Sahara In Love

Sahara In Love
30 : Kejutan lainnya


__ADS_3

Sebuah kejutan manis dan surat indah dari Arjuna telah membuat hati Sahara berbunga-bunga dia juga tidur dengan begitu nyenyak tadi malam. Sekarang Sahara sangat tidak sabar menanti kejutan lainnya yang sudah kekasihnya siapkan.


Jujur saja Sahara sedikit tidak percaya ketika Arjuna mengatakan bahwa dia dan orang tuanya telah datang untuk melamarnya, tapi ternyata itu benar Fahisa sudah mengatakan kepada Sahara tadi. Sama sekali tidak pernah terbayang bahwa Arjuna akan melakukan hal itu untuknya, datang dan melamarnya.


That's cool man.


Semua peringatan Daffa kemarin juga tidak sepenuhnya benar Sahara dibolehkan keluar rumah selagi itu bersama dengan keluarganya atau dengan Arjuna dan ponselnya juga tetap berada digenggamannya, tapi Daffa tidak main-main soal menutup butiknya. Beberapa saat lalu Sahara menelpon Diandra dan menanyakan tentang butiknya, tau apa yang asistennya itu katakan?


'Sejak Kakak masuk rumah sakit Tuan Daffa menutupnya dan pembangunan cabang butik Kakak juga dihentikan sementara, kata Tuan Daffa kami baru boleh mulai bekerja minggu depan'


Sebenarnya Sahara kesal, tapi dia tidak bisa protes karena dia sadar bahwa semua ini juga salahnya dan Sahara harus menanggung itu semua. Dia harus menurut dengan perkataan Daffa dan Fahisa.


Hari ini sabtu dan kedua adiknya tidak berangkat ke sekolah itu bagus sekali jadi Sahara tidak akan kesepian selagi menunggu Arjuna yang katanya akan datang ketika sore. Setelah sarapan ketiga anak itu berkumpul di ruang keluarga dan tentu saja atas paksaan Sahara, kalau Devina sih menurut, tapi kalau Devano jangan tanya adik lelakinya itu terlalu banyak alasan.


"Mau ngapain sih Kak?" Tanya Devano yang sangat ingin kembali ke kamarnya


"Mau ajakin ngobrol, kamu tidak kasian sama Kakak? Kakak kesepian tau." Kata Sahara dengan wajah sebalnya


"Salah sendiri makanya kalau di kasih tau sama orang tua itu nurut, kualat kan?" Kata Devano membuat Sahara memukul pundaknya pelan


"Kamu tuh jahat tau kayak Daddy!" Kata Sahara


"Vano kan anaknya." Kata Devano membuat saudara kembarnya tertawa dan Sahara yang semakin kesal


"Dasar adik nakall." Kata Sahara sambil mengacak-ngacak gemas rambut adiknya


Di antara kedua adiknya Devano memang yang paling menyebalkan mungkin karena pria itu terlalu jujur dan sangat cuek hingga jarang menanggapi ucapannya. Berbeda dengan Devina yang selalu jadi tempat curhatnya begitu juga sebaliknya, mereka sangat akrab dan jarang bertengkar.


"Devina kamu membantu Kak Juna menyiapkan kejutan untuk Kakak kemarin ya?" Tanya Sahara mengalihkan pembicaraan dengan adik perempuannya


"Iya Kak sama Daddy juga, Kak Juna manis sekali aku senang kalau Kakak menikah sama Kak Juna." Kata Devina membuat Sahara tersenyum senang


"Memang waktu Kakak di rumah sakit dia ke rumah ya? Sama keluarganya juga?" Tanya Sahara lagi


Devina langsung mengangguk dengan semangat, dia sangat mendukung hubungan Kakaknya dengan Arjuna, pria sejati yang mencintai Sahara dengan begitu tulus.


"Iya, dia datang sama Om Abian dan Tante Clara mereka ngobrol sama Mommy dan Daddy, tapi kami berdua tidak tau mereka bicara apa." Kata Devina


Mendengar hal itu Sahara merasa begitu berbunga-bunga dia sangat tidak sabar ingin bertemu Arjuna lalu memeluk kekasihnya itu dengan begitu erat. Disisi lain kedua adiknya yang turut melihat kebahagiaan di mata sang Kakak ikut merasa senang, Sahara memang pantas bahagia.


"Kak Ara"


Suara berat Devano membuat Sahara mengalihkan pandangannya dan mendapati sang adik yang tersenyum manis ke arahnya, jarang sekali Devano tersenyum seperti itu. Senyumannya begitu tulus lalu dia mengatakan hal tak terduga yang membuat mata Sahara kembali berkaca-kaca.


"Ada banyak orang yang sayang sama Kakak, jangan sakit lagi dan coba untuk mengerti bahwa semua yang dilakukan Mommy dan Daddy itu semuanya untuk kebaikan Kakak." Kata Devano


Mengerucutkan bibirnya Sahara merentangkan kedua tangannya meminta adik laki-lakinya itu untuk memeluknya dan sekali lagi Devano tersenyum lalu memeluk Sahara.


"Sini Vina juga peluk." Kata Sahara


Akhirnya mereka berpelukan untuk waktu yang cukup lama sampai akhirnya Devano tanpa permisi langsung menjauhkan dirinya. Dia sangat menyayangi Sahara meskipun Kakaknya itu sangat pemaksa dan keras kepala, tapi tetap saja Devano tidak ingin melihat Sahata sampai terluka atau sakit.


"Aku sama Vina punya sesuatu untuk Kakak." Kata Devano membuat Sahara menatap kedua adiknya bergantian


"Apa?" Tanya Sahara penasaran


Sambil tersenyum manis Devina menyerahkan sebuah kotak yang cukup kecil kepada Sahara. Di dalamnya ada kado yang sudah dia dan Devano beli untuk Sahara dengan uang hasil patungan keduanya.


Dengan penasaran Sahara langsung membukanya dan dia mendapati sebuah gelang yang begitu indah di dalamnya.


"Aku sama Vano patungan untuk beli itu semoga Kakak suka." Kata Devina


Merasa begitu terharu Sahara menutup wajahnya dengan kedua tangan lalu menangis sambil terisak membuat kedua adiknya jadi cemas. Mereka berusaha menenangkan Sahara, tapi wanita itu tetap menangis untuk beberapa menit kemudian sebelum akhirnya dia menghapus sisa air matanya dan berbicara dengan nafas tersendat karena isakan.


"Terima kasih Kakak suka sekali kadonya." Kata Sahara


Devina dan Devano saling melemparkan senyum manisnya sampai akhirnya mereka berdua memeluk Sahara dengan erat. Sejak kecil Sahara memang begitu cerewet dan perhatian dengan adik-adiknya, tapi ternyata sikapnya itu malah membuat kedua adiknya begitu menyayangi Sahara.

__ADS_1


"Kami berantem waktu pilih kadonya." Kata Devina membuat Sahara tertawa ditengah isakannya


"Kok bisa berantem?" Tanya Sahara


Melepaskan pelukannya Devina menunjuk kembarannya itu dan dengan menggebu-gebu dia langsung bercerita tentang perdebatan mereka kemarin.


"Dia terus memilih gelang yang satu lagi padahal aku bilang kalau yang ini lebih bagus, tapi Devano malah mengajakku berdebat di toko sampai kami jadi pusat perhatian karena berisik." Kata Devina


Tak terima disalahkan Devano membela dirinya dengan kalimat yang singkat.


"Salah kamu Devina." Kata Devano acuh


"Kamu! Lagian dari dulu memang kamu itu tidak pernah mendukung pilihan aku." Kata Devina kesal


"Salah kamu yang berisik karena bicaranya keras sekali, jangan salahkan aku." Kata Devano


Melihat hal itu Sahara tertawa kecil, kedua adiknya kalau sudah berdebat gini sangat menggemaskan.


"Jadi kalian ambil pilihan siapa?" Tanya Sahara


"Tentu saja pilihan Devina adik Kakak yang satu itu akan terus mengomel sepanjang jalan kalau tidak dituruti." Kata Devano membuat sebuah bantal kursi melayang dan mengenai wajahnya


"Devina!"


"Apa?! Dasar saudara kembar jahat." Kata Devina


"Hey kenapa kalian malah bertengkar?" Tanya Sahara sambil menggelengkan kepalanya


"Devano yang mulai." Kata Devina


"Kenapa aku terus?" Tanya Devano tidak terima


"Tapi, Devano dari dulu memang suka mengganggu kamu Vina bahkan dia sering membuat kamu menangis waktu kecil." Kata Sahara membuat Devano semakin kesal


"Kenapa malah aku?" Tanya Devano lagi


"Baiklah aku jahat dan aku selalu salah." Kata Devano mengalah


Dia malas sekali kalau sudah berdebat dengan kedua wanita itu, sudah dapat dipastikan kalau pilihan terbaik adalah mengalah.


Tidak papa asalkan mereka berdua bahagia Devano tidak masalah untuk disalahkan atau harus mengalah.


Karena melihat keduanya tersenyum senang sambil ber-tos ria sudah membuat Devano bahagia.


Dia hanya suka satu hal, perkataan yang selalu keluar setiap kali dia memilih untuk mengalah.


"Aaa sayang Vanoo"


Memang benar kata Daffa terkadang Devano lebih cocok untuk menjadi seorang kakak.


¤¤¤¤


Semua persiapan untuk kejutan kedua yang akan diberikan kepada Sahara sudah selesai dan sekarang Arjuna sedang menunggu kekasihnya itu selesai bersiap, dia sudah meminta izin kepada Daffa dan Fahisa sebelumnya. Sore ini dia akan langsung melamar Sahara meskipun sebelumnya dia sudah menemui kedua orang tuanya dan mengutarakan keinginannya untuk menikahi sahara, tapi tetap saja dia harus mengatakan secara langsung kepada kekasihnya.


Saat melihat Sahara yang baru saja keluar dari pintu kamarnya dengan gaun hitam yang begitu cantik ketika dikenakannya, Arjuna tersenyum. Apalagi ketia kekasihnya itu memeluknya dengan erat tanpa perduli jika ada kedua orang tuanya disini, mereka masih berada di ruang tamu.


"Kak Juna terima kasih kadonya Ara suka sekali, lihat jamnya juga sudah Ara pakai." Kata Sahara sambil melepaskan pelukannya lalu menunjukkan jam yang melingkar sempurna dipergelangan tangannya


Mengangguk singkat Arjuna langsung mengajak Sahara untuk pergi dan sebelum meninggalkan rumah kekasihnya Daffa menepuk pelan pundak Arjuna lalu berbisik pelan.


"Semoga berhasil Arjuna"


Tersenyum lebar Arjuna mengangguk yakin dan sambil menggenggam erat tangan kekaishnya mereka pergi ke mobil Arjuna. Selama perjalanan Sahara merasa begitu gugup, dia sangat penasaran dan tidak sabar ingin tau kejutan selanjutnya yang sudah disiapkan Arjuna.


Tapi, mendadak dia ingin bertanya sesuatu kepada kekasihnya.


"Kak Juna mau tanya boleh?" Kata Sahara yang dijawab dengan anggukan singkat oleh kekasihnya

__ADS_1


"Kak Juna sudah bicara sama orang tua Ara, kenapa Kakak bisa seberani itu? Kenapa Kakak begitu yakin dengan Ara?" Tanya Sahara penasaran


Tertawa kecil Arjuna menjawab satu persatu pertanyaan Sahara dengan jawaban yang begitu manis untuk Sahara dengar.


"Kenapa aku berani? Karena harus Ra untuk apa aku memperlama hubungan yang hanya sebatas kekasih ini? Kita sudah sama-sama dewasa dan aku juga sudah merasa mampu untuk memiliki sebuah keluarga, kenapa aku harus takut untuk memulai semua itu?" Kata Arjuna


Dan pertanyaan terakhir yang diajukan Sahara dia jawab sambil menggenggam erat tangan kekasihnya.


"Kenapa aku harus ragu Ra? Bertahun-tahun aku mencintai kamu dan memendam perasaan ini aku sudah cukup yakin bahwa kamu adalah yang terbaik untukku." Kata Arjuna


Tersenyum manis Sahara benar-benar bahagia bisa memiliki Arjuna disisinya, pria itu telah membuatnya menjadi wanita yang begitu beruntung.


"Kita mau kemana?" Tanya Sahara lagi


"Ke suatu tempat dimana kejutan kamu menunggu disana." Kata Arjuna sambil menoleh sekilas dan menunjukkan senyum manisnya


"Hmm terus aku kasih jawabannya kapan? Sekarang boleh?" Tanya Sahara yang mengundang tawa kecil Arjuna


"Nanti Ra jangan sekarang aku bisa pingsan." Canda Arjuna membuat kekasihnya itu berdecih pelan, tapi tak urung setelahnya dia ikut tertawa


"Ara juga penasaran waktu Kakak ke rumah dan mengatakan itu, Daddy bilang apa?" Tanya Sahara


Tersenyum manis Arjuna jadi kembali mengingat perkataan Daffa beberapa hari yang lalu, pria itu mengatakan bahwa keputusannya ada di tangan Sahara.


"Dia bilang semua tergantung kamu karena Daddy kamu bilang bahwa dia akan mengikuti pilihan anaknya." Kata Arjuna


Mendengar hal itu senyuman Sahara kembali mengembang dengan begitu lebar, Daffa memang selalu mengikuti pilihannya. Saat dia mengatakan ingin sekolah design pria itu mengizinkan, saat Sahara ingin menjadi designer dan membuka butik Daffa juga tetap izinkan.


Daffa selalu mementingkan kebahagiaannya.


"Kak Juna gugup gak?" Tanya Sahara


"Bukan hanya gugup Ra, tapi rasanya kayak mau pingsan." Kata Arjuna membuat kekasihnya itu kembali tertawa


Sebelum menghentikan percakapan Sahara mengatakan terima kasih untuk setiap kado yang kekasihnya berikan.


"Kak Juna terima kasih ya? Untuk semuanya kejutan kemarin malam, kado dari Kakak, dan untuk kejutan yang belum aku tau juga." Kata Sahara


Tidak menanggapi apapun Arjuna hanya menggapai tangan Sahara lalu menggenggamnya dan mencium punggung tangan itu dengan lembut.


Selanjutnya perjalanan mereka hanya dihiasi dengan alunan musik dan sekitar setengah jam mereka berhenti di salah restoran yang cukup terkenal di kota ini. Namun, ada yang aneh karena ketika masuk ke dalam tempat itu begitu sepi padahal biasanya ramai mengingat restoran ini sangat terkenal.


Dekorasi restoran ini begitu elegant, tapi semakin Sahara masuk kedalam jantungnya semakin berdetak dengan begitu kencang kala melihat dekorasi yang mulai berubah. Ada banyak kelopak mawar yang disusun membentuk lambang cinta dan disana Sahara dapat melihat meja makan dengan dekorasi yang begitu indah.


"Jadi Sahara kamu mau kejutannya dulu atau makan dulu?"


Lidah Sahara begitu kelu untuk menjawab, dia merasa jantungnya sudah berdetak dengan begitu cepat.


"Kak Juna beri aku kejutannya." Kata Sahara dengan susah payah


Sambil tersenyum manis Arjuna membawa Sahara untuk berdiri di tengah-tengah kelopak mawar yang berbentuk hati lalu bertumpu dihadapan kekasihnya.


Sahara semakin menahan nafasnya kala Arjuna menggapain kedua tangannya dan menggenggamnya dengan begitu lembut.


Mata mereka bertemu Arjuna menatapnya dengan penuh cinta.


Sungguh Sahaa tidak bisa berkata-kata lagi.


Dia membeku di tempatnya sambil menunggu kata apa yang akan keluar dari bibir kekasihnya.


"Sahara"


Astaga Sahara mau pingsan saja, dia tidak kuat mendengar suara Arjuna yang begitu lembut.


¤¤¤¤


Ara jangan pingsan dulu nanti gak jadi di lamarr😭

__ADS_1


Arjuna gak mau lamar aku aja gitu😌


__ADS_2