
"Sarah dan Sandra tinggal di kantor ini bersama saya Pak Arifin. Terima kasih sudah mengkhawatirkan mereka berdua. Walau tidak senyaman yang semestinya, tapi saya yakin mereka tetap merasa aman dan nyaman selama mereka tinggal bersama saya." Jawab Mahen tidak ingin kehilangan muka di depan klien yang kini mulai menunjukkan ketidakprofesionalan nya. Hanya karena seorang wanita yang ingin segera dimilikinya.
"Iya pastinya Pak Mahendra, tapi alangkah lebih bijaksana lagi kalau Pak Mahendra memberikan tempat tinggal atau sesuatu yang layak untuk wanita seistimewa Sarah dan anak selucu Sandra." Benar adanya tentang apa yang dikatakan oleh Pak Arifin. Namun saat ini hanya ini yang sanggup Mahen berikan untuk kedua wanita yang sangat disayanginya.
" Iya itu sudah saya perhitungkan dan pikirkan semuanya. Apa pun untuk mereka yang begitu berharga." Balas Mahen.
" Bagus kalau seperti itu Pak Mahendra. Lakukan dengan segara sebelum semuanya terlambat. Penawaran kami di kota Batam menjadi salah satu cara yang bisa dibilang paling cepat untuk memberikan semua kelayakan pada Sarah dan Sandra." Ucap Pak Arifin sambil bangkit berdiri dan mengancingkan jasnya.
"Saya akan memikirkannya baik-baik, dan saya sanggup memberikan kebahagian dan kelayakan dengan cara saya sendiri. Tapi meski begitu terima kasih atas usulnya." Balas Mahen yang menerima uluran Pak Arifin yang berpamitan.
Sedang di ruangan Mahen, si kecil Sandra sudah menangis dan mencari keberadaan Papinya. Dengan sangat terpaksa Sarah menggendong dan membawa Sandra mencari keberadaan Mahen.
"Rendy, Bang Mahen sudah selesai belum meeting nya?." Sarah berpapasan dengan Rendy sambil berusaha menghentikan tangis Sandra.
"Sepertinya sudah Bu Sarah." Rendy melihat Pak Robby sudah keluar dan ia pun yakin pasti Pak Arifin sudah keluar juga hanya saja dirinya yang tidak tahu.
"Baik Rendy, terima kasih."
Sarah masih mencoba menghentikan tangis Sandra dan cukup berjalan sampai mereda sedikit tangisannya.
Karena dirasa tidak ada orang lagi di ruang meeting, mungkin hanya tinggal suami nya saja. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Sarah langsung membuka pintu dan langsung berbicara pada Mahen.
" Bang Mahen Sandra dari tadi nangis terus, Sandra mau sama Papi nya."
Sarah tidak tahu pria yang sedang membelakanginya siapa?. Sampai si pemilik suara itu menunjukkan wajah nya.
"Semoga sukses Pak Mahendra." Ucap Pak Arifin sebelum benar-benar pergi dari ruang meeting dan meninggalkan perusahan Mahen tanpa menoleh pada Sarah. Pak Arifin melihat sekilas keduanya yang begitu intim kala Sarah menyerahkan Sandra pada pelukan Mahen dalam posisi berdiri.
Sarah menatap kepergian Pak Arifin yang begitu saja, ia merasa tidak enak hati pada majikannya itu.
"Apa aku datang di waktu yang tidak tepat?."
__ADS_1
Mahen menggeleng lalu mencium pipi Sandra bertubi-tubi, "Justru kamu dan Sandra datang di waktu yang tepat. Walau pun seperti ini Abang masih menjadi suami mu dan akan terus seperti itu."
Sarah hanya diam saja tidak memberikan tanggapannya pada apa yang dikatakan oleh Mahen. Sebab dirinya tidak ingin berangan terlalu tinggi tentang pernikahannya bersama Mahen.
Mahen memegang tangan Sarah dan membawanya berjalan keluar dari ruang meeting. "Waktu nya kita makan sayang. Papi sudah memesan makanan untuk kita."
Ya, tadi disela-sela obrolannya bersama Pak Arifin. Mahen mengirimkan pesan pada Erik untuk membawa makanan untuk mereka.
Hanya menunggu lima belas menit saja, pesanan makanan Mahen sudah datang bersama Erik yang baru pulang selesai meeting diluar.
Sarah menatap makanan untuk mereka semua, termasuk Rendy dan Erik ikut bergabung makan bersama mereka.
Mahen begitu telaten menyuapi Sandra dan mengenyampingkan rasa lapar yang sebenarnya sudah dari tadi ditahannya.
"Bagaimana Bang keadaan Pak Darwin?." Erik mungkin lupa kalau sekarang ada Sarah bersama mereka hingga ia merasa bebas untuk bicara seperti biasanya.
Sarah menghentikan suapannya sambil menatap Erik dan Mahen secara bergantian. Walau pun karena keluarga Mahen kedua orang tuanya meninggal, tapi ia tidak bisa memungkiri jika mereka adalah orang tua dari pria yang saat ini masih menjadi suaminya.
"Nanti saja Abang jelaskan semuanya. Sekarang kita makan dulu." Mahen tidak ingin waktu makan mereka digunakan untuk membicarakan hal yang tidak seharusnya. Sebab ia juga tidak ingin membuat Sarah terluka.
Erik dan Rendy langsung pamit setelah menghabiskan makan siang mereka. Melanjutkan pekerjaan yang masih banyak dan harus segera diselesaikan.
"Semoga saja mereka tidak bertengkar karena kecerobohan ku." Ucap Erik sebelum sebelum mereka berhenti di depan pintu ruangan mereka.
"Semoga saja, tapi kalau melihat dari wajah Bang Mahen sepertinya mereka akan bertengkar hebat." Rendy menakuti Erik sambil mendorong tubuh Erik untuk segera masuk dan mengambil posisi untuk mengistirahatkan tubuh nya sebentar.
"Kau ini malah mendoakan mereka untuk bertengkar. Kalau mendoakan itu yang baik-baik." Gerutu Mahen melemparkan map namun tidak sampai dan alhasil berserakan di atas lantai.
"Kau rapikan semuanya." Lanjut Erik.
"Ok, tapi nanti setelah aku merem lima menit aja." Balas Rendy yang langsung saja menutup wajah dengan menggunakan bantal sofa.
__ADS_1
Sementara itu di ruang kerja Mahen, Sarah kembali bertanya pada Mahen yang tidak kunjung bercerita tentang apa yang terjadi Papa Darwin.
"Papa Darwin kenapa Bang?." Desak Sarah sudah memasang wajah serius. Sandra duduk anteng di samping Mahen dengan pulpen dan kertas dikedua tangannya.
"Bukan Abang tidak mau cerita sama kamu. Tapi tidak sekarang, mungkin nanti malam."
Mendapatkan penolakan lagi dari Mahen, ingin Sarah berinisiatif untuk mencari tahu sendiri. Tapi harus mencari tahu lewat siapa?. Erik?, sepertinya tidak mungkin. "Ah ya Evi. Siapa tahu Evi tahu." Batin nya.
Ya, dalam perjalanan dari rumah Pak Arifin menuju kantor Mahen. Erik sudah menceritakan dirinya sudah menjadi suami dari Evi.
"Semoga saja Evi bisa menghilangkan rasa penasaran ku." Batin nya. Sarah mengambil ponsel dan langsung mengirimkan pesan pada Evi cukup panjang lebar. Walau Sarah sebenarnya enggak tahu nomer nya itu masih bisa dipakai Evi atau enggak.
Sesekali Mahen melirik pada Sarah yang sedang menatap nya intens dan Mahen mengedarkan pandangan nya pada Sandra yang sedang mencoret-coret kertas. Dan kembali lagi fokus pada pekerjaannya.
Cukup lamanya juga Sarah menunggu balasan dari Evi. Hingga yang ditunggu pun datang memenuhi notifikasi ponselnya.
Sarah begitu senang saat tertera nama Evi yang muncul.
"Syukur Evi masih pakai nomor yang sama." Senyum tipis terukur dari bibir Sarah namun hanya beberapa detik saja. Sebab pada detik berikutnya wajah Sarah terlihat murung dan cukup bersedih dengan apa yang disampaikan oleh Evi melalui pesan singkat nya yang ternyata panjang lebar.
Mahen segera bangkit berdiri dan menghampiri Sarah yang sedang berusaha menghapus air matanya yang tidak bisa berhenti.
"Kamu kenapa?. Bosan ya berada di ruangan ini?. Kamu ingin pulang ke rumah?. Kamu tidak nyaman berada di sini bersama Abang?. Kamu mau membawa Sandra pulang, iya?." Mahen membantu Sarah menghapus air matanya.
Tanpa Mahen duga kalau kedua tangan Sarah dikalungkan nya pada leher Mahen dengan wajah yang ia sembunyikan pada leher Mahen.
"Aku tidak ingin kita berpisah!. Aku tidak ingin kita berpisah Bang, sekarang, besok atau kapan pun. Aku mau selamanya menjadi istri mu, hanya istri mu Bang." Ungkapan hati Sarah yang begitu jelas terdengar di telinga Mahen yang sanggup menggetarkan hati nya.
Dalam keterbatasan yang dirasakannya saat ini, dalam kesakitan yang selalu menggerogoti hatinya, dalam pengharapan yang takut tidak berujung, kini cahaya itu datang menghampiri nya sendiri. Membawa sejuta kebahagian yang sudah ingin dirasakannya.
Mahen tidak menyia-nyiakan momen indah ini, ia pun mengeratkan pelukannya pada tubuh Sarah dan mengecupnya bertubi-tubi.
__ADS_1
"Abang juga tidak ingin kita berpisah. Kita akan selalu bersama walau apa pun keadaan kita nanti nya. Walau apa pun halangan dan cobaan yang akan datang, kita akan menghadapinya bersama-sama."