
Jangan kira mas Gilang itu dulu sebaik ini. Kalo mas Gilang dulu sebaik ini mungkin aku tidak pernah bermain main dengan mas Adam.
Awal aku ketemu dengan mas Adam itu hanya kekesalan ku terhadap mas Gilang tapi sekarang malah ke enakan.
Waktu itu aku masih mengandung Dinda. Karena aku sedang hamil aku berhenti bekerja. Dulu aku karyawan sebuah pabrik. Tapi setidaknya aku punya uang untuk mencukupi kehidupanku.
Dulu mas Gilang orang yang temperamen. Apalagi dia orang yang pemalas. Mungkin waktu itu dia masih terlalu muda. Dan kurang bisa bertanggung jawab.
"Mas makan dulu." Ajakku makan.
"Apa tidak ada ikannya." Bentak mas Gilang.
"Ini kan ada." Aku menunjuk tempe goreng dipiring.
Di meja sudah aku nasi, tempe, sayur kangkung dan sambal.
Mas Gilang tidak jadi ikut makan karena tidak selera makan. Padahal menurutku masakanku sudah cukup bergizi.
Tempe juga di beli pakai uang batinku. Jika aku
beli ikan yang mahal tentunya hanya bisa beli ikan saja, terus beras minyak garam dan lain lain.
Akhirnya aku hanya makan sendiri " Biarlah aku makan aku sendiri. Aku harus makan demi bayi dalam kandungan ku. Mas Gilang nanti kalo laper juga makan sendiri."
...........
__ADS_1
Sudah siang mas Gilang belum bangun juga.
"Mas bangun."
"Kopinya mana." Pinta suamiku.
Bagaimana bisa buat kopi jika gula habis. Aku tidak berani membangunkannya lagi.
"Kopinya mana." Bentak suamiku.
"Gula nya habis."
"Beli dong."
"Uangnya ngak ada." Aku hanya bisa menahan air mataku. sebagai wanita jangankan di pukul di bentak sedikit saja hati sudah tidak tahan ingin menangis. Apalagi aku yang sedang hamil anak pertama jujur aku terlalu sensitif.
Langsung tangisanku pecah. Padahal dia ngasih aku uang dua hari lalu sebesar dua puluh ribu.
Itupun sayur sayuran ngambil dari belakang rumah.
...........
Sudah sebulan mas Gilang tidak bekerja. Dia hanya duduk menonton televisi.
"Mas hari ini tidak bekerja."
__ADS_1
"Males kerja nggak ada handphone.
"Bekerja dan tidak punya handphone itu apa hubungannya." Batinku.
Aku tahu handphone nya mas Gilang hilang di jambret orang. Tapi secara tidak langsung dia ingin aku yang menggantikannya. Dari mana aku dapat uang untuk membeli handphone. Untuk makan saja sudah susah
Jika suamiku benar benar waras dia akan bekerja keras dan bisa membeli handphone baru.
Akhirnya aku utang ke rentenir untuk membeli handphone.
Aku pikir setelah menikah aku tidak usah bekerja lagi tapi bayanganku salah. Aku memutuskan untuk bekerja di tetangga. Ternyata melihat kenyataan tidak sesuai bayangan kita itu menyakitkan.
Aku mengambil baju untuk di setrika di rumah. Membersihkan rumah orang orang kaya di depan gang.
Segala pekerjaan aku lakukan demi mendapatkan uang. Urat malu ini sudah putus jika urusan dengan kebutuhan perut.
Pekerjaan ini aku lakukan berlangsung lama. Aku hanya berjanji dengan diriku sendiri " Aku tidak akan menggantungkan hidupku kepada siapa pun termasuk suamiku sendiri. Jika menggantungkan hidup hanya kepada penguasa alam semesta. Yaitu Tuhan semesta alam."
Sejak saat itu aku harus berjuang demi Dinda. Entah yang aku salah atau benar aku kurang tahu. Yang terpenting untukku adalah kebahagiaan anakku.
..........
Tapi itu dulu mas Gilang yang sekarang berubah seratus delapan puluh derajat mungkin dulu sedang khilaf atau kemasukan arwah orang lain. Hingga bertingkah laku bukan suamiku.
Sekarang suamiku perhatian dan bertanggung jawab. Tapi aku sudah terlanjur kecemplung cintanya mas Adam.
__ADS_1
........