
Di kedai soto aku lagi membereskan sisa sisa piring kotor di meja.
Kebetulan tadi banyak pembeli. Budhe sul sedang tidak masuk hari ini. Tadi pagi dia minta ijin tidak masuk kerja karena mengantar suaminya untuk kontrol ke dokter.
Aku pun memberikan ijin. Aku lebih konsentrasi dengan pekerjaanku. Hingga tidak memperhatikan orang yang lalu lalang di depanku.
Selang beberapa waktu kemudian. Sepasang tangan laki laki memeluk ku dari belakang. Aku pun menikmati pelukan itu.
"Ayah!!".
Lelaki itu begitu hangat memelukku. Dia mencium telingaku dengan lembut kemudian beralih ke belakang leherku.
"Ayah ada apa sih. Pasti ada maunya."
Lelaki itu tidak menjawab sepatahpun.
Ku lihat tangannya yang besar sepertinya aku mengenalnya. Tapi... Kemudian aku membalikkan tubuhku.
"Kamu."
Aku menatap lelaki itu dengan terkejut.
"Kamu mengapa bisa di sini."
"Aku hanya ingin ketemu kamu sayang."
"Tapi waktunya tidak tepat." Jelasku.
"Aku tidak peduli sayang. Kamu membuatku gelisah. Aku tidak bisa menjelaskan perasaanku. Aku terus memikirkanmu."
__ADS_1
"Harusnya kamu kabari aku dulu."
Aku pikir tadi mas Gilang.. karena dia berencana ingin kesini. Tapi sudah jam segini belum datang juga.
"Kamu tidak senang sayang."
"Bukan itu maksud ku. Seandainya kamu tahu perasaanku."
"Kenapa?" mas Adam mendekatiku.
"Aku sedih saat kamu tidak menjawab telponku.
Aku takut jika kamu meninggalku."
Mas Adam langsung memelukku. Harusnya dia bilang " Aku tidak akan meninggalkanmu."
Mas Adam memeluk dengan mesra. Mas Adam
Terkadang dia menjadi temanku, aku mencurahkan isi hatiku kepadanya. Terkadang dia jadi partner bisnis, lebih tepatnya jadi konsultan dan pemasok modal utamaku. Terkadang dia jadi suamiku yang bertanggung jawab atas masalah rumah tangga.
"Sayang aku membutuhkanmu." Suara mas Adam lirih.
Aku dan mas Adam memang awalnya hanya berteman. Hingga pertemanan ini menjadi saling membutuhkan satu sama lain. Entah mulai kapan cinta ini tumbuh.
Cinta dan kebutuhan sudah beda tipis. Terkadang aku lebih takut kehilangan mas Adam dari pada suamiku sendiri.
Seandainya mas Adam meminta aku untuk meninggalkan mas Gilang mungkin sudah lama itu aku lakukan.
Tapi pada kenyataannya mas Adam hanya bilang."Kerja yang keras dan uang adalah hasilnya dan jika sudah banyak uang nikmati dengan anak dan suami maka hidup akan bahagia."
__ADS_1
Harusnya dia bilang. "Tinggallah disisiku." Namun kenyataannya dia tidak pernah mengucapkan seperti itu.
Aku membelai rambutnya. Aku sepertinya polos tapi ketika dekat mas Adam tanganku bergerilya kemana mana.
Mas Adam tidak pernah menolak dengan kelakuanku sepertinya dia pun menikmatinya.
Jarak kami semakin dekat.
"Sayang. " Mas Adam berbisik halus.
Aku pun terkejut mas Gilang tiba tiba muncul di hadapanku.
Ingin aku melepaskan pelukan mas Adam tapi dia medekapku begitu kuat.
"Ayah." Aku tiba tiba takut dengan apa yang terjadi.
Mas Adam langsung melepaskan tangannya. Setelah aku memanggil suamiku.
"Siapa dia." Tanya mas Gilang.
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan suamiku.
Setelah dia melihat yang ku lakukan dengan mas Adam.
"Jawab siapa."
Aku masih diam. Jika aku bilang teman. Apakah mas Gilang akan percaya. Karena selama ini aku memang tidak punya banyak teman. Dan haruskah seorang teman berpelukan dengan mesra.
"Tolong jangan sakiti istrimu. Aku yang salah." Mas Adam berusaha melindungiku.
__ADS_1
Aku hanya bisa diam menatap dua laki laki yang aku dicintai berada di depanku.