
Dinda tunggu........
Dimas menghampiri dinda. Sedikit berlari dia mengejar dinda. Entah apa yang terjadi dengan gadis kecil itu.
Gadis itu tampak begitu terpukul. Cinta pertamanya telah menghancurkan nya. Orang yang dia cintai ternyata lebih memilih ibu kandung nya sendiri.
Dinda memasuki mobil Dimas. Dia hanya diam dengan wajah yang datar.
"Din ... kamu baik baik saja." Tanya Dimas.
Dimas memegang kunci mobil itu. Dia hendak menyalahkan nya.
Dinda tidak ingin menjawab pertanyaan Dimas,
hanya diam yang bisa dia lakukan.
"Din .... katakan sesuatu jangan buat aku khawatir." Tanya Dimas kembali.
Dimas meraih kepala Dinda untuk bersandar dipundaknya. "Kamu tidak perlu berkata apa apa, cukup bersandar lah di bahuku." Batin Dimas.
Dinda orang yang begitu ekspresif hanya bisa terpaku. Keresahan apa yang sedang merasukinya.
Sungguh kecewa kah dia terhadap ibunya. Ibu yang dia bangga kan adalah.... Orang yang tidak pantas lagi jadi superhero.
Dan ayah nya bukan satu satunya orang yang di cintai ibunya. Ada cinta yang lain yang tumbuh subur di hati ibunya.
__ADS_1
Semarah itu kah Dinda. Hingga dia tidak bisa mengungkap kan nya.
"Din klo kamu ingin menangis. menangis lah." Pinta Dimas.
"Pak Dimas ibuk...." Dinda langsung memeluk Dimas.
"Iya din aku tau. Aku juga melihatnya. " Dimas memeluk Dinda agar dia merasa kuat.
Dimas tau ada pergulatan batin di hati Dinda. Tapi kita tidak bisa menghakimi seseorang. Karena perasaan itu benda yang tidak bisa di tebak.
hiks... hiks ..... tidak ada air mata di pipi lembut itu. Hanya ada suara kecil yang tersedu sedu.
Dada Dinda terasa sesak, seakan oksigen di area situ berhenti berputar.
"Pak Dimas.....ibuk ternyata adalah....."
"Dinda ngak nyangka ternyata pak Adam adalah orang yang di cintai ibuk. Dan perhatian pak Adam selama ini hanyalah semata mata. Karena cintanya terhadap ibuk."
Banyak pertanyaan dalam hati Dinda kenapa ibuknya bisa seperti itu.
Apakah ibuknya orang yang bajingan yang bisa bercinta dengan dua orang laki laki sekaligus atau kah ibunya orang yang suka dengan uang.
Jelas sekali pak Adam lebih segalanya dari pada ayah kandungnya. Tapi ....
"Din jangan seperti ini. Aku tidak bisa melihat kamu seperti ini."
__ADS_1
"Pak ....." Tangisan Dinda langsung pecah saat itu juga. Dia tidak bisa membendung lagi air matanya.
Dinda begitu kecewa melihat ibuknya.
"Kenapa ibuk seperti itu pak. Kenapa...." Tangisan Dinda menjadi jadi.
Dimas tidak bisa mengucapkan apa apa lagi. Dia hanya mendengar kan keluhan keluhan Dinda.
Dimas hanya berpikir " Ternyata tante Rosa adalah orang yang benar benar hebat. Dia mampu menaklukan om Adam. Om Adam adalah seorang bos besar yang banyak di kagumi banyak orang."
Sementara Dinda sudah banyak mengeluarkan air mata, Namun kekesalannya pun tidak bisa di hilangkan.
Antara marah, kesal, kecewa semua campur aduk.
Tentang rasa hanya Adam dan Rosa yang tau. kita tidak bisa menghakimi seseorang. Karena hakim terbaik adalah Tuhan semesta. Mungkin Tindakan mereka memang salah. Tapi mereka juga yang bisa merasakan....
Untuk Adam dan Rosa.... jalan apakah yang harus mereka tempuh. Yang tidak menyakiti siapapun. Tapi....
"Sudah din jangan menangis lagi." Pinta Dimas.
Dimas memang orang yang mengesalkan , tadi di suruh menangis. Giliran Dinda sudah menangis sekarang malah di suruh berhenti.
.....
.......
__ADS_1
....