Suami ke dua

Suami ke dua
Devan


__ADS_3

Mas Adam hanya bisa melihat dari ke jauhan. Si junior masih di tidur di antara bayi bayi yang di jejer rapi.


Dia begitu iri melihat mas Gilang menggendong


dan mengadzani. Si junior begitu kecil karena masih delapan bulan dia keluar.


Mas Adam tampak begitu bahagia karena calon penerusnya seorang lali laki. Meski melihat dari kejauhan terpancar senyum itu.


Ternyata tidak bisa memiliki itu terasa menyakitkan. Padahal selama ini dia selalu mendapat yang di inginkan. Tidak dengan junior.


Mas Adam memutuskan untuk di karantina oleh penyakit yang di deritanya.


Dia memilih di rumah sakit yang sama denganku.


Aku mulai sadar dari efek bius. Aku melihat di sekelilingku. Badanku terasa kaku.


"Kamu lihat apa buk." Mas Gilang memandangiku dari dekat.


"Ahhh enggak yah."


Aku mencari mas Adam. Aku datang kesini dengan mas Adam tapi kemana dia. Jujur aku khawatir karena dia kemarin dalam keadaan sakit.


"Bayiku laki laki atau perempuan."


"Laki laki." Seperti yang di perkirakan mas Gilang.


"Ayah aku pengen lihat boleh nggak." Pintaku.


"Kamu belum kuat. Nanti kalo sudah kuat."

__ADS_1


Bagaimana perasaanku saat ini jauh dari anakku.


"Ayo makan dulu." Mas Gilang menyuapiku.


Suamiku tidak tidur semalam dia berjaga untukku.


"Ayah sudah makan."


"Belum."


"Dari kemarin ayah belum makan."


"Iya."


Bagaimana mas Gilang bisa makan kalo aku masih belum stabil.


Aku masih terus di suapi suamiku. Mas Gilang memang tampak garang tapi hatinya begitu lembut. Bagaimana seandainya dia tau ayah biologis dari putraku.


"Nanti aku makan. Dan melihat bayi kita."


"Terus Dinda kemana."


"Aku titipkan di rumah ibuk. Sebenarnya dia mau ikut. Tapi kasihan. Mungkin nanti akan kesini bersama ibuk." Jelas suamiku.


Kebetulan rumah mertuaku tidak jauh dari rumahku hanya berbeda RT saja.


Setelah makan mas Gilang mengambilkan minum. Kemudian mengusapkan sisa air minum di bibirku dengan tisu.


Mas Gilang membantuku membersihkan diri.

__ADS_1


"Yaa Tuhan maafkan aku. Telah menyakiti lelaki sebaik ini." Hatiku tersentuh.


Harusnya aku minta maaf langsung dengan orang yang aku sakit ini. Tapi bukan maaf yang aku dapatkan mungkin aku bisa di kuburnya hidup hidup.


Aku memeriksa handphoneku ada pesan dari mas Adam.


"Aku karangtina selama dua minggu . Semoga cepat sembuh. Aku sudah melihat anak kita."


Bisa bisanya mas Adam mendoakan aku agar cepat sembuh. Padahal dia sendiri sedang sakit. Entah bagaimana keadaannya.


Kulihat handphone mas Adam sudah tidak aktif lagi.


Mas Gilang meninggalkan aku sendirian. Dia sibuk mengamati putra kecilnya. Aku sampai bosan berada di kamar sendirian.


Lama aku menunggu suamiku. Tapi dia tidak segera muncul.


"Ayah koq lama sih." Aku mulai manja dengan suamiku.


"Putra kita di kasih nama apa yaa." Mas Gilang memikirkan sesuatu.


Aku hanya berpikir dalam hati. Mas Adam tidak punya kesempatan mengambil alih bayi ini. Karena suamiku cukup cekatan ngurusi seorang bayi.


"Bagaimana kalo diawali dengan huruf D karena kakaknya juga D. Emmm bagaimana kali Devan."


Mencari ide sendiri dijawab sendiri. Kalo seandainya aku usul pun tidak ada gunanya. Mas Gilang lebih mengutamakan pendapatnya di bandingkan aku.


Karena Dinda dulu juga seperti itu. Dari pada debat aku lebih memilih untuk berdamai saja.


"Devan."

__ADS_1


...........


...Devan...


__ADS_2