Suami ke dua

Suami ke dua
Dinda kembali terpukul


__ADS_3

"Jangan menangis lagi Din hapus air mata kamu."


"Pak Dimas...... ini Dinda lagi bersedih."


"Menangisnya, di lanjut nanti aja."


"Mana bisa pak." Dinda mulai kesal.


"Kerjaan kita masih banyak."


"Saya sudah tidak peduli dengan pekerjaan. Apalagi yang berhubungan dengan pak Adam. "


"Terserah kamu aja. Tapi kita harus pergi ke proyek baru nya om Adam." Paksa Dimas.


.......


.......


Sementara Rosa masih bergelut dengan perasaannya. Dia tidak berani jika harus menghadapi putri tersayang nya.


Rosa tidak bisa menyusun kata untuk minta maaf terhadap putrinya. Tindakan sungguh melukai hati yang lembut itu.


"Sayang ayo kita pulang." Ajak Adam.


"Aku mau di sini saja mas."


"Bagaimana bisa aku meninggalkan kamu sendirian."


Rosa hanya diam...


"Ayo sayang. " Bujuk mas Adam.


Setiap kali mas Adam memanggilku sayang hatiku langsung melompat kegirangan.


"Bagaimana bisa.... Aku pulang. Apa yang harus


Aku katakan jika bertemu Dinda."


"Dinda sudah dewasa mungkin dia bisa mengerti."


"Dia putri ku mas. Aku Tahu perasaannya. "


"Iya iya dia putrimu. " Suara Adam keras.

__ADS_1


Mereka berdua langsung diam. Adam tahu watak kekasihnya yang keras kepala. Berdebat hanya membuat mereka sakit hati. Adam sudah tidak tahu lagi bagaimana cara membujuk kekasihnya.


"Terserah kamu aja. "


"Mas....." Rosa berlari memeluk Adam.


Adam mendekap kekasihnya dan sesekali mencium rambutnya yang terurai.


Aku tahu Dinda sangat kecewa yang lebih aku takut kan lagi. Dinda mengadukan ke mas Gilang.


Aku tidak bisa menatap mereka berdua saat ini.


"Mas..." Aku masih bimbang dengan perasaan ku sendiri.


"Sayang kamu itu...." Adam tidak melanjutkan kata katanya.


Apalagi Adam tidak mau membebani pikiran nya dengan berlebihan. Masalah pekerjaan sudah menguras pikiran. Di tambah lagi dengan Rosa.


Tidak biasanya kekasih Adam itu begitu lembek.


"Sayang rapikan pakaian mu." Pinta Adam.


Aku tahu mas Adam juga gusar seperti aku. Hanya saja dia bersikap seakan baik baik saja.


Ingin sekali aku pergi dengan mas Adam dan meninggalkan semuanya. Tapi bagaimana dengan bisnis ku, bisnis mas Adam. Dinda... Devan...


Entahlah.......


Aku memutuskan pergi dengan mas Adam. Dengan proyek barunya D&D.


Mas Adam selalu melakukanku dengan baik di depan umum. Aku berusaha tidak agresif berada di antara bawahan mas Adam.


Aku berusaha mengendalikan emosi ku. Padahal mas Adam selalu senang jika aku agresif dan to the point.


Mas tersenyum padaku dengan khasnya.


"Mas disini banyak orang. " Sebuah isyarat aku berikan, agar mas Adam tidak bersikap nakal.


Aku sedikit menjaga jarak dengan mas Adam. Agar pekerja mas Adam tidak ada yang curiga dengan hubungan kami.


Rasa ini sungguh tidak nyaman bagiku. Karena aku biasanya menempel terus di tubuh mas Adam.


Ini kah bedanya.... jika status itu penting. Mungkin jika aku menjadi istri mas Adam, pasti mas Adam sudah menggandeng ku dan memamerkan ke semua orang. Kenyataannya...

__ADS_1


Ketika aku dan mas Adam melewati sebuah lorong. Mas Adam mulai nakal... Dia mencium pipiku.


"Mas nanti ada orang. " Ucap ku.


"Ngak ada orang disini." Mas Adam mencium ku lagi.


"Sayang aku tuh ngak bisa menahan jika dekat kamu." Rayu mas Adam.


"Kamu tuh mas bisa aja."


"Bener, masa' aku bohong."


"Ibuk.......... "Dinda memergoki ku saat mas Adam berulangkali mencium ku.


"Dinda tunggu. " Aku mengejar putri ku setengah berlari.


Dinda...... Dinda.....


"Ibuk bisa jelaskan..."


Dinda pergi tidak menghiraukan kata kata ku.


Dinda.... Dinda.....


Aku Terus mengejar nya.


Aku tidak berpamitan dengan mas Adam dan terus mengejar Dinda.


"Dimas ayo kejar Dinda." Aku bersama Dimas mengejar Dinda.


"Iya tante."


Dinda terus berlari kemudian dia menaiki ojek....


....


Dinda menuju arah ke rumah. Sementara aku dan Dimas masih membuntuti nya.


........


.....


.....

__ADS_1


__ADS_2