
"Ayah aku pengen lihat bayiku". Ajakku.
"Apa kamu sudah kuat."
Kebetulan di rumah sakit ini ruangan bayi memang di pisah dengan ruangan ibunya. Jadi jika ingin melihat anakku. Aku harus pergi ke ruangan itu. Aku harus pergi memberi ASI. Karena Asi ini sudah menetes ingin di susu.
Mas Gilang membawaku dengan kursi roda.
Kulihat wanita yang cantik berjalan semampai.
"Yah.. sepertinya aku pernah lihat wanita itu. Tapi dimana ya."
"Ah kebiasaan kamu itu sok kenal. Mana mungkin wanita seperti itu mengenalmu." Kata suamiku sambil mendorong kursi roda.
"Emang kenapa."
"Kelihatannya dia bukan wanita biasa. Mana mungkin mengenal orang seperti kita buk."
"Ayah kapan ya. Aku bisa seperti dia. Punya baju mahal Tas mahal." Aku kebanyakan berkhayal.
"Ngomong apa kamu ini buk. Kita harus bersyukur. Kita sudah sempurna punya dua anak laki laki dan perempuan."
Aku Masih memikirkan wanita itu. Sepertinya dia tidak asing. Tapi siapa dia. Aku memutar otakku berusaha dengan keras mengingat dia.
Aku baru ingat dia adalah istri mas Adam "Ayu" aku pernah lihat di handphone mas Adam.
Kami berpapasan dengan Ayu jarak kami hanya satu jengkal saja.
Andai dia tahu aku wanita yang sering tidur dengan suaminya.
Andai dia tahu suaminya telah sering menghiatinya.
Andai dia tahu mas Adam bukan laki laki baik yang seperti dia kira.
__ADS_1
"Ngapain sih buk kamu lihat orang seperti itu." Tegor suamiku.
"Ayah ini." Aku Hanya bisa cangar cengir.
Aku sudah sampai di tempat bayiku yang nantinya akan di beri nama Devan.
Dia sangat kecil. Aku melihat seluruh tubuhnya apakah tidak ada yang kurang. Karena dia lahir umur delapan bulan.
Terima kasih ya Tuhan. Putraku begitu sehat. Aku mencoba menyusui naluri ku sudah tidak sabar.
Sebelum aku menyusui aku mencuci punting terlebih dahulu.
Putra kecilku menolak tapi aku coba terus. Hingga setetes dua tetes masuk ke dalam mulutnya.
Rasa bahagia ini tidak bisa aku gambarkan. Yang terlebih melihat dia sehat aku sangat bersyukur.
"Ayah lihat dia, sangat menggemaskan."
"Iya buk."
"Tunggu kamu sehat dulu ."
"Tapi aku sudah di betah di sini."
Aku Terus menggendong dan mendekapnya dengan hati hati. Sesekali aku menciumnya.
"Ayah aku tidak mau jauh darinya."
Mas Gilang bergantian menggendongnya. Kemudian suster datang. Mas Gilang begitu mahir menggendong bayi baru lahir. Padahal tidak banyak lelaki yang berani melakukannya. Karena ukurannya yang terlalu kecil
"Maaf Pak waktu menjenguk sudah habis. Besok lagi datang kesini." Kata suster itu.
"Itu kan anakku koq dia yang ngatur sih."
__ADS_1
"Apaan kamu sih buk."
"Tapi yah aku masih mau di sini."
"Ayo kita balik ke ruanganmu."
Mas Gilang mendorongku pergi.
"Putra kita perlu istirahat. Kamu juga harus istirahat."
Aku masih kesal terhadap suster itu. Tapi mas Gilang tidak menghiraukan keluhannya.
Bayangkan saja aku harus terpisah dengan putra kecilku.
Hati siapa yang tidak tersayat sayat. Aku sungguh tidak ingin jauh darinya
Tapi semua itu demi kebaikanku juga. Aku masih belum sembuh benar.
"Kenapa kamu masih cemberut saja." Tegor suamiku.
"Ahhh ngak apa apa."
"Kalo kamu sembuh lakukan sesukamu. ini tidak berlangsung lama."
"Iya."
"Sabar saja. mungkin besok kita sudah bisa pulang."
"Benar kah ayah."
"Iya kalo kamu sehat."
.......
__ADS_1
.......
........