
Tidak terasa malam itu mereka lewati dengan gelak tawa yang mampu menghangatkan hati dan perasaan yang beberapa tahun terasa dingin dan hampa.
Si kecil Sandra yang begitu senang berada dalam pelukan Mahen tidak pernah mau lepas sedikit pun sampai pagi ini. Yang dengan setia berada di dekat sang Papi.
Namun tidak dengan Sarah yang sudah bersiap untuk ke rumah utama menemui Umi Fitri dan Pak Arifin. Setelah menyiapkan makanan untuk kedua orang yang masih tertidur pulas di atas tempat tidur.
.
.
" Selamat pagi Umi, Pak Arifin." Sapa Sarah setibanya di rumah utama yang setiap harinya sudah menemukan kedua orang itu di meja makan.
" Selamat pagi Sarah." Balas keduanya bersamaan dan Umi Fitri langsung menanyakan keberadaan Sandra yang tidak terlihat bersama Sarah.
" Sandra masih tidur Umi." Sarah masih berdiri di tempat yang sama. Bingung harus memulainya dari mana untuk mengatakan semua kebenaran sebelum mereka tahu dengan sendirinya dan melihat keberadaan Mahen di rumah belakang.
" Kenapa Sarah?, ada yang ingin kamu bicarakan pada kami?." Pak Arifin menangkap gelagat Sarah seperti ini mengucapkan sesuatu namun masih berusaha ditahannya.
Umi Fitria pun menoleh pada Sarah yang sudah tertunduk dan memintanya untuk duduk disebelahnya. " Duduk lah disini kalau ingin bicara pada kami berdua."
" Bicaralah dengan berdiri kalau kamu nyaman nya seperti itu." Perintah Pak Arifin saat Sarah tidak mengindahkan perkataan Umi nya.
" Begini Umi Fitri, Pak Arifin. Mohon maaf sebelumnya kalau saya sudah lancang tidak meminta izin terlebih dahulu untuk memasukkan seorang pria yang masih berstatus suami saya dan Ayah dari Sandra." Akhirnya Sarah berhasil mengeluarkan apa yang ingin disampaikan. Walau tidak sama dengan rangkaian kata yang sudah disusunnya dari semenjak tadi pagi.
Umi Fitri dan Pak Arifin saling menatap dengan wajah Umi Fitri yang terlihat biasa saja, berbeda dengan Pak Arifin yang terlihat ada sebuah kekecewaan dari raut wajah nya. Mendengar nama suami yang begitu indah meluncur dari bibir Sarah tapi sayang yang pasti bukan dirinya. Ada perasaan tidak rela jika Sarah dan Sandra harus keluar dari rumah mereka dan kembali bersama suami nya.
__ADS_1
" Lalu?." Kini Umi Fitri yang mengambil alih untuk bertanya ketika melihat putra nya diam seribu bahasa dengan tatapan yang sulit diartikan nya sambil menatap lekat wajah Sarah.
" Semalam suami saya baru datang untuk menemui kami tapi bukan untuk meminta kami pulang. Karena ada masalah yang belum kami selesaikan." Lanjut Sarah menjelaskan.
" Kalau boleh saya minta libur hari ini, karena semenjak saya bekerja di sini saya belum ada mengambil libur sama sekali." Terang Sarah lebih lanjut lagi, ia tidak berani menatap dan mengajak bicara Pak Arifin yang jika dilihat sepintas seperti kurang bersahabat.
" Baik lah Sarah, terima kasih kamu sudah mau bicara jujur pada kami. Kamu boleh libur hari ini sampai masalah mu dan suami mu selesai. Dan saya harap tidak akan berlarut-larut dengan permasalahan kalian." Umi Fitri berusaha berada di posisi keduanya saat ini baik untuk Sarah dan suami. Supaya ada kejelasan pada status keduanya sebelum dirinya akan meminang Sarah untuk sang putra jika memang diperlukan.
" Baik Umi, terima kasih juga atas waktu dan perhatiannya. Saya permisi Umi, Pak Arifin." Sarah segera pergi dari sana karena sudah tidak tahan dengan tatapan Pak Arifin yang seolah memojokkan dirinya dengan keberadaan Mahen yang nyatanya masih menjadi suami nya saat ini.
.
.
Lepas dari tatapan elang seorang pria yang Sarah ketahui jika pria itu ada menaruh hati pada nya. Tapi apa mampu dirinya untuk berpisah dengan Mahen?, mengulang kesalahan yang sama seperti dengan Hafis?. Tapi jika tidak berpisah dirinya pun tidak ingin membahayakan keberadaan mereka yang sangat berarti bagi hidup Sarah.
Si kecil Sandra hanya berceloteh dengan selalu memanggil Pa-pi beruang kali. Bagaikan kaset yang diputarnya terus menerus.
" Apa aku salah bila nantinya harus membuat Sandra terpisah lagi dari Bang Mahen?." Batin Sarah.
Mahen menyadari kehadiran Sarah di dekat mereka, dengan cepat ia memakai kain sarung milik Sarah yang biasa dipakai untuk bawahan mukena nya. Karena ia masih menunggu kiriman pakaian dari Erik yang sampai sekarang belum juga diantarnya.
Lalu dengan tiba-tiba Mahen yang menggendong Sandra sudah berdiri tepat di depan Sarah yang masih terpaku ditempatnya.
" Maaf kalau sudah membuat mu tidak nyaman di rumah mu sendiri." Ucap Mahen berjalan menuju meja makan yang diikuti Sarah dari belakang.
__ADS_1
" Ini bukan rumah ku, melainkan milik majikan ku." Jawab Sarah sedikit ketus yang entah kenapa kesal melihat sikap dingin Mahen pada nya. Tidak sehangat sikap nya pada Sandra.
" Menyebalkan " Gerutu Sarah cukup kencang.
Mahen menghentikan langkah kaki nya hingga membuat Sandra membentur punggung Mahen dengan kencang namun ia malah bersyukur karena dapat menghirup dalam-dalam aroma wangi yang sama yang sudah beberapa tahun ini tidak mengganggu indera penciuman nya.
Detak jantung keduanya pun berpacu dengan cepat seakan sedang berlomba untuk mencapai tempat finis terlebih dahulu.
Perlahan Mahen memutar tubuh guna berhadapan langsung dengan Sarah, ingin sekali melihat wajah Sarah yang merona kala berdekatan dengan dirinya.
Berhasil. Mahen melihat dengan jelas rona merah menghiasi wajah Sarah yang sedang tersipu malu. Seolah tidak mengindahkan apa pun lagi tentang larangan untuk dirinya sendiri supaya tidak berdekatan lagi dengan Sarah jika hal buruk mengharuskan mereka berpisah.
" Biarkan seperti ini sebentar saja. Abang sangat merindukanmu dan Sandra. Abang ingin merasakan menjadi seorang suami dan Ayah sekaligus yang utuh dengan memeluk kalian seperti ini." Buliran kristal itu menetas membasahi rambut Sarah yang diikat nya kala Mahen sudah tidak bisa membendungnya. Melepaskan mereka kalau itu membuat mereka lebih bahagia tanpa dirinya kenapa tidak ia lakukan. Karena tidak mungkin juga ia harus merelakan Mama Kemala masuk dalam penjara.
Pergulatan batin yang kini Mahen hadapi bukan perkara mudah. Mempertahan atau melepaskan atau akan ia tukar dengan seseorang yang sudah sangat berjasa dalam hidup nya. Rasanya sangat mustahil, anggap saja ini sebagai balasan atas apa yang pernah ia lakukan dulu pada mereka yang telah ia sakiti atau takdir yang harus dijalaninya seperti ini.
Tangan Sarah berharap bisa melingkar pada tubuh kekar Mahen, tapi Sarah coba menahannya sekuat tenaga supaya tidak melakukan hal yang diperintahkan oleh hati nya.
" Terima kasih sudah memberi Abang kesempatan untuk merasakannya. Sekarang mari kita bicara tentang kita yang belum usai dan akan kita bawa kemana pernikahan ini?." Tenggorokan Mahen terasa kering kala mengucapkan kalimat demi kalimat yang sangat menyakitkan hati nya sampai ia harus menelan ludah berkali-kali untuk membasahi nya.
Sarah meminta Sandra untuk turun dari pangkuan Mahen dan bermain sendiri bersama semua mainan dan boneka nya. Tapi Sandra menolaknya dengan memegang leher Mahen supaya tidak turun dari sana.
" Biarkan Sandra seperti ini, Sandra belum mengerti dengan apa yang akan kita bicarakan ini." Mahen menghentikan tangan Sarah yang sedikit memaksa Sandra untuk turun dari pangkuannya.
" Biarkan seperti ini Sarah!, sebelum kita menyepakati untuk berpisah. Itu kan yang kamu mau sekarang ini dari Abang?." Ucap Mahen dengan sangat tegas dan raut wajah penuh kesedihan .
__ADS_1
" Sebelum Abang mengabulkan apa yang kamu ingin kan. Tolong biarkan Abang memiliki waktu berdua dengan Sandra, sebelum kamu pergi jauh dari hidup Abang, biarkan Abang memiliki kenangan manis bersama kalian."
Keduanya sama-sama menghapus air mata yang sama-sama terjatuh membasahi kedua pipi mereka.