
Tanganku melingkar di pinggang mas Gilang. Aku memeluknya dari belakang. Selang beberapa menit kemudian tanganku memberikan sesuatu.
"Apa ini? Tanya suamiku.
Mas Gilang membaca tes kehamilan yang ku berikan.
"Apakah kita punya adek lagi.
" Iya. jawabku.
Mas Gilang melepaskan tanganku kemudian membalikkan tubuhku.
"Aku sudah menduganya. Mas Gilang sambil memegang perutku.
Mas Gilang mencium perutku dan mengelus elusnya.
Aku hanya menatapnya. Menatap suamiku yang sederhana.
Mas Gilang langsung menciumku. Aku hanya tersenyum. " Yaa begitulah suamiku. caranya mencintaiku begitu sederhana. Mas Gilang bukan orang yang suka bicara. Dia hanya bicara seperlunya saja. Itulah yang aku sukai dari dirinya sedikit bicara dan banyak bekerja.
"Nanti sore kita periksa ke bidan yaa. Ajak suamiku.
Kebetulan di desa ku jauh dari dokter. hanya ada bidan di setiap kelurahan.
__ADS_1
"Oke sayang. Aku menggoda suamiku.
Mas Gilang menyukai aku yang agresif. Meski umurku menginjak tiga puluhan tapi aku masih merasa dua puluhan. Terkadang aku mengoda mas Gilang ataupun dinda.
Dinda menghampiri kami.
" Ada apa buk. Tanya dinda.
"Dinda bakalan punya adek. Jawab mas Gilang.
"Horeee. Dinda kegirangan.
Sudah lama dinda mengharapkan adek begitu pula mas Gilang. Sudah sembilan tahun kami menanti kabar ini. Sejak kelahiran dinda aku belum lagi hamil padahal aku tidak pernah memakai alat kontrasepsi.
Kabar ini adalah kabar membahagiakan bagi kami. Tapi begitulah reaksi mas Gilang. Hanya biasa biasa saja. Bukannya tidak senang dia hanya sedikit berekspresi. Dalam hatinya sekarang mungkin sudah tertawa kegirangan.
Aku menaiki sepeda matic keluaran merk lama. Sementara Dinda duduk di depan. Padahal tubuhnya sudah mulai tinggi tetap saja dia masih senang duduk di depan. Jelas saja mas Gilang sedikit terganggu saat mengemudi karena tubuh dinda menghalangi pandangan ayahnya.
Setelah sampai di rumah bidan aku duduk di kursi menunggu panggilan.
"Ibu Rosa. Asisten bidan memanggilku.
Aku dan mas Gilang memasuki ruangan periksa.
__ADS_1
Bu bidan memeriksa urinku yang di bantu asistennya. Setelah itu aku berbaring di tempat tidur.
Bu Yeni biasa kami memanggilnya. Dia sibuk menepuk nepuk perutku.
"Terakhir datang bulan kapan. Tanya bu Yeni.
Setelah pertanyaan pertanyaan ku jawab bu Yeni mencatatnya di buku merah muda.
Mas Gilang hanya mengawasi kerja bu Yeni.
"Jadi gini pak... usia kehamilan baru enam minggu, tolong di jaga ya. Jangan sampai kecapekan." Bu Yeni menjelaskan.
"Iya bu. Mas Gilang hanya mengangguk.
Setelah kami di beri beberapa obat, kami berpamitan untuk pulang.
Mas Gilang begitu sabar menungguku. Dia selalu bersedia mengantarkan ku kemana saja.
Meski demikian aku merasa bersalah terhadap suamiku. Wanita yang di boncengnya ini melakukan kesalahan besar. Calon bayi yang di tunggu ini adalah hasil biologis dengan mas Adam.
Entah apa yang akan di lakukan mas Gilang jika dia tau yang sebenarnya. Mungkin aku akan di kuburnya hidup hidup.
Aku masih memegang pinggang mas Gilang dengan kedua tanganku.
__ADS_1
Aku menikmati perjalanan ini. Sesekali aku mencium pundaknya dari belakang.
Tidak sulit bagiku untuk mencintai dua lelaki sekaligus. Cukuplah jadi orang yang munafik. Dan selalu mengumbar cinta ke dua lelaki itu. Tentang rasa itu hanya bisa di nikmati bukan untuk di jelaskan.