Suami ke dua

Suami ke dua
Konflik


__ADS_3

Aku tidak membela diriku karena jelas aku yang bersalah saat ini. Aku hanya pasrah dengan apa yang akan di lakukan mas Gilang.


Seandainya aku di bunuhnya hidup hidup sudah layaknya aku terima.


Mas Gilang hanyalah korban dari kegaduhan yang aku buat.


"Jelaskan apa ini maksudnya." Bentak mas Gilang.


"Aku tidak perlu menjelaskan apa apa. Apa yang kamu lihat itulah kenyataannya."


"Kamu." Teriak suamiku.


Sebenarnya aku sangat takut sekali. Tapi begitulah aku di saat ini aku tidak bisa menurunkan egoku. Harusnya dengan aku minta maaf semuanya akan baik baik saja. Tapi kenyataannya itu tidak aku lakukan.


"Mas aku minta kamu pergi dari sini." Aku meminta mas Adam untuk pergi.


"Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku khawatir


Jika suamimu akan melakukan sesuatu."


"Tolong."


Mas Adam masih tetap di sini dia tidak juga beranjak.


"Apa hakmu berkata seperti itu. Dia istriku aku berhak melakukan apapun."

__ADS_1


Mas Adam memegang tangan ku dia berusaha membawaku pergi. Tapi tangan mas Gilang menarik pergelangan tanganku.


Mas Gilang sudah memasang kepalan Dia berusaha memukul mas Adam. Tapi aku mencoba menghadang tubuh mas Adam.


Pukulan mas Gilang hampir saja mendarat di wajahku.


"Tolong pergi dari sini


"Mas tolong.


Akhirnya pukulan mas Gilang mendarat ke dinding. Praaaakkk .......


Mas Adam pun meninggalkan kami dengan berat hati. Meski lambat akhirnya dia sampai di mobil. Kemudian mobilnya melaju dengan lambat. Berungkali dia berusaha menoleh ke arah ku. Sampai akhirnya mobilnya tidak terlihat lagi.


Kemarahan mas Gilang sudah tidak terkendalijan lagi. Tembok itu menjadi satu satunya alat untuk melampiaskan kemarahannya.


"Memang aku tidak bisa membahagiakanmu. Aku yang salah." Mas Gilang menyalahkan diri sendiri.


Aku memeluk suamiku. Dan mendekapnya dengan kuat.


"Dia memang tampan dan kaya tidak seperti aku."


Aku hanya bisa memeluk mas Gilang aku tidak bisa berkata apa apa. Sepertinya mulutku ini terkunci. Aku tidak pantas membela diri. Yang kenyataannya aku sudah sangat melukai lelaki di depanku.


"Tinggalkan saja aku jika kamu lebih bahagia dengan dia."

__ADS_1


Aku hanya bisa menangis. Menangisi kelakuanku. Harusnya mas Gilang memukulku tapi dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri.


Aku tidak bisa berpisah dengan mas Gilang karena aku tidak ingin kehilangan Dinda. Aku hanya memikirkan Dinda. Aku tidak ingin memisahkan Dinda dengan ayah kandungannya.


Aku juga tidak ingin kehilangan suamiku. Memang dia orang yang tidak sempurna seperti mas Adam. Tapi mas Gilang sudah menemaniku sebelas tahun.


Meski pernikahan kami atas dasar perjodohan tapi aku sudah mencintainya.


"Tidak ayah..... Aku ingin bersamamu dan Dinda."


Ku lihat mas Gilang menangis tanpa air mata. Aku tahu bulir air mata itu bersembunyi di bola matanya.


Wanita yang dia cintai berkhianat di depan matanya. Dan ibu dari anaknya mencintai orang


selain suaminya.


Aku hanya memeluk suamiku. Kata maafku pun tidak ada gunanya. Karena aku tidak bisa berjanji untuk meninggalkan mas Adam.


"Ayah ayo kita pulang." Pintaku.


Mas Gilang sudah lebih baik sekarang. Amarahnya sudah sedikit menurun. Aku mengajak mas Gilang untuk pulang.


Mas Gilang memasukkan kunci sepeda dan menaiki sepeda matic itu. Aku mengikuti mas Gilang Di belakang.


Setelah budhe sul datang menggantikan aku menjaga kedai soto. Karena dia hanya ijin setengah hari.

__ADS_1


Sepeda motorku melaju pelan menuju rumah.


__ADS_2