
Pagi
Hari minggu ini Dinda masih bermalas malasan. Dia masih menikmati kasur kesayangannya. Karena besok Dinda harus mulai berkerja lagi.
"Dinda......" Teriak ibunya terdengar dari setiap sudut rumah.
"Iya buk." Lantas seusai menjawab Dinda melanjutkan tidur.
"Dindaaa......" Ibuknya kembali memanggil.
Rosa lupa klo saat ini ada orang lain di rumah ini, yaitu Dimas.
Dimas tampak canggung mendengar drama keluarga Dinda.
"Maaf ya ... Dimas. Ibuk berisik banget." Ibunya Dinda menyuguhkan secangkir kopi hitam.
"Iya tante ngak pa pa. Itu tante saya mau pamit pulang."
"Nanti aja siang siang sekalian... Dinda ikut nebeng." Pinta ibunya Dinda.
"Takut merepotkan kalo di sini lama lama."
"Nanti biar di antar Dinda jalan jalan di sekitar sini."
"Iya tante."
Sementara Dinda masih kelihatan lusuh karena baru bangun.
"Dinda sini .... ." Teriak ibunya Dinda.
"Iya buk."
"Ayo kita makan ajak Dimas." Suruh Ibunya.
Kebiasaan ibunya Dinda Manggil orang kaya' ngajak berantem aja. Padahal cuma nyuruh makan. Harusnya ngajak orang makan itu dengan lemah lembut.
__ADS_1
Yaa memang karakter seseorang itu berbeda beda. Apalagi orang desa seperti rosa sudah biasa teriak teriak di hal yang sepele.
Di rumah Dinda memang tidak ada ruang makan tersendiri. Mereka lebih senang makan di ruangan tengah sambil nonton televisi.
Dimas, Dinda dan ayah ibunya. Mereka sudah biasa makan di pagi hari setelah itu mereka akan pergi untuk melakukan aktivitas. Beda dengan Dimas yang tidak biasa sarapan pagi. Tapi demi menjaga perasaan keluarga Dinda Dimaspun ikut dalam kegiatan mereka.
Dinda menyantap dengan lahap, Ibunya sengaja memasak sayur sop, perkedel dan ayam goreng kesukaan Dinda.
"Ayo Dimas makan seadanya jangan malu malu." Ajak ayah Dinda. Meski Gilang orang yang berkarakter keras tapi dia selalu royal kalo soal makanan, Apalagi dengan seorang tamu.
"Iya om."
"Dinda tadi mimpi apa koq ngelindur." Tanya ibunya.
"Memang Dinda ngelindur lagi buk." Tanya Dinda penasaran.
"Iya ... kamu berjalan jalan menghampiri Dimas."
"Untung aja Dinda tidak ingat sama sekali. Bisa malu aku jika ketemu Dinda." Batin Dimas.
Sementara Dinda menutup mulut ibunya dengan telapak tangan. Dinda tidak ingin ibunya melanjutkan ceritanya.
"Ibuk cukup... jangan mengumbar isu yang tidak jelas." Jawab Dinda manja.
Dinda meski sudah dewasa dia masih berlaku seperti anak kecil.
"Ayo Dimas nambah lagi." Ucap Gilang.
"Iya om." Dimas yang awalnya hanya ingin mencicipi masakan ibunya Dinda. Malah sekarang dia makan lebih banyak dari pada Dinda.
......
.......
Dinda mengajak Dimas mengunjungi beberapa stan kuliner milik ibunya.
__ADS_1
"Ini mau kemana."
Dinda tidak menjawab pertanyaan Dimas. Dia mulai turun dari mobil dan mengawasi stan stan kuliner yang berjejer.
Ibunya sengaja membangun tempat istirahat untuk orang yang perjalanan jauh. Disana ada tempat untuk orang sekedar menunaikan ibadah atau hanya untuk ke kamar mandi.
Terkadang hanya untuk sekedar minum kopi. Karena kopi sudah menjadi kebutuhan seperti ayahnya yang tidak bisa lepas dari kopi.
"Ngapain kita kesini." Seru Dimas.
Dimas mulai kesal lagi. Bukan di ajak ke tempat wisata malah di ajak ke tempat seperti ini.
"He aku ngomong sama kamu. Malah diem aja."
"Aku tahu.... kamu mau ngomong apa. Kamu ingin ke tempat wisata kan. Ini juga wisata... Tapi wisata kuliner." Jawab Dinda.
Dimas masih saja kesal. Dinda tidak berlaku dengan baik. Dimas di acuhkan begitu saja, karena Dinda sibuk dengan dirinya sendiri.
Dimas dari pada kesal dia memesan semua makanan yang ada di situ. Pesenan itu memenuhi mejanya.
"Mas ....mas tempat Ini milik siapa ya." Dimas bertanya pada salah satu penjaga di situ.
Dimas hanya tidak suka melihat Dinda berlaku seperti bos saja. Memerintah orang seenaknya.
"Milik buk Rosa mas."
"Bu Rosa ibunya Dinda."
" Iya mas."
"What..... Tante Rosa keren banget."
.....
......
__ADS_1