
Kecewa dan hancur pasti dirasakan Mahen saat ini mengenai Mama Kemala yang berusaha memisahkan dirinya dan Sarah. Bahkan sampai membuat dua nyawa melayang karena nya. Bisa saja Mahen melaporkan Mama Kemala atas kejahatan yang telah dilakukannya. Tapi apa iya dirinya tega dan bisa membiarkan Mama yang sudah melahirkannya ke dunia, memberinya kehidupan dan kasih sayang harus menderita nanti nya dibalik jeruji besi.
Erik berpapasan dengan Mahen saat berjalan menuju ruangannya. " Ada apa Bang Mahen?."
Mahen tidak langsung menjawab Erik, ia masih melanjutkan langkah kakinya sampai masuk dan duduk di kursi nya. Banyak hal yang memenuhi isi kepalanya terlebih lagi tentang keberadaan Sarah dan calon bayi mereka.
Erik menggeser kursi dan duduk di depan Mahen guna mendengarkan apa yang akan Mahen sampaikan tentang apa pun itu. Erik menjadi orang yang bisa diandalkan untuk segala hal, termasuk menjadi pendengar yang baik.
" Kalau pun aku menjadi Sarah, aku pasti akan melakukan hal yang sama. Pergi jauh dari orang-orang yang ingin mencelakainya." Tak kuasa menahan sesak di dalam dada yang sejak tadi ditahannya kini sudah tumpah ruah di hadapan Erik.
" Kebahagiaan yang sudah lama aku nantikan harus sirna seketika dan kini berada jauh dari jangkauan ku. Mungkin aku tidak ditakdirkan untuk bisa merasakan menjadi seorang Ayah." Ucap Mahen dalam sela isak tangis nya.
" Bahkan Mama ku sendiri yang sudah turun tangan untuk melakukan hal itu. Memisahkan mereka dari hidup ku, tidak memberikan kesempatan pada ku untuk merasakan menjadi seorang Ayah." Lanjut nya lagi sambil menyeka air matanya yang sudah perlahan mengering.
Erik hanya menjadi pendengar yang baik saja sampai Mahen merasa sudah lega dan mengurangi sedikit beban di hati dan pikirannya.
Kembali bersemangat kerja setelah hampir satu jam menangisi nasib hidup nya yang jauh dari kata beruntung.
" Ada hal apa kalian sampai menghubungi ku berkali-kali."
" Pak Arifin meminta untuk bertemu dengan Bang Mahen, ini alamat rumah nya. Besok Pak Arifin menunggu Bang Mahen jam satu siang." Jawab Erik memberikan selembar kertas bertuliskan alamat rumah.
" Iya aku besok akan datang. Hari ini aku akan tidur di sini. Aku juga akan mematikan ponsel. Kalau orang rumah menelepon bilang saja aku lagi banyak kerjaan." Pinta Mahen pada Erik. Mahen melanjutkan lagi pekerjaan yang masih belum selesai dan memeriksa beberapa berkas yang dibawa Erik usai meeting.
.
.
__ADS_1
" Sarah bisa kita bicara sebentar?." Pak Arifin menghampiri Sarah yang masih berada di kamar Umi Fitri.
" Iya Pak Arifin silakan." Jawab Sarah cepat.
" Tidak di sini, tapi di ruang kerja ku." Ucap Ifin lagi. Mengajak Sarah untuk mengikuti nya menuju ruang kerja nya yang tidak jauh dengan kamar Umi Fitri.
" Saya..."
" Umi sudah tahu kalau aku mau ngobrol sama kamu dan kamu tenang saja Sandra banyak yang ngasuh." Potong Pak Arifin. Mengerti dengan apa yang akan dilakukan Sarah, sampai ia sudah mempersiapkan semuanya.
" Oh Iya Pak Arifin."
Sampai di ruang kerja Pak Arifin, Sarah langsung di minta duduk yang disusul dengan Pak Arifin yang duduk di depan Sarah.
" Mungkin kamu tahu kalau Umi sering mencarikan aku calon istri. Tapi sejauh ini aku selalu menolaknya."
" Iya "
" Untuk wanita yang sekarang mau di kenal kan Umi, apa kamu tahu orang nya seperti apa?." Karena untuk wanita ini kata Umi masih ada di luar kota." Tanya Pak Arifin menyelidiki Sarah dengan intens. Setahu dirinya Umi sudah sangat mempercayai Sarah untuk apa pun, termasuk setiap wanita yang akan dijadikan menantu nya.
" Maaf Pak Arifin saya tidak mengetahuinya." Jawab Sarah beralasan, sebab tidak mungkin dirinya membocorkan pada Pak Arifin terlebih Umi Fitri sudah mempercayakan semuanya.
" Rasanya tidak mungkin kalau kamu bilang tidak tahu, Sarah?." Pak Arifin menyangsikan apa yang dikatakan oleh Sarah.
Sarah menggeleng lemah untuk memperkuat apa yang dikatakannya, " Iya Pak Arifin saya enggak tahu."
" Tapi kalau di pikir-pikir untuk apa Umi repot-repot mencarikan aku calon istri, kalau di depan ku sudah ada wanita yang begitu cantik, baik hati, rajin, pengertian, bijaksana dan Sholehah yang bisa aku jadikan istri."
__ADS_1
Sarah tidak menanggapi sepenuhnya apa yang dikatakan oleh majikannya itu. Dengan bersikap biasa saja dan terlihat setenang mungkin ia pun berpamitan kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan oleh nya.
" Kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan Pak Arifin lagi, saya akan kembali melanjutkan pekerjaan."
" Tunggu Sarah!."
Sarah kembali menempelkan bokong nya pada kursi dengan tatapan yang tidak lepas dari wajah teduh yang sangat dihormatinya itu.
" Apa perkataan ku tidak ada artinya bagi mu?. Aku tahu kenapa Umi mencarikan ku wanita lajang atau gadis yang sama seperti ku. Itu hanya karena supaya aku menghindari untuk jatuh hati pada mu?. Ucap Pak Arifin dengan lantang di depan Sarah.
" Anggap saja aku lagi mengutarakan apa yang aku rasakan pada mu, rasa ketertarikan ku pada mu. Aku akan memperjuangkan mu untuk mendapatkan restu dari Umi asalkan kamu mau menerima ku, Sarah!."
" Mohon maaf Pak Arifin, tapi saya tidak bisa menerima Pak Arifin. Saya sudah pernah gagal berumah tangga dan itu sangat tidak mudah. Benar apa yang dilakukan Umi Fitri untuk kebahagian Pak Arifin, hargai apa yang akan diberikan Umi Fitri untuk hidup Pak Arifin." Tutur Sarah yang harus mematahkan hati dan harapan Tuan nya. Karena bagaimana pun tidak akan mudah bagi pria mana pun yang nantinya akan menjalin kedekatan dengan dirinya.
" Apa sekarang kamu masih berstatus istri dari seseorang?." Tanya Pak Arifin lemas.
" Iya bisa dibilang seperti itu." Jawab Sarah cepat.
" Saya rasa sudah cukup apa yang kita bicarakan saat ini. Saya sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaan."
Tanpa menunggu Tuan nya memberi izin Sarah langsung saja keluar dari ruang kerja Pak Arifin dengan wajah yang cukup tegang.
Setelah percakapan yang cukup dekat antara dirinya dan Sarah, Ifin mengerti kalau perasaan tidak bisa untuk dipaksakan. Itu pun ia lakukan pada Sarah, ia memberikan ruang dan waktu tanpa harus menjauhi Sarah. Kembali pada posisi semula ia hanya pemakaian jasa dan Sarah yang bekerja pada nya.
" Nanti siang ada klien yang akan ke rumah dan rencananya aku akan mengajak nya untuk makan siang bersama, jadi tolong kalian siap kan semuanya." Jelas Arifin pada beberapa pelayan setia di rumah nya.
" Iya Pak Arifin kami mengerti dan akan segera menghidangkannya." Jawab salah satu dari pelayan.
__ADS_1