Suami ke dua

Suami ke dua
Orang asing


__ADS_3

Terrrt... terrrt suara handphone ibunya Dinda bergetar. Seperti biasa Rosa tidak pernah membunyikan suara handphonenya.


Pesan dari mas Adam selalu tidak terlewatkan. Sungguh aku terlalu rapi menyembunyikan perasaan ini. Ataukah terlalu kejam menjalin hubungan dengan mas Adam. Padahal aku tahu banyak perasaan yang aku sakiti.


Aku lihat mas Gilang tertidur pulas di sampingku. Sementara aku sibuk memainkan hatiku dengan mas Adam.


"Good night sayang."


"Aku sudah tua mas.. jangan menggodaku."


"Hii hii." Mas Adam tersenyum.


"Sayang aku kangen."


"Aduh mas... rayuanmu sudah tidak berlaku. Kalo kamu sayang dengan wanitamu ini. Harusnya kamu sudah jadi milikiku saat ini."


"Kamu juga sama sayang."


"Maksud kamu mas."


"Kamu juga tidak bisa meninggalkan suamimu."


Aku hanya Diam dari pada pembicaraan ini tambah melebar.


"Mas."


"Iya."


"Sepertinya mobil kamu ada di depan rumahku."


"Ngak mungkinlah sayang. Mobil ku di bawa keponakanku."


"Masa' aku bisa lupa dengan mobil kamu."


"Enggaklah sayang. Aku menyuruh Dimas untuk mengantar asistenku."

__ADS_1


Rosa mengirimkan foto mobil perak itu ke handphone mas Adam.


"Ya Tuhan sayang...."


"Kenapa mas." Aku bingung dengan ulah mas Adam.


"Dinda itu asistenku. Dan dia anak kamu."


Deg ......


Aku syok dengan pernyataan mas Adam. Ternyata dunia ini sangat sempit. Dan mengapa dunia berputar di situ situ saja.


Aku hanya sedikit lemas mendengar berita ini. Bagaimana jika hubunganku dan mas Adam terbongkar. Padahal kami sudah sangat rapi menyimpannya bertahun tahun.


Bagaimana jika Dinda tahu kelakuan ibunya. Apakah dia bisa memaafkan aku. Pikiranku sudah kemana mana. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.


"Sayang ..."


"Iya Mas."


"Kamu baik baik saja kan."


Mas Adam kemudian diam dan berpikir. Mas Adam selalu menjadi sempurna di mataku. Seperti biasanya dia selalu menyelesaikan masalahku.


"Apa seharusnya Dinda besok aku larang saja. Kerja sama kamu."


"Jangan!! biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau. Dia masih muda, perjalanannya masih panjang."


"Tapi mas." Aku berusaha menolak permintaan mas Adam.


"Jangan khawatir sayang. Aku akan menjaganya."


"Tapi."


"Kamu takut apa."

__ADS_1


Ya Tuhan mas Adam selalu melumpuhkan hatiku. Padahal aku sering tidak setuju dengan keputusannya. Tapi mas Adam bisa mencerna pikiranku.


"Dari awal aku ketemu Dinda aku sudah merasa


Dia mirip denganmu."


"Maksud kamu mas."


"Dinda itu seperti kamu sayang. Dia selalu menggunakan nalurinya sendiri. Kalo dia terus seperti itu, bisa bisa pria di kantor pada mengejarnya."


"Bisa aja kamu mas."


"Beneran sayang. Buktinya aku."


"Awas kalo kamu apa apain Dinda."


Mas Adam hanya tersenyum meringis.


Entah sudah berapa lama kami seperti ini. Kami tidak pernah meninggalkan dan tidak pernah memiliki.


Mas Adam sudah menjadi bagian hidupku. Melupakannya adalah hal yang tidak bisa aku lakukan.


Sudah larut malam aku tidak bisa memejamkan mata. Pikiranku masih sibuk menanyakan apa yang terjadi besok.


Tidak seperti mas Adam yang menggampangkan masalah.


Aku menoleh ke arah suamiku, mas Gilang.. Aku sadar aku menyakitinya. Tapi orang yang di hadapanku ini, pernah dan sering menyakitiku.


Bukan perkara yang mudah untuk memaafkan. Kalo akhirnya dia akan mengulanginya lagi. Apalagi ketika mas Gilang tidak bisa mengontrol emosinya. Aku akan hanya jadi orang asing.


Dia tidak sadar telah menyakitiku


Entah sampai kapan permainan ini berakhir.


Entahlah.....

__ADS_1


...........


........


__ADS_2