Suami ke dua

Suami ke dua
Setelah mengunci pintu


__ADS_3

Setelah aku mengunci pintu kamar. Aku memeriksa suamiku apakah dia susah tidur atau belum.


Aku lihat mas Gilang hanya pura pura tidur. Tidak mungkin hanya, aku tinggal sebentar sudah terlelap. Aku tahu dia hanya pura pura tidur untuk mengelabuiku.


Aku berusaha mencari apa yang terjadi pada suamiku. Aku mulai memijat kakinya agar dia merasa rileks.


Mungkin cara itu yang saat ini bisa aku lakukan. Dengan di pijat mungkin otot otot yang kaku bisa lemas kembali. Termasuk amarahnya saat ini.


Mas Gilang memang mudah sekali marah, apalagi dengan masalah sepeleh.


Harusnya masalah kecil dilupakan dan masalah besar di kecilkan.


"Ayah kenapa sih koq marah. Apa aku membuat salah. Maafkan ibuk ya..." Suaraku sedikit lembut.


Mas Gilang masih diam ...... Aku benar benar takut jika mas Gilang sudah mengetahui tingkah lakuku selama ini.


"Yaa ayah koq diam aja sih." Aku Berusaha minta maaf, tapi sepertinya rencanaku belum berhasil.


Mas Gilang masih diam. Aku benar benar takut, pikiranku sudah kemana mana.


"Ayah maafin ibuk yaaa." Tangis ku pecah saat itu juga.


Aku langsung memeluk suamiku dari belakang dan mencoba menciumnya


Mas Gilang masih saja diam tidak merespon.


Di sisa sisa air mataku aku mencium suamiku.

__ADS_1


Kemudian mas Gilang membalikkan badannya kearahku.


Dia membalas ciumanku. Dan mengulanginya dengan tempo yang cepat.


"Ahhh sebenarnya apa yang terjadi... suamiku itu marah karena apa?????" Batinku bertanya.


Aku tadi memijat suamiku bermaksud untuk meregangkan ototnya bukan untuk menegangkan.


Ahhhhh lagi lagi mas Gilang tidak bisa bertahan jika berdekatan denganku. Naluri laki lakinya langsung bergejolak.


Semudah itu kah dia memaafkan kesalahan yang sungguh tidak bisa di maafkan.


Aku masih sibuk bertanya pada diriku sendiri. Apakah aku benar benar pantas untuk di maafkan.


Disela sela permainanku dengan mas Gilang. Aku menebak nebak hal yang selanjutnya terjadi. Apakah aku akan di usir dari rumah atau


Dinda akan di pisahkan dariku.


Aku tidak bisa fokus pada permainanku. Aku lebih fokus mencari jalan untuk menyelamatkan diri. Aku berusaha mencari jawaban jawaban yang akan di berikan kepada suamiku nanti.


"Ayah kenapa sih ayah koq marah marah."


Mas Gilang mengusap keringat di tubuhnya.


"Kamu itu kalo tidur kaya' kebo. Ngak bisa di bangunin." Akhirnya mas Gilang menjawab pertanyaanku.


"Di bangunin dengan baik baik kan bisa. Ngak usah marah marah. Kamu itu yah sudah tua kelakuannya ngak bisa di ubah. Malu sama anak."

__ADS_1


Mas Gilang hanya tersenyum.


Amarah yang meluap luap secara tidak sadar nanti akan membunuh dirinya sendiri.


"Tadi itu hanya pengen tit.... tit...." Ucapku


Mas Gilang masih tersenyum.


Ahhh aku bernafas lega. Aku sudah berpikir kemana mana. Padahal tadi bayangkanku sudah terlalu jauh.


Ketakutan kini berangsur membaik.


"Kenapa tidak bilang dari tadi yah."


Dasar mas Gilang sudah hampir membuat jantungku copot.


Aku memukul bahu suamiku dengan lembut. Dan mengisyaratkan bahwa kami sedang baik baik saja.


Mas Gilang memang seorang yang tempramen entah mengapa sampai saat ini aku masih bersamanya dan dia bersamaku


Terkadang logikaku tidak bisa aku cerna sendiri. Seperti saat ini....


Aku kembali memeriksakan Dinda dan Dimas. Merekapun tampak tertidur pulas.


Mungkin mereka terlalu capek berkerja hingga cepat sekali kembali tertidur.


Aku memberikan selimut kepada Dimas yang masih tidur di atas sofa.

__ADS_1


.....


....


__ADS_2