
" Istri mu, Kemala tidak ada disini!." Jawab seseorang dari ujung telepon sebelum Papa Darwin mematikan ponselnya.
"Bagaimana Pa, ada informasi apa dari teman Papa?." Hafis sudah begitu cemas dengan keadaan sang Mama.
"Tidak ada." Ucap Papa Darwin seraya menggeleng lemah. Apa pertanyaan kemarin sewaktu di rumah sakit terlalu menyakiti hati istri nya sampai ia harus menghilang seperti ini.
Hampir sudah pukul sepuluh malam, belum ada yang berhasil menemukan Mama Kemala. Para pegawai pun tidak ada yang melihat dengan jelas apa Mama Kemala ada keluar rumah atau enggak?. Semuanya masih sangat abu-abu.
Widi mendatangi rumah Pradivya bersama suaminya dan Syifa. Sarah dan Sandra sudah berada di dalam kamar Syifa saat mereka sampai di sana.
"Ko bisa sih Bang Mahen, Hafis, Pa, Mama pergi enggak ada yang tahu satu pun?." Ucap Widi sambil duduk disebelah Papa Darwin.
Hafis dan Papa Darwin menggeleng bersamaan.
Sementara itu, Mahen mengajak Syifa masuk ke dalam kamar dimana ada Mama dan adik nya. Itu pun tidak lepas dari pandangan Hafis. Keluarga Mahen yang sekarang begitu lengkap dan sangat bahagia. Berbanding terbalik dengan dirinya yang masih sendiri.
"Papi mereka siapa berada di kamar Ifa?." Syifa menarik mundur tangan Mahen, menatap intens wajah wanita yang sudah dikenalinya melalui beberapa foto yang setiap hari menemaninya tidur. Lalu adik kecil itu siapa?. Syifa baru pertama kali melihatnya.
Sarah menatap keduanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca, putri pertamanya sudah besar, cantik dan jelas sangat ingin ia peluk sekarang juga.
"Papi..." Syifa kini menatap Mahen intens dengan raut wajah yang terlihat sangat bingung. Mana mungkin orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali, bahkan ia pernah diajak untuk berziarah ke makam Mama nya itu. Lalu sekarang yang ada dihadapannya siapa kalau kalau bukan Mama nya, wajahnya begitu mirip dengan semua foto yang dimilikinya.
"Ifa janji akan mendengarkan semua cerita Papi dan tidak akan marah sama Papi?."
Syifa mengangguk dan kembali berjalan mendekati wanita yang dikenal sebagai Ibu kandungnya itu. "Mama....Mama....Mama...."
Sarah sudah terisak sambil memeluk Sandra. Mahen mengambil alih Sandra, supaya Sarah dan Syifa bisa saling memeluk. Meluapkan rasa rindu yang sama-sama mereka simpan di dalam hati terdalam mereka, untuk orang yang terkasih, begitu spesial dan sangat disayangi.
"Syifa....Syifa...Syifa...."
"Mama...."
Keduanya berpelukan benar-benar sangat erat.
"Ifa rindu Mama, Ifa sayang Mama, Ifa rindu Ma..." Tangis Syifa pecah bersamaan dengan ungkapan hati Syifa selama ini. Bahkan tidak bisa diungkapkan dengan kata betapa Syifa begitu menginginkan sosok Sarah ada dalam hidupnya.
Syifa melerai pelukan, mengusap kedua pipi Sarah, "Ini Mama Syifa kan?, Mama Sarah!"
__ADS_1
Sarah mengangguk, "Iya sayang, ini Mama Syifa, Mama Sarah." Keduanya kembali berpelukan setelah Syifa mendaratkan kecupannya pada semua wajah Sarah. Begitu pun sebaliknya.
Mahen ikut terharu melihat pertemuan antara Ibu dan anak yang saling merindukan, saling menyayangi dengan begitu tulus dan besar.
"Pa-pi, Ma-ma" Panggil Sandra dengan wajah menggemaskan. Hingga Sarah dan Sandra menoleh pada Sandra yang digendong sama Mahen.
"Adik kecil itu siapa Ma?." Syifa menghapus air matanya sambil menunjuk pada Sandra.
"Adik kecil itu, namanya Sandra. Adik nya Syifa." Jawab Sarah jelas dan tegas, meski Sarah langsung bisa melihat ada kebingungan dalam raut wajah putri pertamanya itu.
"Adik Syifa Ma?." Tanya Syifa menegaskan, walau ia bingung juga adik dari mana?.
"Iya sayang ini adik nya Syifa. Kan Papi udah janji nanti mau cerita semuanya sama Syifa. tapi enggak sekarang ya?." Mahen kini angkat suara. Dan untungnya setelah Mahen menegaskan kembali bahwa Sandra adalah adik nya , Syifa mengerti dan tidak banyak bertanya lagi.
Kembali ke rumah tamu, Widi melempar layar monitor yang CCTV nya sudah tidak berfungsi jadi tidak bisa mengecek Mama Kemala.
"Lalu kita akan mencari Mama kemana kalau tidak ada petunjuk sama sekali?."
"Oh pantas saja Mama kemarin itu meminta ku untuk membawa Syifa, mungkin Mama mau melakukan sesuatu. tapi apa dan kemana?." Widi begitu frustrasi.
"Kita harus lapor polisi Pa?."
.
.
Keesokan paginya....
Hanya Papa Darwin yang bisa tidur itu pun setelah meminta obat yang dibawanya dari rumah sakit saat pulang. Semuanya tetap terjaga karena tidak tahu harus mencari kemana Mama mereka. Termasuk Sarah yang berada di kamar Syifa.
"Syifa mau kemana?." Sarah melihat Syifa turun dari tempat tidur dan memakai sandalnya.
"Ifa mau ke kamar Mami, ambil album foto kita Ma. Ada Mama, Mami, Papi, Papa, dan banyak lagi." Jawab Syifa.
"Mama temani ya?." Sarah bangkit yang hendak menemani Syifa.
"Tidak usah Ma, Ifa bisa ambil sendiri. Karena dulu Mami menyimpannya di tempat yang gampang Ifa ambil." Tolak Syifa, ia meminta Mama nya untuk kembali duduk dan bermain dengan Sandra.
__ADS_1
Syifa keluar dari kamar, melewati mereka yang masih duduk di Sofa dengan pikiran kalut dan frustasi tentunya.
"Ifa mau kemana?." Tanya Mahen dan Hafis bersamaan.
Syifa terkekeh dan menghampiri keduanya.
"Ifa mau ambil album foto milik Ifa di kamar Mami." Jawabnya sambil kembali melangkahkan kakinya.
"Papi temani ya?." Mahen pun menawarkan diri.
"Tidak usah Papi." Tolak Syifa halus.
"Ya udah hati-hati." Mahen membiarkan Syifa pergi ke kamar Lydia sendiri karena sudah menjadi kamar kosong namun tetap bersih dan masih layak pakai.
Syifa menaiki anak tangga dengan sangat hati-hati. Sampai di depan kamar, Syifa langsung membuka pintu dan mulai masuk untuk mengambil album foto nya.
"Ni album fotonya." Tidak susah Syifa menemukan apa yang dicarinya karena memang Lydia meletakkannya di tempat yang gampang dan sangat terjangkau oleh Syifa.
Namun langkah Syifa terhenti kala melihat sosok Nenek yang sedang di cari oleh banyak orang. Walau pun tidak ada yang mengatakan padanya, tapi Syifa sempat mendengar Tante Widi nya yang bertanya tentang keberadaan sang Nenek.
"Nek...Nenek...Nek...Nenek..." Dengan polos Syifa menggoyang pelan tubuh yang sedang duduk di atas kursi dengan mendekap dua lembar foto.
"Nek...Nenek...bangun!. Papi, Papa, Kakek, Mama dan semuanya sedang mencari Nenek. Kenapa Nenek ngumpet disini?." Syifa mencoba kembali membangunkan Mama Kemala, namun belum juga ada respon.
Syifa pun segera berlari sambil berteriak memangil Papi dan Papa nya.
"Papi...Papa...Papi...Papa..."
"Nenek ada di kamar Mami sedang duduk. Nenek sedang ngumpet di atas sini!." Teriaknya dari atas tangga.
Sontak saja Mahen, Widi dan Hafis segera berlari guna mengecek kebenaran yang dikatakan oleh Syifa.
"Dimana sayang?. Dimana Nenek?." Tanya Hafis.
Mahen dan Widi sudah masuk dan terlebih dahulu menemukan sang Mama yang dalam posisi duduk dengan mendekap foto.
Tidak ada yang berani menyentuh Mama Kemala sebab mereka yakin kalau sang Mama telah tiada.
__ADS_1
"Mama....." Teriak histeris ketiganya, Syifa hanya berdiri di dekat Mahen yang sedang menangis bersama Papa dan Tante Widi nya.