Suami ke dua

Suami ke dua
Bab 100


__ADS_3

Jam pulang kantor sudah setengah jam lalu. Erik dan Rendy sudah berpamitan dengan Mahen dan Sarah. Tapi mereka gunakan waktunya untuk membeli keperluan Sarah selama tinggal di kantor Mahen. Sabtu dan Minggu kantor Mahen libur, jadi hanya mereka bertiga saja yang tinggal di sana namun ada beberapa keamanan yang menjaga kantor nya termasuk dirinya selama tinggal di kantor.


"Aku sudah bawa semua keperluan aku dan Sandra, Bang!." Ucap Sarah masih menolak pergi ke pusat perbelanjaan. Sebab itu akan menambah pengeluaran Mahen yang dalam pikirannya akan mempengaruhi keuangan Mahen yang belum stabil.


"Pasti ada yang terlewat sama kamu. Kalau perlengkapan Sandra, Abang percaya kalau kamu sudah sangat prepare tapi tidak dengan kebutuhan mu." Mahen bersikukuh untuk pergi.


Sarah dan Sandra sudah duduk di samping Mahen setelah tidak melakukan perdebatan lagi. Mahen pun melajukan kendaraan nya dengan pelan. Selain karena ada nya anak ia juga ingin menikmati momen indah yang baru pertama dirasakan setelah perpisahan mereka.


Sampai di pusat perbelanjaan. Mahen dan Sandra begitu antusias langsung saja memasuki swalayan untuk membeli berbagai makanan yang tahan lama. Setelah selesai Mahen memasuki tempat penjual underwear. Sampai-sampai Sarah menautkan kedua alisnya merasa heran. Kalau yang didatangi underwear pria tidak masalah berarti Mahen yang akan membelinya, lah ini kan tempat wanita lalu apa yang akan dibeli Mahen?. Rasa-rasanya tidak mungkin jika untuk Sandra, karena ini untuk wanita dari usia remaja sampai tua. Jadi mau beli apa dan untuk siapa?. Pikir Sarah frustrasi.


Sarah menarik lengan Mahen yang sudah berhenti tepat di salah satu deretan lingerie yang begitu indah dan seksi.


"Bang Mahen mau beli lingerie?." Bukan Sarah tidak tahu hanya saja ia sendiri begitu malu melihat barang haram tersebut. Dan seingat dirinya pun ia tidak pernah memakai pakaian dinas itu atau mungkin pernah memakainya sesekali saja.


"Untuk mu!." Bisik Mahen menarik Sarah untuk memilih lingerie tersebut.


"Tidak Bang, untuk apa aku membelinya?." Sarah menggeleng menolaknya. Ia tidak memerlukan pakaian itu. Untuk apa?. Apalagi mereka kini tinggal di kantor sudah ada Sandra pula. Kalau pun dirinya harus GeEr tapi tidak ada tempat yang bisa mereka pakai untuk bercinta. Sarah dengan cepat memukul pelan kepalanya berkali-kali.


"Apa yang kamu pikirkan sampai kamu harus memukul kepala mu seperti itu?. Kalau kamu tanya kenapa kamu harus membeli pakaian itu?. Jawabannya hanya satu, yaitu hanya untuk menyenangkan dan memuaskan suami mu ini." Goda Mahen sambil mengecup pipi Sarah yang sudah bersemu merah saat tidak melihat ada siapa pun di sana hanya ada mereka bertiga.


.


.


"Bang Mahen enggak ada kesini?." Tanya Widi Kakak tepat di atas Hafis saat sudah sampai di ruangan inap Papa Darwin.


"Dua hari ini Bang Mahen enggak bisa datang. Makanya minta Mbak Widi kesini." Jawab Hafis.


"Papa gimana keadaanya?." Widi menghampiri Papa Darwin dan duduk disebelahnya, memijat kaki kanan Papa Darwin.


"Sudah lumayan Wid, paling juga Papa besok udah boleh pulang." Papa Darwin menghentikan tangan Widi.

__ADS_1


"Enggak besok Pa, kata Dokter kalau enggak hari Selasa, hari Rabu Papa bisa pulang. Itu Bang Mahen yang minta." Jelas Hafis pada keduanya.


"Bang Mahen banyak pekerjaan sampai enggak bisa datang kesini?." Tanya Widi sambil mengotak-atik ponsel nya.


"Iya, katanya lagi banyak meeting." Sahut Hafis yang bangkit berdiri untuk mengambil pesanan makanan.


"Aku ke depan dulu Mbak Widi ambil pesanan makanan untuk kita."


Widi hanya mengangguk sambil menatap kepergian Hafis.


"Mama udah datang kesini?." Widi mengajak ngobrol lagi Papa Darwin yang terlihat melamun.


"Enggak. Mama Enggak ke sini. Papa yang melarangnya, biar saja Mama menjaga Syifa." Balas Papa Darwin menatap pada Widi.


"Oh pantesan saja Mama bilang kalau Papa sepertinya mengindari Mama. Mungkin karena masalah ini, Papa mau telepon Mama?." Widi menyodorkan ponsel pada Papa Darwin.


"Enggak Wi, nanti aja. Papa mau tidur dulu." Papa Darwin langsung saja memejamkan matanya.


.


.


Baru saja Mahen, Sarah dan Sandra tiba di kantor dengan begitu banyak belanjaan.


Sarah segera mengganti pakaian Sandra sebab Sandra sudah terlihat sangat mengantuk dan benar saja tidak berselang lama setelah digantikan pakaian ia tidur pulas di atas sofa bersama Mahen.


"Nanti Abang aja yang memindahkan Sandra!." Mahen menghentikan Sarah yang akan menggendong anak nya.


"Kamu mau makan?." Mahen bangkit dan merapikan apa yang dibeli mereka. Sekalian ia mencari benda yang sudah sejak tadi menganggu pikirannya. Apalagi benda itu kalau bukan lingerie yang sudah dibelinya dengan penuh perjuangan dan perdebatan dengan sang istri.


"Enggak Bang, aku masih kenyang. Abang mau makan?." Tanya balik Sarah setelah semuanya rapi dan pada tempatnya.

__ADS_1


Senyum sumringah yang tidak pernah dilihatnya kini sudah mulai ada penampakannya.


"Mau, tolong kamu siapkan!." Ucap Mahen tegas, memberikan bungkusan plastik yang bertuliskan lebel makanan pada Sarah. Yang Sarah kita itu adalah makanan.


"Iya Bang"


"Bang!" Pekik Sarah kaget saat tahu isi nya apa. Mahen sengaja membungkusnya double untuk mengelabui Sarah.


"Abang mau makan kamu sayang, Abang udah sangat lapar. Udah lama enggak memakan mu!." Peluk Mahen dari belakang.


"Persiapkanlah dirimu sekarang!." Mahen mengigit lembut daun telinga Sarah, Mahen bisa merasakan bulu roma Sarah merinding karena ulah nya.


"Bang Mahen?." Sarah memang sangat menginginkannya juga. Tapi begitu malu untuk memulai semuanya lagi.


"Kamu enggak mau?. atau enggak nyaman tempatnya disini?." Yah kalau pun Sarah tidak mau, ia pun tidak akan memaksakan kehendak.


Dengan cepat Sarah menarik tangan Mahen dan membawanya supaya tetep memeluk dirinya dari belakang sambil menggeleng.


"Aku malu Bang." Jawab Sarah jujur, Mahen bisa mendengar dan merasakan detak jantung Sarah yang begitu berdebar kencang.


"Kita seperti pengantin baru, karena sudah lama tidak pernah melakukannya. Kamu mau kan melayani Abang seperti dulu dengan penuh cinta, gairah dan hasrat?." Aduh Kenapa pakai ditanya lagi. Tanpa ditanya pun pipi Sarah sudah merah menahan malu. Apalagi ini Mahen menanyakan dirinya yang bersedia atau enggak?. Sudah bisa dipastikan wajah Sarah saat ini sudah seperti tomat matang di pohon nya.


Sarah lebih memilih mengangguk mengiyakan pertanyaan Mahen dari pada harus menjawabnya.


"Baiklah sayang, siapkan segera dirimu. Abang akan menunggu disini!." Mahen melerai pelukannya pada Sarah.


Menggendong Sandra untuk dipindahkan ke dalam kamar ya walau pun kecil tapi sangat nyaman.


Setelah Mahen masuk ke dalam kamar. Sarah mengedarkan pandangannya. Dimana mereka akan bercinta?. Karena Sarah hanya melihat satu sofa yang berukuran cukup panjang dan lebar. Karpet bulu yang cukup tebal yang baru dipasangnya atau dimana?. Sarah sedang menebak arena yang akan mereka gunakan untuk penyatuan mereka sambil mengulum senyum bahagia.


"Kamu belum siap-siap juga?. Abang udah lapar sangat sayang!." Rengek Mahen manja pada sang istri.

__ADS_1


__ADS_2