
"Kamu disini."
"Iya pak." Dinda menyahuti Dimas.
"Om Adam benar benar keterlaluan, membawa selingkuhannya ke rumahnya sendiri."
"Maksud pak Dimas apa ya." Dinda menegaskan perkataan Dimas.
Seperti yang terdengar selama ini , Si bos punya hubungan khusus dengan Dinda. Entah dari mana gosip itu berasal. Tapi Dinda tidak memperdulikannya. Selama dia tidak melakukannya buat apa Dinda harus gusar dengan berita seperti itu.
Dinda baru memahami ternyata si bos yang di buntuti selama ini bernama Adam. Setampan apapun bosnya itu dia tetep sudah berumur. Dia lebih cocok di jadikan ayah oleh Dinda. Dinda heran mengapa rumor seperti itu sudah berjalan mulus, berseliweran di tempatnya bekerja.
"Pak Dimas koq ikut ikutan menjelek jelekkan om sendiri." Dinda berusaha melindungi bosnya.
"Aku ini atas kamu lho. Kamu tidak sopan membantah saya."
"Atasan saya cuma pak Adam." Jawab Dinda.
Bagi Dinda, Dimas adalah karyawan sama seperti dirinya. Meski Dimas posisinya adalah senior, tapi Dimas sama sama di gaji oleh bos nya.
"Dim ..... sini bantuin tante."
"Iya tan."
"Tolong nyalakan lilinnya." Pinta istri Adam.
Dimas tidak bisa menolak permintaan tantenya.
__ADS_1
Karena Tantenya selalu bersikap baik terhadap Dimas. Padahal Dimas keponakan dari pihak Adam.
"Ma.. Aku ngak mau di temenin kak Dimas. Aku sama kak Dinda aja." Pinta Devan.
"Dinda sini."
"Iya bu."
Dinda menghampiri Devan. Bagaimana Dinda bisa menolak permintaan istri bosnya. Dari pada dia di pecat sebelum menerima gaji pertama.
Dimas mulai kesal dengan kelakuan Dinda. Dinda sudah merebut hati Devan. Padahal ini adalah hari yang penting bagi keluarga Adam.
Devan adalah orang yang paling di sayang di keluarga Adam. Semua permintaannya selalu di turuti. Devan adalah bak raja di rumah ini.
"Ayo kak." Ajak Devan.
"Kak Dinda jangan kemana mana ya. Kakak temenin Devan sampai acara selesai."
"Tapi kakak harus pulang." Jawab Dinda.
"Nanti saya bilangin papa lho." Bujuk Devan.
Dinda tidak bisa menolak permintaan Devan. Disisi lain Dinda harus segera pulang. Karena Ayah dan ibunya menunggu di rumah.
"Pa.. kak Dinda mau pulang. Devan mau kak Dinda disini. Boleh ya." Rengek Devan.
"Tapi kak Dinda juga punya ayah dan ibu. Mereka juga ingin ketemu dengan kak Dinda."
__ADS_1
Devan mulai menangis jika permintaannya tidak di turuti. Adam tidak mau acaranya akan berantakan gara gara ulah Devan. Apalagi dia akan malu dengan tamu undangan.
"Dim ... nanti antar pulang Dinda kerumahnya." Suruh Adam.
" Tapi om."
Seperti biasa pendapat Dimas hanya sebagai angin lalu. Meski Dimas tidak setuju, tapi dia tidak bisa menolak permintaan om nya.
"Tapi pak." Dinda ingin sekali membantah permintaan bosnya.
Dimas semakin kesal dengan Dinda. Dinda makin membuatnya tidak bisa hidup santai. Secara tidak sadar Dinda sudah menumbuhkan perseteruan dengan Dimas.
Devan pun berhenti menangis. Ketika dinda tidak jadi pulang.
Dimas hanya bisa tersenyum sinis.
"Ayo kak kita tiup lilinnya."
Dinda hanya tidak bisa membuat Devan bersedih. Entah energi apa yang membuat Dinda bisa seperti itu.
Bagi Dinda melihat laki laki kecil itu bahagia adalah kebahagiaan yang harus dilaksanakan. Sepertinya Dinda sudah menjalin ikatan dalam sekejap dengan Devan. Devan juga merasakan hal yang sama.
.......
......
......
__ADS_1