
Malam semakin larut, Sarah memposisikan wajahnya tepat di depan wajah Sandra yang terlelap. Tangannya terulur mengelus pipi sambil melihat bulu mata yang sangat lentik seperti Mahen. Hidung dan bibir pun sangat mirip dengan Mahen.
" Maafkan Mama sudah memisahkan mu dengan Papi. Biarkan Papi hidup bahagia bersama Kak Syifa dan Mami Lydia. Kamu masih memiliki Mama, Kak Doni dan Kak Ratih." Gumam Sarah lirih.
Semua Sarah lakukan untuk keselamatan mereka semua. Sarah tidak ingin lagi ada nyawa yang melayang yang disebabkan oleh dirinya.
.
.
Satu bulan sudah bisa merubah Mahen dengan penampilan yang semakin fresh dengan kobaran api semangat untuk memulai kembali semuanya dari awal dan melanjutkan pencariannya.
Walau satu bulan itu sudah meninggalkan luka bagi Lydia yang sudah menyerah terhadap Mahen dan pergi jauh dari rumah Pradivya tanpa membawa Syifa. Karena ada Hafis yang sangat melarangnya, terlebih ada hitam di atas putih jika Syifa berada dalam perlindungan Ayah kandung nya yaitu Hafis.
Dokter Rudy lebih awal melakukan visit terhadap Mahen, sebab rencana hari ini Mahen akan pulang karena sudah dinyatakan sehat oleh dirinya. Yang sebarnya Mahen tidak mengalami ganguan mental, ia hanya berusaha menepi dan menghukum dirinya karena tidak bisa menemukan Sarah.
Anggap saja dirinya gila, tapi entah dorongan apa yang selalu sanggup menguatkan hati dan pikirannya kalau kedua orang yang sudah meninggal itu masih hidup dan berada di suatu tempat yang tidak ingin ditemukan oleh dirinya.
" Terima kasih sudah menghidupkan kembali orang yang sudah berputus asa ini. Terima kasih untuk semangat yang selalu di perlihatkan Dokter Rudy untuk memberikan kesembuhan dan mengembalikan kepercayaan diri ku. Terima kasih untuk pandangan hidup yang selalu simpel tapi sungguh sangat luar biasa menarik untuk di simak. Terima kasih untuk dedikasi yang begitu tinggi untuk pasien-pasien seperti ku."
Pujian yang begitu tulus diucapkan Mahen untuk pria yang begitu dengan sabar sudah membantu dirinya sampai sekarang ini. Yang tidak bisa dibalasnya dengan apa pun juga. Kalau ada yang bisa diberikannya maka ia akan dengan suka rela memberikannya untuk Dokter muda tersebut.
" Pak Mahen terlalu berlebihan memuji saya. Saya sangat senang bisa membantu Pak Mahen melewati masa sulit Pak Mahen. Dan itu semua tidak lepas dari usaha Pak Mahen untuk kembali sembuh dan memperjuangkan apa yang yang menjadi keyakinan dan insting Pak Mahen. Dengan sangat hati juga sama menerima ucapan terima kasih Pak Mahen. Pak Mahen memang seorang pengusaha yang sangat baik, cerdas dan selalu merendah."
__ADS_1
Keduanya berjabatan tangan, Doktor Rudy mengantar Mahen sampai di depan pintu gerbang. Dimana Erik sudah menunggu nya.
Jangan ditanya kenapa Erik bisa tahu hari ini Mahen akan pulang?. Karena jelas-jelas Mahen yang menghubungi Erik secara langsung menggunakan ponsel Doktor Rudy.
Bahkan tidak ada yang tahu kalau Mahen sudah keluar hari ini dari tempat yang sudah mengurungnya selama hampir dua bulan.
" Selamat datang Bos Mahen " Sambut Erik menjabat tangan Mahen dan mempersilakan masuk ke dalam mobil.
" Terima kasih Erik. Maaf karena aku pernikahan mu dan Evi harus di undur. Kau pasti sudah enggak sabar ya?." Permohonan maaf Mahen yang diakhiri dengan sebuah godaan.
Erik hanya tersenyum sambil menggaruk kepala dan menatap Bos nya yang terlihat lebih tampan berkali-kali lipat dengan uban yang dibiarkannya mewarnai kepala Mahen.
" Mau pulang kemana Pak Bos?." Tanya Erik saat mobil terhenti karena jalanan yang cukup padat di pagi ini.
Mahen tergelak mendengar pernyataan Erik yang terdengar seperti sebuah ledekan.
Erik jadi tidak enak sendiri dengan ucapan Mahen. Erik begitu lupa kalau semua aset Mahen sudah habis. Ada yang berpindah tangan ke tangan Mama Kemala, Hafis dan saudara Mahen yang lain. Yang Mahen miliki kini hanya satu Showroom yang sudah di rintis kembali oleh Erik dan Rendy.
" Maaf Pak Bos "
" Tidak masalah Erik, kau dan Rendy sudah sangat membantu ku dalam mendirikan kembali perusahaan itu. Hanya itu yang ku miliki saat ini. Tapi semua aset berharga Sarah dan Syifa aman kan?."
" Aman Pak Bos!. Mereka tidak bisa menyentuh itu dan mereka tidak mengetahuinya juga sebab saya sudah pindahkan ke Bank lain."
__ADS_1
" Alhamdulilah kalau sudah kau aman kan!."
Sampai di kantor hari masih siang. Tidak ada hal apa pun untuk menyambut kedatangan Mahen. Mahen sanggup berjalan sambil menegakkan kepala sebab di kantor nya sekarang semua sudah diganti dengan orang-orang yang baru.
" Kalau tidak ada meeting hari ini, kau boleh pulang Erik, biar Rendy saja yang standby di sini." Mahen meminta Erik untuk beristirahat. Karena ia sangat tahu waktu yang sudah dihabiskan oleh Erik untuk dirinya, begitu juga dengan Rendy. Namun Rendy melakukanya sebagai penebus rasa bersalahnya.
" Meeting tidak ada Pak Bos. Tapi saya sudah janji pada Evi untuk bertemu di sini. Ada yang mau kita beli untuk bawaan nanti." Ucap Erik dengan malu-malu.
" Oh ok kalau begitu. Kau tunggu saja di sini sambil istirahat. Nanti aku juga ingin bertemu untuk mengucapkan terima kasih pada Evi secara langsung." Balas Mahen.
.
.
Malam ini Dokter Rudy pulang lewat dari jam makan malam di rumah nya. Ibu Riska dan Sarah sedang duduk di ruang tengah dengan memperhatikan Sandra yang masih aktif berlari ke sana kemari seperti tidak ada lelahnya. Doni dan Ratih sudah masuk kamar untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh Guru nya masing-masing.
Bugh
Tubuh Sandra berhasil ditangkap oleh Dokter Rudy setelah Dokter Rudy menjatuhkan tubuhnya karena bertabrakan dengan si kecil Sandra.
Si kecil Sandra malah tertawa melihat Dokter Rudy yang terjatuh karena menyelamatkan dirinya. Namun justru mampu membuat Dokter Rudy ikut tertawa karena tingkah menggemaskan Sandra.
Sarah dan Ibu Riska hanya berdiri melihat dari kejauhan tingkah keduanya. Ibu Riska menatap penuh arti terhadap Sarah. Sarah menurutnya sangat cocok untuk mendampingi adik satu-satu nya itu. Terlepas Sarah sudah memiliki dua orang anak dan masih menjadi istri dari Mahendra Pradivya.
__ADS_1
" Aku harap kamu bisa mempertimbangkan keberadaan Rudy dalam hidup mu, Sarah. Rudy sangat tulus menyayangi semua anggota keluarga mu. Terlebih pada Sandra, Sandra memerlukan sosok Ayah dalam hidup nya." Ucap Ibu Riska sambil mengusap punggung Sarah dan mengajaknya untuk duduk kembali.
" Aku tahu Rudy sudah lama menyimpan perasaan sukanya pada mu. Dan seperti yang kamu tahu, secepatnya ia ingin berkeluarga dan membina keluarga nya sendiri." Lanjut Ibu Riska.