan Ara tidak mungkin menutup butik, bagaimana dengan para karyawan nantinya?" Tanya Sahara sambil mengusap kasar air matanya yang mengalir


"Tidak akan ditutup hmm? Aku janji nanti aku akan bicara sama Daddy kamu, jangan menangis lagi oke?" Kata Arjuna


Sahara kembali menghapus air matanya lalu mengangguk singkat.


"Jangan ditutup ya?" Pinta Sahara penuh harap


Mendekatkan wajahnya Arjuna mengecup singkat bibir istrinya lalu memeluknya singkat.


"Iya sayang"

__ADS_1


Berusaha untuk tersenyum Sahara buru-buru menghapus jejak air matanya ketika pintu ruang rawatnya kembali terbuka.


Ada Alana yang datang dan tersenyum padanya, ahh menggemaskan sekali sekarang senyum Sahara kembali mengembang.


Mereka datang bersama dengan Clara dan Alana langsung meminta untuk dinaikkan ke atas ranjang agar bisa memeluk Mami nya.


"Pelan-pelan sayang"


Senyum Alana mengembang dia memeluk Sahara dengan hati-hati lalu meminta Mami nya untuk menunduk agar dia bisa mencium pipinya.


"Sudah selesai sekolahnya sayang?" Tanya Sahara


Alana mengangguk dengan semangat.


"Cudah Mami tadi Ana belajal gambal." Kata Alana sambil tersenyum polos


"Mana lihat gambarnya." Kata Sahara


"Bukunya ada di mobil Mami." Kata Alana dengan wajah sedihnya


Sahara tersenyum lalu mengusap sayang puncak kepala anaknya.


"Tidak papa nanti kalau sudah pulang Mami lihat ya?" Kata Sahara yang langsung dijawab dengan anggukan oleh anaknya


"Tadi Ana lihat Opa." Kata Alana membuat Sahara terdiam


Dia ingin bertanya, tapi anaknya kembali berbicara.


"Ana ajak Opa macuk, tapi Opa pelgi katanya mau kelja." Kata Alana


"Iya dong sayang Opa kan harus kerja biar bisa belikan Ana mainan." Kata Sahara


"Iya Mami"


"Sekarang Ana tidur siang ya?" Kata Sahara


Bibir Alana langsung mengerucut dan dia menggelengkan kepalanya cepat, tidur siang adalah salah satu hal yang Alana tidak suka.


Melihat anaknya yang merajuk Arjuna tertawa dan langsung mengajaknya untuk membeli jajan di luar.


Dengan penuh semangat Alana langsung merentangkan tangannya, meminta untuk digendong.


Sahara menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah anaknya yang sekarang sudah mulai menunjukkan sifat ngeyelnya. Setelah anak dan suaminya pergi tinggal Sahara juga sang mertua di ruang rawatnya.


"Mami"


Mendengar sapaan itu Clara tersenyum dia langsung mendudukkan dirinya dan menatap menantunya dengan dalam.


"Kamu jangan sakit lagi Arjuna cemas sekali dia sampai meninggalkan meeting kemarin." Kata Clara dengan lembut


Sahara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.


"Maaf"


"Kamu sudah lebih baik sayang?" Tanya Clara


"Sudah Mi hanya masih lemas saja." Kata Sahara membuat mertuanya itu menghela nafasnya lega


"Bagaimana keadaan cucu Mami di dalam sana?" Tanya Clara sambil menunjuk perut Sahara


"Dia sangat baik Mi." Kata Sahara


Tersenyum senang Clara mengusap sayang rambut menantunya, dia bahagia bisa memiliki menantu seperti Sahara.


Meskipun sedikit rewel dan keras kepala, tapi kehadiran Sahara yang membuat anaknya sangat bahagia.


"Makasih ya Mi sudah menjemput Ana." Kata Sahara sambil tersenyum tulus


"Untuk apa berterima kasih? Mami suka menjemput Alana apalagi mendengar dia cerita sepanjang perjalanan." Kata Clara membuat Sahara tertawa kecil mendengarnya


Saat keduanya terdiam mendadak Sahara kembali teringat dengan Daffa, dia merasa bersalah, tapi dia juga tidak bisa menuruti keinginan Daddy nya untuk menutup butik.

__ADS_1


Dia harus apa?


Bagaimana kalau Daddy nya benar-benar tidak mau bicara lagi padanya?


Apa dia keterlaluan?


¤¤¤


Di ruang kerjanya Daffa terdiam dan sibuk memikirkan keadaan anaknya dia dilema tentang ancamannya kepada Sahara, keputusannya salah atau tidak. Sebenarnya satu-satunya alasan Daffa ingin menutup butik anaknya karena Sahara beberapa kali jatuh sakit dengan alasan mengurus pekerjaan dan Daffa tidak suka hal itu terjadi.


Dia sangat ingat ketika Sahara mengatakan dengan penuh harap tentang impiannya menjadi seorang designer dan memiliki butik yang terkenal juga ramai pelanggan. Saat itu anaknya masih SMA dan dia dengan penuh semangat bercerita tentang impiannya sambil meminta Dafa agar mendukungnya.


'Ara mau jadi designer Daddy terus Ara mau punya butik juga pokoknya Daddy harus dukung dan semangatin Ara, oke?'


Daffa mengangguk dan mengatakan bahwa dia akan mendukung setiap keinginan anaknya yang bisa membuatnya bahagia.


'Daddy makasihh sudah dukung Ara sampai Ara berhasil, Ara sayang pake banget banget sama Daddy'


Ucapan terima kasih itu anaknya ucapkan setelah dia berhasil membuka butiknya.


Bahagia sekali ekspresi Sahara kala itu Daffa masih mengingatnya sampai sekarang.


Menghela nafasnya pelan Daffa mendongak dan mendapati istrinya yang masuk ke dalam ruang kerjanya. Wajah Fahisa terlihat kesal dan dia langsung mendudukkan dirinya dihadapan Daffa lalu mengatakan semua keluhannya.


"Kenapa Mas Daffa bilang seperti itu sama Ara?" Tanya Fahisa


"Bilang apa Hisa?" Tanya Daffa pelan


"Bilang kalau akan menutup butik! Mas Daffa tau gimana berartinya butik itu untuk Sahara dia...."


"Aku tidak ingin Ara sampai sakit lagi! Sudah cukup Fahisa bahkan dia sedang mengandung, tapi tidak memikirkan kesehatannya sama sekali dan ketika bangun dia malah menanyakan pekerjaannya." Kata Daffa


"Apa itu artinya kamu bisa mengatakannya ketika Ara sedang sakit?" Tanya Fahisa


"Iya aku bisa mengatakannya." Kata Daffa membuat Fahisa menghela nafasnya pelan


"Mas apa kamu tau kalau Ara menangis setelah kamu pulang?" Tanya Fahisa


Tidak ada jawaban Daffa hanya diam mendengarnya, dia tidak tau.


"Ara sedang hamil Mas dan kamu tau kalau wanita hamil itu sangat sensitif kan? Lihat, kamu malah mengatakan hal seperti itu pada Ara?" Kata Fahisa


Daffa tetap diam tidak memberikan tanggapan apapun.


"Kamu fikir menutup butiknya itu keputusan yang tepat? Apa Sahara akan bahagia dan tidak sakit lagi setelahnya?" Tanya Fahisa lagi


Daffa mendongak dan menatap istrinya yang sedang menghela nafasnya pelan lalu menangkup wajahnya.


"Ara lagi hamil dan sekarang dia sedang sakit, tapi kamu malah menyakiti Ara sampai dia menangis." Kata Fahisa


"Aku.. aku hanya kesal dan marah Fahisa! Dia sama sekali tidak mau mendengar perkataanku! Tetap seenaknya dan selalu membuat orang-orang khawatir." Kata Daffa


Fahisa tersenyum dan mengusap pipi suaminya dengan lembut.


"Aku faham Mas, tapi kamu dan Ara harusnya bicara dengan baik-baik selain itu kamu juga harus menunggu sampai keadaannya sedikit membaik, jangan memaksanya." Kata Fahisa


Daffa menghela nafasnya pelan lalu tersenyum dan meraih tangan Fahisa yang ada dipipinya untuk dia cium lama.


"Baiklah aku akan minta maaf pada Ara"


Tersenyum senang Fahisa mengacak rambut suaminya dengan gemas.


"Itu baru Daddy Daffa yang aku kenal"


Selalu begitu Daffa sering khawatir berlebihan pada anak-anaknya bahkan tanpa ada yang tau dulu Daffa memasang alat penyadap di ponsel anak-anaknya.


Setidaknya harus ada yang mengalah kan?


¤¤¤


Ternyata udah banyak ya aku nulis haha gak nyangka😂

__ADS_1


Makasih dukungannya❤


__ADS_2