
Tentang rasa
Tentang rindu
Tentang cinta
Rasa itu ..... rindu itu ...... dan cinta itu .......
Yang tidak ku miliki tapi aku jalani. Tidak dapat aku berharap banyak dengan mas Adam. Terkadang aku ingin usai saja tapi rindu ini tidak bisa ku menolaknya.
Saat dengan mas Gilang pun aku masih memikirkan mas Adam. Padahal aku tau mas Adam sudah punya kehidupan sendiri.
Masih saja aku menggoda di kehidupannya. Apakah aku begitu menarik bagi mas Adam. Hingga dia masih tidak melepaskan aku.
Padahal aku ini hanya wanita biasa.
Biasa dengan segala cuaca .... biasa dengan segala kondisi ...... biasa dengan segala ucapan.
Saking biasanya aku menjadi wanita yang tidak tahu malu.
Sore ini aku mencari lahan untuk membuat ruko. Kebetulan di sini banyak tempat wisata.
Aku ingin membuat jualan kecil kecilan. Tentunya menyewa karena uang ku hanya sedikit.
Apalagi di usia kandungan mulai membesar tidak memungkinkan untuk berkerja berat.
terrrt terrrt
Suara handphoneku berbunyi
" Lagi apa. Sapa mas Adam.
"Nyari tempat buat jualan.
"Sipp... buat jualan apa? Selidik mas Adam.
"Pusat oleh oleh.
"Bagus itu.
Aku hanya membalas dengan seperlunya.
__ADS_1
"Sewanya berapa. Mas Adam terus bertanya.
"Tiga juta. Jawab ku malas. " Tapi nggak jadi.
"Kenapa???? Apa tempatnya kurang strategis.
"Bukan.
"Terus kenapa.
"Nggak apa apa. Aku Sedikit berbohong. Aku tau mas Adam langsung mengetahui saat aku berbohong.
"Apa tidak punya uang.
Aku hanya diam. Masa uang tiga juta saja aku tidak punya.
Meski aku tidak punya uang masih saja aku mau memperlihatkan kelemahanku.
Mudah saja mas Adam mengetahui kelemahanku karena kami sudah mengenal cukup lama.
Ahkirnya mas Adam meminta nomor yang tertera di pintu ruko.
"Lho pak ini apa maksudnya. Tanyaku pada laki laki itu.
Sepertinya kita tidak saling mengenal. Aku masih bingung.
"Ini ruko punya ibu. Sambung laki laki itu.
"Saya tidak mengerti maksud bapak.
"Tadi ada yang menelpon saya dan mengaku namanya Adam. Kami sudah ada kesepakatan. Ruko ini sekarang milik ibu.
Aku masih bingung. Aku melihat deretan ruko itu.
Ruko itu berjajar tiga pintu maksudku tiga ruko.
"Semuanya milik ibu.
"Haaa semuanya bukannya hanya satu.
"Bukan bu bapak Adam sudah membeli semuanya.
__ADS_1
Aku masih kaget mas Adam bener bener membuat syok terapi.
Padahal aku menyewa tiga juta saja tidak mampu.
Aku Membuka ruang ruko itu, lantainya sudah di lapisi keramik putih. Panjangnya tiga meter kali tiga meter.
Ini bagiku sudah lebih dari cukup. Tinggal renovasi sedikit.
"Thank you sayang. Ku kirimkan kepada mas Adam.
"Apanya.
Menyebalkan mas Adam pura pura tidak tahu.
"I love you.
Mas Adam hanya tersenyum. Aku tahu itu menandakan setuju dengan sikapku. Meski dia tidak mengakuinya tapi senyum itu mengartikan segalanya.
"Ciee bentar lagi jadi bos. Mas Adam meledekku.
"Selalu. Aku mulai bete.
"Bu bos mau jualan apa nih.
"Kurang tau.
"Gimana kalo soto. Usul mas Adam.
"Boleh boleh. "Aku pengennya satu untuk pernak pernik kerajinan. Kedua untuk oleh oleh makanan ringan. Ketiga untuk soto.
"Bagus itu.
Aku masih memandangi langit langit ruko itu masih bagus.
"Terus kapan di mulai.
"Belom nunggu permak dikit.
"Oke lanjut.
"Sipp.
__ADS_1