Suami ke dua

Suami ke dua
Survei


__ADS_3

Pagi


Seperti biasanya Dinda datang sebelum pak Adam. Dinda menyiapkan segala keperluan Adam.


"Pagi pak."


Adam baru memasuki ruangan kerjanya.


"Dinda nanti kamu ikut dengan Dimas."


"Kemana pak."


"Survei tempat."


"Koq harus saya sih pak." Dinda sebenarnya malas jika harus berpergian dengan Dimas. Dinda malah berharap jika Dia akan berpergian dengan Adam.


"Kamu mau nolak, perintah saya."


"Bukan mau nolak pak. Tapi saya tidak ingin berpergian dengan pak Dimas. Pak Dimas kan jahat sama saya." Jelas Dinda.


"Maksud kamu berpergian!!! Kamu itu survei." Adam memandang Dinda dan menjelaskan maksudnya.qs


Dinda sedikit memandang Adam. Dinda kemudian menurunkan pandangan itu. Entah apa yang di lakukan Dinda. Gadis dua puluh tahun itu cukup berani, menatap bosnya. Ada tatapan yang tidak biasa yang di lakukan seorang asisten ke pada bosnya.


Dinda merasa tidak nyaman dengan perasaannya sendiri. Dinda selalu merasa bangga jika dia berada di samping bosnya. Entah itu perasaan kagum atau apa. Tapi rasa kagum yang berlebihan itu kadang kadang terbawa ke alam bawah sadarnya.


Apalagi saat Adam mengatakan "Kita itu harus jadi orang kaya. Karena kalo kita kaya, kita dapat membantu orang orang di sekitar kita" Padahal Dinda dulu berpikir, Kita itu tidak boleh terlalu mengejar duniawi. Karena kesenangan duniawi tidak bisa di bawa mati. Perubahan cara berpikir Dinda itu membuatnya selalu ingin


dekat dengan bosnya.

__ADS_1


"Dinda nanti saya akan pergi keluar. Jadi nanti kamu pergi sama Dimas. Dan pulangnya sama Dimas aja. Ngak usah balik ke kantor." Ucap pak


Adam.


"Pak Adam mau kemana." Dinda selalu ingin tahu.


Adam hanya diam. Apakah salah jika seorang asisten mengetahui jadwal bosnya. Tapi menurut Adam tidak semuanya di cerita kan kepada Dinda.


Keingintahuan Dinda terkadang akan menjadi ranjau untuk dirinya sendiri. Terkadang bersikap sewajarnya jauh lebih baik dari pada harus mengulik hal yang tidak harus di ketahui.


.....


.....


.....


"Dinda kenapa kamu diam aja." Dimas sibuk mengemudi.


"Dinda dinda kamu ini seperti anak kecil aja." Dimas sambil ketawa.


"Emang Dinda masih kecil."


"Kalo masih kecil itu, di rumah aja ngak usah kerja. Dirumah sambil main monopoli." Dimas ketawa lagi.


"Tuh kan pak Dimas jahat sama Dinda."


"Kalo kerja itu harus profesional."


Dimas masih melajukan mobilnya. Sekitar satu jam mereka sampai di tujuan.

__ADS_1


"Emang saya tidak profesional." Dinda balik tanya.


"Iya profesional tapi ....."


"Tapi kenapa pak."


"Tapi pencitraan. Haaa haaa." Dimas tertawa dengan keras


"Tuh kan pak Dimas. Kenapa sih pak Dimas tidak pernah menghargai Dinda. Dari awal Dinda ngak mau pergi sama pak Dimas. Tapi pak Adam terus maksa Dinda.."


"Makanya kamu itu jangan sok pintar. Kemaren aja di ruang rapat. Ikut bersuara, Sekarang kamu harus bertanggung jawab atas ide ide yang kamu keluarkan."


"Tapi pak kemarin Dinda cuma asal ngomong aja."


"Makanya berani berbuat berani pertanggung jawab.


Batin Dinda." Pak Adam memang sengaja menjebak Dinda. Pak Adam memang sengaja menaruh Dinda di suatu masalah. Agar Dinda tidak membuntutinya."


"Ayo Din turun. Kamu masih mau di situ."


Dinda hanya melihat tanah kosong yang di tumbuhi rumput liar.


Terik matahari sungguh menyengat Dinda.


"Harusnya kita bawa topi pak. Panas banget."


"Kamu itu bisanya protes terus."


.....

__ADS_1


.....


__ADS_2