Suami ke dua

Suami ke dua
Bab 74


__ADS_3

Sarah sudah berbaring lah di atas tempat tidur pasien dengan tangan yang sudah di pasang selang infus dan tangan yang satu lagi di genggam oleh Mahen. Laporan Dokter mengatakan semua dalam kondisi baik baik Sarah atau pun calon bayi mereka. Sarah hanya kelelahan, syok dan banyak pikiran sehingga menimbulkan tingkat kecemasan yang berlebihan. Mahen sudah menelepon Mama Kemala dan Papa Darwin begitu juga sudah mengabari Ibu dan Bapak di kampung takutnya terjadi apa-apa tapi Alhamdulilah semuanya dalam keadaan baik.


" Abang " Sarah membuka kedua matanya dan ia menemukan Mahen yang menatap intens padanya.


" Ada yang dirasa sakit, mau minum atau mau apa?." Mahen langsung melayangkan beberapa pertanyaan pada Sarah.


Tangan Sarah yang pasang infus meraba perutnya masih besar, karena ada pergerakan dari calon anak nya. Semoga saja baik-baik.


" Calon bayi kita sehat-sehat aja kan Bang?." Tanya Sarah begitu cemas dengan suara yang bergetar dan mata yang tampak berkaca-kaca.


" Alhamdulillah semua baik sayang, kamu dan calon bayi kita baik-baik aja." Mahen cepat memberitahunya sebab ia tidak ingin menambah beban pikiran Sarah.


Sarah tidak kuasa lagi menahan rasa haru yang membuncah di dalam dada, Hingga ia menumpahkan dalam bentuk air mata kebahagiaan.


" Aku sungguh takut Bang, aku takut bayi kita kenapa-napa karena kecerobohan ku. Maaf Bang." Ucap Sarah disela Isak tangisnya yang semakin pecah.


" Semua bukan salah mu sayang, itu sebuah kecelakaan. Itu murni kecelakaan yang bisa menimpa siapa saja." Mahen berusaha membuang jauh perasaan bersalah Sarah. Supaya Sarah bisa tetap berpikir sehat dan positif yang dianjurkan oleh Dokter yang sudah memeriksanya beberapa menit lalu.


Mahen ikut merebahkan tubuhnya di samping Sarah, memeluknya erat dan memberikannya ketenangan. Mengecup kening dan pucuk kepala Sarah sampai berulang kali menyalurkan kasih sayang dan cinta yang tidak terbatas untuk wanita yang menjadi istrinya saat ini.


" Persalinan mu akan tetap sesuai jadwal yang sudah ditentukan karena semuanya baik-baik aja sayang. Jangan berpikir yang enggak-enggak lagi. Kita akan sangat menantikan kelahiran buah hati cinta kita sayang." Bisik Mahen yang meletakkan bibirnya pada ceruk leher Sarah. Sarah hanya mengangguk mengiyakan sambil membalas pelukan Mahen yang mampu menghangatkan dan memberikan rasa aman serta nyaman sekaligus.


Sementara di luar rumah sakit, mobil mewah milik Papa Darwin baru saja parkir di halaman rumah sakit.


" Papa sudah dapat kamar Sarah dimana?." Mama Kemala menenteng tas super Mahal masuk ke dalam gedung rumah sakit.


" Sudah Ma, Mahen sudah mengirimkannya pada Papa." Balas Papa Darwin membuka kembali ponsel untuk memastikan lagi dan langsung bertanya dimana letak kamar tersebut.


Usai mendapat arahan dari bagian resepsionis, Papa Darwin dan Mama Kemala berjalan kearah Lift untuk membawa mereka pada lantai yang akan dituju.


" Ini Pa kamar nya?." Tunjuk Mama Kemala pasti.


" Iya coba Mama lihat dulu?." Papa Darwin minta Mama Kemala untuk melihat dari pintu terlebih dulu.


Perlahan Mama Kemala mendorong daun pintu ruangan kamar Sarah dan benar saja ada Mahen dan Sarah yang sedang saling memeluk dengan memejamkan mata.


Untuk beberapa saat Mama Kemala menatap dan memperhatikan mereka sebelum suara Papa Darwin dari luar menyadarkannya.

__ADS_1


" Bagaimana Ma?, bener ini kamar nya?." Tanya nya dari luar.


Mama Kemala mengangguk dan melebarkan daun pintu supaya Papa Darwin bisa masuk bersama dengan dirinya. Tatapan Mama Kemala masih belum beranjak dari Mahen dan Sarah, ada kesedihan yang begitu mendalam yang dirasakan Mama Kemala melihat pemandangan didepannya ini.


" Bukannya Mama Kemala harus bahagia melihat putra sulung nya hidup bahagia dengan istri dan calon bayi mereka yang sebenar lagi akan melengkapi kebahagiaan keluarga mereka?."


Cepat-cepat Mama Kemala menghapus air mata yang sempat membasahi kedua pipinya saat Mahen bangkit duduk setelah Papa Darwin memanggil keduanya. Tapi Sarah masih dapat menangkap sekilas gerakan dari Mama Kemala.


" Kenapa Mama Kemala selalu menangis bisa melihat ku dengan Bang Mahen?, ada apa?." Tapi itu hanya mampu Sarah tanyakan dalam hati. Sebab beberapa waktu lalu saja Mahen sudah bertanya namun Mama Kemala enggan untuk memberitahu mereka.


" Ma, Pa " Mahen berdiri di samping tempat tidur pasien Sarah dengan tangan yang masih saling menggenggam.


" Mama Papa menganggu kalian ya?." Tanya Mama Kemala mendudukkan dirinya di kursi yang menghadap ke Sarah.


" Enggak lah Ma. Mama mungkin kedatangan Mama dan Papa menganggu kami. Yang ada kami sangat senang Mama Papa bisa menjenguk Sarah." Balas Mahen cepat.


" Lalu bagaimana keadaan Sarah dan calon bayi kalian?." Papa Darwin sudah duduk di sebelah Mama Kemala dan menatap Sarah dan Mahen bergantian.


" Alhamdulillah semuanya baik Pa, tadi Dokter sudah mengecek semuanya." Balas Mahen masih belum melepaskan genggaman tangannya.


" Mama tadi buru-buru ke sini jadi enggak sempat membeli apa pun." Ucap Mama Kemala penuh sesal.


" Tidak apa-apa Ma, jangan terlalu dipikirkan. Papa Mama sudah makan atau belum?." Mahen melihat jam tangannya, ini sudah jam makan siang.


" Aku belikan dulu makanan untuk kita semua. Di samping rumah sakit ini ada restoran yang menjual makanan yang enak-enak pasti Mama dan Papa suka." Baru Mahen melepaskan genggamannya.


Baru disaat itu lah Mama Kemala begitu lega dan tersenyum lebar melihatnya. Ia bahkan bisa bersikap jauh lebih santai dan baik lagi pada Sarah. Mama Kemala sampai mau duduk di atas tempat tidur bersama Sarah lalu mengelus perut Sarah sampai beberapa kali. Begitu hangat dan haru Sarah mendapati Mama Kemala seperti ini terhadapnya.


" Terima kasih Ma " Ucap Sarah lirih.


Mama Kemala terlihat begitu tulus dengan mengukir senyum pada wajah tua nya. " Sama-sama menantu Mama."


Mahen melihat interaksi kedua wanita yang sama-sama mempunyai tempat istimewa dalam hidupnya sebelum ia pergi keluar membeli makanan untuk santap siang mereka semua.


Dalam perjalanan menuju restoran Mahen menerima telepon dari Andre yang memegang cabang Manado, mengabarinya kalau ada masalah yang cukup genting di sana. Hingga Andre meminta Mahen untuk datang langsung ke sana hanya dua hari saja.


" Coba aku pikirkan dulu ya Ndre, Sarah lagi di rumah sakit soalnya."

__ADS_1


" Iya Mahen kalau enggak genting juga aku enggak bakalan minta kamu datang kesini."


" Ya udah nanti aku kabari lagi Ndre sekarang aku lagi beli makan."


Sambungan keduanya Mahen akhiri dengan memutuskan secara sepihak sebab ia sudah berdiri untuk memesan.


Kedua tangan Mahen sudah penuh dengan tantangan kantong plastik berisi makanan dan minuman serta buah-buahan yang dibelinya tidak jauh dari restoran.


Mahen mendorong pintu dengan kaki kanan dan meletakkan semua bawaannya di atas meja.


" Wah sepertinya enak?." Papa Darwin yang sudah merasa lapar begitu senang melihat hidangan yang mampu menambah selera nya.


Mama Kemala masih betah duduk di sana dengan posisi tangan yang masih berada di atas perut Sarah.


" Mama dan Papa makan dulu." Ucap Sarah memegang tangan Mama Kemala.


" Iya Sarah, Mama sebenarnya sudah lapar." Mama Kemala dan Sarah yang tertawa karena perut yang keroncongan sampai terdengar oleh Sarah.


Mama Kemala dan Papa Darwin makan bersama satu bungkus berdua, walau pun mereka sangat lapar namun tidak bisa makan banyak.


" Kalian tidak makan?." Mama Kemala menatap pada Mahen yang sudah memegang satu bungkus nasi.


Mahen duduk di depan Sarah sambil membuka bungkusan tersebut. " Ayo makan sayang, Abang suapi ya?."


Uhuk Uhuk


Mama Kemala mendadak batuk dan tidak berhenti-henti. Papa Darwin menyodorkan botol minum yang sudah di buka tutupnya.


" Ambil Ma, minum dulu "


Mahen meletakkan makanannya, mendekati Mama Kemala dan membantu Mama Kemala menempelkan bibir lubang botol pada mulut Mama Kemala. " Pelan-pelan Ma nanti tersedak."


" Jangan buru-buru Ma makannya!. Papa enggak banyak makan nya. Lagian sepertinya Mahen beli banyak ya?." Nasehat Papa Darwin.


" Mama udah pelan-pelan Pa, enggak tau aja tiba-tiba tenggorokan Mama gatel." Balas Mama Kemala cepat.


Lagi-lagi Sarah merasakan hal aneh tentang sikap Mama Kemala. Tapi apa?, kenapa?.

__ADS_1


__ADS_2