
Semua penantian Arjuna selama bertahun-tahun kini telah terbayar, penantiannya menunggu sebuah kepastian dari Sahara telah berbuah pernikahan. Sikap Sahara yang sering kali berubah memang membuatnya sempat bimbang, tapi sekali lagi hatinya memberikan kekuatan dan berbisik bahwa dia akan menang.
Hatinya memberikan dia jalan kepada Sahara.
Sahara bukan gadis pemilih dia mudah dekat dengan orang lain, tidak pernah membedakan, ramah, dan baik kepada semua orang.
Sahara juga seorang pemaaf dia bisa dengan mudahnya memaafkan orang lain yang sudah menyakiti hatinya.
Satu hal yang membuat Arjuna tidak bisa berpaling dari Sahara adalah senyum manisnya, senyuman dengan penuh ketulusan yang membuatnya terpana. Setiap kali Sahara tersenyum Arjuna selalu berdebar, dia selalu jatuh cinta kepada Sahara sampai berkali-kali tanpa ada rasa bosan.
Dia tidak tau kenapa, tapi Sahara selalu membuatnya kembali.
Beberapa kali dia pernah dekat dengan wanita hanya saja tidak pernah ada yang seperti Sahara, mereka berbeda tidak ada yang bisa membuatnya berdebar seperti Sahara.
Hari ini Arjuna berhasil mendapatkan Sahara seutuhnya membuat wanita itu menjadi miliknya, istrinya yang akan menemaninya seumur hidup. Mereka akan bahagia dan memiliki anak-anak lucu lalu membangun sebuah keluarga yang harmonis bersama-sama.
Beberapa jam yang lalu resepsi pernikahan telah usai dan sesuai permintaan orang tua Sahara kini Arjuna serta istrinya berada di rumah keluarga Daffa, menginap untuk satu malam. Saat ini dia berada di kamar Sahara yang bernuansa pink serta putih, kamar ini sudah di hias dengan sedemikian rupa hingga membuat Arjuna tersenyum kala melihatnya.
Ada banyak foto di meja rias Sahara dan beberapa di antaranya adalah foto mereka, Arjuna senang karena Sahara menyimpan itu semua.
Sekarang Arjuna sedang menanti Sahara yang tengah membersihkan diri di kamar mandi dan sejak tadi yang dia lakukan adalah memainkan ponsel milik istrinya. Ada banyak pesan masuk yang hampir semuanya berisikan ucapan selamat atas pernikahan mereka.
'Kak Juna terima kasih karena sudah mencintai Ara sampai sedalam ini dan terima kasih sudah menerima Ara apa adanya'
Sahara Berlian Wijaya, gadis itu berhasil memikatnya sejak kali pertama mereka bertemu bahkan meskipun setelahnya Arjuna bertemu dengan banyak wanita cantik lainnya, tapi tetap saja hatinya selalu kembali pada Sahara.
Hanya Sahara.
Hanya Sahara yang mampu mengisi hatinya.
'Kak Juna menurut Kakak cinta itu apa? Kalau Ara khawatir tentang seseorang dan benci kalau melihat dia bersama orang lain, apa itu cinta?'
Menurut Arjuna cinta itu Sahara.
Ketika Arjuna melihat Sahara maka dia melihat cinta di mata gadis itu, cinta yang membuatnya tidak mampu untuk berpaling.
'Kenapa cinta tidak butuh alasan Kak?'
Cinta tidak pernah membutuhkan alasan karena kita jatuh cinta tanpa kita minta ataupun kita duga, cinta datang dengan sendirinya.
Tanpa permisi.
Dia datang dan membuatmu berdebar.
Bisa jadi dia datang dan menetap atau hanya datang untuk sesaat lalu pergi meninggalkan bekas.
Dan cinta Arjuna datang juga menetap.
'Ara sayang sama Kak Juna'
Senyum Arjuna terbit kala mengingat kalimat lembut Sahara kala itu, Sahara yang mengatakannya dengan rona merah di pipi itu memeluknya.
Dia selalu suka mengingat masa-masa yang telah lalu.
Mengingat kenangannya bersama dengan Sahara.
Ceklek
Suara pintu membuat Arjuna menoleh dan tersenyum sambil menatap Sahara yang kini sudah memakai baju tidur bergambar beruang, terlihat begitu lucu.
Sahara ikut tersenyum lalu berlari kecil menghampiri Arjuna dan memeluknya dengan erat.
"Lelah hmm?" Tanya Arjuna dengan suara lembutnya
"Emm pegel semua, ternyata capek ya Kak padahal kita cuman duduk terus berdiri kalau ada tamu aja." Kata Sahara
Tertawa kecil Arjuna memainkan rambut Sahara yang masih setengah basah lalu mencium aroma tubuh Sahara yang begitu wangi.
"Sekarang kamu bisa istirahat." Kata Arjuna
Tersenyum kecil Sahara semakin mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Arjuna, satu hal yang Sahara rasakan, nyaman.
"Rambut kamu wangi sekali Ra." Kata Arjuna
Sahara hanya menanggapinya dengan gumaman, dia terlalu nyaman berada di pelukan suaminya. Mereka tidak bertemu selama beberapa hari dan tentu saja Sahara ingin melepas rindu untuk waktu yang cukup lama.
"Sudah ngantuk belum?" Tanya Arjuna lagi
__ADS_1
"Hmn sedikit." Kata Sahara pelan
Setelahnya Sahara dibuat terkejut dengan Arjuna yang mengangkat tubuhnya dan membawa mereka untuk berbaring di ranjang. Sahara tersenyum kala Arjuna menyentuh pipinya dan mencium lembut keningnya.
Arjuna ikut berbaring dan menghadap ke samping, menatap sang istri yang terlihat begitu cantik.
Wajah Sahara begitu polos tanpa ada make up dan dia masih terlihat sama, semua yang ada pada diri Sahara membuat Arjuna jatuh cinta.
"Kamu cantik sekali Ra." Kata Arjuna sambil mengusap lembut pipinya
Sahara tersenyum manis sambil menatap Arjuna dengan dalam, membiarkan pria itu larut dalam tatapannya.
"Aku bahagia sekali Ra, bisa menikah dengan kamu adalah hal yang begitu indah." Kata Arjuna lagi
"Ara juga bahagia bisa menikah dengan Kak Juna." Kata Sahara
"Jangan Kakak lagi." Kata Arjuna refleks
Mengerucutkan bibirnya Sahara paling malas ketika dia di suruh mengganti panggilan ke Arjuna, dia tidak bisa rasanya aneh Sahara tidak biasa.
"Gak mau Ara maunya panggil Kakak aja." Kata Sahara dengan nada yang begitu manja
"Hmm tidak boleh sayang aku jadi merasa seperti Kakak kamu dan bukannya suami kamu." Kata Arjuna
"Tapi, Ara gak mau Kak maluu." Kata Sahara
"Coba sekali ganti panggilannya, di depan aku saja hmm? Kalau di depan orang lain kamu boleh panggil aku Kakak." Kata Arjuna
Arjuna sangat ingin mendengar Sahara memanggilnya dengan sebutan yang berbeda, selain itu dia ingin menggoda Sahara yang pastinya akan merasa malu dan pipinya juga pasti akan merona.
"Di depan Kak Juna saja ya?" Kata Sahara yang dijawab dengan anggukan oleh suaminya
Arjuna ingin tertawa ketika melihat wajah Sahara yang penuh keraguan apalagi istrinya itu mengalihkan pandangan ke arah lain, menghindari tatapan matanya.
Terdengar gumaman Sahara yang masih tampak ragu untuk berbicara, haruskah dia mengatakannya?
Sahara tidak tau harus memanggil Arjuna apa selain Kakak, tapi dia jadi ingat panggilan yang sering Mommy nya pakai kepada Daddy nya.
Mas Juna
"Kenapa lama sekali hmm? Ayo Ra sekali saja habis ini kita tidur." Kata Arjuna
Haruskah?
Nanti Arjuna akan meledeknya atau tidak?
Mengangkat wajahnya Sahara menatap mata teduh Arjuna lalu memanggilnya dengan suara yang begitu kecil, tapi masih bisa Arjuna dengar.
"Mas Juna"
Arjuna diam dan masih menatap Sahara yang kini wajahnya sudah mulai merona.
"Emm sudah ya?" Kata Sahara
Wajah Sahara begitu lugu membuat Arjuna jadi gemas sendiri.
"Ara"
Entah kenapa panggilan Arjuna terdengar berbeda dan Sahara hanya menanggapinya dengan gumaman.
"Ara apa aku boleh cium kamu?" Tanya Arjuna membuat pipi Sahara memerah sempurna
Kali ini bukan hanya pipi, tapi telinganya pun ikut memerah.
Sahara tidak menjawab hanya menatap Arjuna dengan tatapan yang tidak bisa dia artikan.
Arjuna tidak akan berbuat lebih, dia tau Sahara sangat lelah dan sungguh Arjuna hanya ingin menciumnya.
Senyuman Arjuna terbit lalu dia melingkarkan tangannya di leher Sahara dan mendekatkan wajahnya perlahan. Sahara menahan nafasnya kala hidung mereka bersentuhan dan matanya secara refleks tertutup kala bibir Arjuna telah menyentuhnya.
Sahara bingung harus bereaksi seperti apa, tapi nalurinya membuat Sahara ikut melingkarkan tangannya di leher Arjuna dan membiarkan pria itu menciumnya dengan dalam.
Arjuna tersenyum kala Sahara membuka mulutnya dan di depan wajah Sahara dia mengatakan hal yang membuat Sahara merasa begitu malu.
"Kamu pintar Ra"
Dan Sahara tak bisa memberikan tanggapan apapun karena pria itu kembali menciumnya.
__ADS_1
Ciuman hangat yang mereka lakukan di malam pernikahan.
Hanya sebuah ciuman.
Tidak lebih dari itu.
¤¤¤¤
Sinar matahari pagi masuk melalui celah-celah jendela hingga membuat Arjuna terusik dari tidur nyenyaknya. Saat membuka mata dia tersenyum karena sadar bahwa kini dia akan selalu melihat wajah Sahara setiap bangun dari tidur.
Ternyata ketika tidur seperti sekarang Sahara terlihat lebih cantik.
Tangan Arjuna terulur untuk mengusap lembut pipi istrinya yang masih tertidur lelap, sepertinya Sahara sangat lelah dia sangat nyenyak dan sama sekali tidak terusik. Sesekali Arjuna mencubit pipi Sahara berharap istrinya itu akan membuka mata, tapi Sahara tidak bergerak sedikit pun.
Dengan senyuman Arjuna menyingkirkan helaian rambut Sahara yang menutupi wajah cantiknya. Saat tengah asik memandangi wajah Sahara pintu kamar ini diketuk membuat Arjuna berdiri dan langsung membukanya.
"Arjuna kamu udah bangun? Apa Ara masih tidur? Astaga kenapa dia belum bangun? Bangunkan ya Juna lalu turunlah kebawah bersama Sahara untuk sarapan." Kata Fahisa
"Mungkin Ara kelelahan Mi nanti akan Juna bangunkan." Kata Arjuna dengan sopan
Fahisa mengangguk singkat kemudian berlalu pergi meninggalkan keduanya. Setelah Fahisa pergi Arjuna kembali menutup pintu lalu menghampiri Sahara dan membangunkannya dengan suara yang begitu lembut.
"Ara bangun Ra kita sarapan dulu yuk"
Tidak ada pergerakan sama sekali, sepertinya dia benar-benar lelah.
Arjuna mengusap pipi Sahara sambil mencubitnya dan memanggil namanya, dia tidak bisa membangunkan orang lain tidur. Biasanya kalau Anjani tidak mau bangun dia akan memanggil nama adiknya dengan keras tepat di telinga, tapi Arjuna tidak mungkin melakukannya pada Sahara.
Jadi yang Arjuna lakukan adalah mengusap dan mencubit pipi istrinya sambil memanggil namanya.
"Ara bangun dulu Ra"
Ada sedikit pergerakan dan Arjuna langsung mencium singkat bibir Sahara lalu berbisik di telinganya dengan suara yang lebih berat.
"Ra bangun sudah pagi"
Berhasil mata Sahara terbuka, tapi dia belum bersuara dan yang membuat Arjuna terkejut adalah Sahara yang malah memeluknya.
"Ara masih ngantuk." Kata Sahara manja
"Mami mertua tadi datang suruh bangunin kamu dan suruh kita ke bawah untuk sarapan, bangun dulu ya?" Kata Arjuna sambil mengusap rambut Sahara dengan lembut
"Yaudah Ara mau mandi dulu biar gak ngantuk." Kata Sahara dengan bibir mengerucut
Dia masih mengantuk dan masih ingin tidur, tapi kalau tidak turun nanti orang tuanya akan mengomel.
"Jangan cemberut nanti bisa tidur lagi." Kata Arjuna
"Gak boleh tau tidur habis makan." Kata Sahara
"Kakau gitu nanti kita jalan-jalan." Kata Arjuna
"Memang mau jalan-jalan kan? Kita kan mau ke pantai Kak Juna sudah janji." Kata Sahara membuat suaminya itu tersenyum
"Iya sayang"
Sahara ikut tersenyum lalu berdiri dan mengambil handuk, tapi saat akan masuk ke dalam kamar mandi Arjuna memanggilnya.
"Ara"
"Emmm"
"Mau mandi bersama untuk mempersingkat waktu?" Tanya Arjuna dengan wajah yang begitu menyebalkan
Mata Sahara membulat, pipinya merona, dan bibirnya mengerucut kesal lalu dia berseru kepada Arjuna hingga membuat suaminya itu tertawa.
"KAK JUNA IHH NAKAL!"
Pagi ini berbeda bagi Arjuna dan mungkin pagi-pagi besoknya akan lebih berbeda juga.
¤¤¤
Arjuna jangan gitu dongg! Kamu gak boleh nakal yaa!
Baru nikah harus sabarr!
Awas ya kalau nakal😈
__ADS_1