
" Ada apa?." Papa Darwin menangkap kegelisahan dan kecemasan dalam diri putra sulung nya itu saat mereka duduk di bangku depan ruangan Sarah.
Mahen menghela nafas dengan panjang sebelum ia menjawab Papa Darwin. " Bisnis ku di Manado ada masalah, Andre meminta ku untuk datang ke sana. Aku tidak ingin meninggalkan Sarah sedetik pun."
Papa Darwin mengerti kenapa Mahen berpikir seperti itu. Tapi alangkah lebih baik jika sesuatu dilihat secara baik dan positif.
" Lama di sana?." Papa Darwin merubah posisi duduk untuk mendapatkan posisi yang lebih nyaman.
" Andre bilang hanya dua hari. Tapi jika melihat yang sudah-sudah pasti lebih dari dua Minggu." Mahen mengusap wajah nya dengan kasar bahkan sesekali mengacak rambutnya frustasi.
" Kalau kamu percaya pada Mama dan Papa, pergilah ke Manado. Beres tidak beres masalah mu di sana setelah dua hari kamu langsung balik ke sini kalau memang masih merasa khawatir pada Sarah dan calon bayi kalian." Papa Darwin mencoba memberi usulan pada Mahen siapa Mahen membutuhkan masukan dari nya.
Mahen terdiam sejenak menimang apa yang Papa Darwin katakan, tapi hati dan pikirannya sangat menolak untuk pergi ke Manado meski hanya untuk dua hari. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi satu detik kemudian dari sekarang, maka ia sudah memikirkannya berulang kali untuk melimpahkan Showroom tersebut pada Andre.
" Tapi sepertinya aku tidak akan pergi Pa, aku benar-benar tidak ingin meninggalkan Sarah."
" Kalau memang itu yang terbaik, Papa ikut saja. Kamu yang lebih tahu." Balas Papa Darwin bijak.
" Ayo kita masuk ini sudah malam, besok pagi Mama dan Papa akan pulang." Papa Darwin menepuk pundak Mahen.
" Aku masih menunggu Erik, Pa." Ucap Mahen.
Papa Darwin akhirnya masuk lebih dulu ke dalam ruangan menyusul Mama Kemala yang sudah tidur pulas di kasur yang sudah di siapkan Mahen.
Mahen merenungkan banyak hal yang sudah dilewatinya supaya bisa hidup bersama Sarah. Sudah banyak hal yang ia korbankan mulai dari materi, Lydia, Hafis dan Syifa. Jadi ia tidak akan pernah menyerah dan akan tetap berada di samping Sarah apa pun yang akan terjadi.
" Pak Bos " Suara Erik menyadarkan Mahen dari lamunannya.
" Aku sudah menunggu dari tadi." Balas Mahen dengan wajah datar.
" Iya Pak Bos soalnya tadi lumayan lama dapat info-infonya." Balas Erik cepat.
Erik memberikan terlebih dulu berkas yang harus Mahen tanda tangan supaya besok pagi bisa langsung di follow up oleh pihak Klien. Setelah ia memberikan laporan mengenai apa yang sudah menimpa Sarah pagi tadi di kantor nya.
__ADS_1
" Bagaimana?." Tanya Mahen sudah memasang wajah serius.
Tapi sayang jawabannya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Karena Erik tidak menemukan kesengajaan dalam kejadian tersebut, dan itu murni sebuah kecelakaan tidak ada yang berniat Sarah atau pun calon bayi Mahen.
" Apa kau yakin sudah mengecek semuanya?." Mahen memastikannya lagi dan berharap ada yang terlewat dari Erik, tapi sayang jawabnya tetap sama.
" Tidak ada Pak Bos."
Erik memikirkan kembali apa yang didapatnya sore bahkan sampai malam hari namun tetap tidak menemukan apa yang sedang dicarinya.
" Bagaimana menurut mu kalau Showroom yang di Manado aku serahkan sepenuhnya pada Andre?." Mahen ingin mendengar apa pendapat Erik selalu orang yang sudah lama ikut dan bekerja pada nya.
Erik menatap sekilas pada Mahen lalu kembali fokus pada tumpukan bekas yang ada di tangannya.
" Kalau saya pribadi jujur saja saya kurang setuju. Walau pun saat itu Pak Bos memiliki uang yang banyak, namun rupanya tidak mudah untuk membangun Showroom dan mendapatkan tempat yang sebagus itu. Terlebih sudah banyak Showroom yang lainnya sudah berpindah tangan dan kepemilikannya. " Jawab Erik jujur.
" Apa semua ini karena Ibu Sarah?." Tanya Erik dengan sangat hati-hati.
Erik hanya mangut-mangut saja mendengarkan penuturan Mahen. Tapi ia juga tidak bisa berbuat banyak jika memang Mahen ingin menjualnya pada Andre.
" Kau pulang lah, istirahat. Besok kau harus kerja lagi. Terima kasih sudah sangat membantu ku." Ucap Mahen berdiri dan meluruskan seluruh tubuh dan menggerakkan kakinya. Sungguh sangat melelahkan pikiran dan tubuhnya saat ini
Keesokan paginya Mama Kemala dan Papa Darwin berpamitan pulang dan nanti sore mereka akan datang lagi.
" Sarah, Mama sama Papa pulang dulu nanti sore kami kesini lagi."
" Iya Ma, Pa terima kasih banyak sudah mau menemani kami di sini." Balas Sarah tulus.
Mahen mengantarkan kedua orang tuanya sampai tempat parkir. Setelah nya ia kembali lagi ke ruangan Sarah setelah membeli sarapan untuk mereka.
" Abang enggak antar Mama Papa pulang?. kasihan tahu Papa harus nyetir." Sarah memposisikan dirinya duduk untuk mengikat rambutnya sendiri.
" Ada Supir yang jemput sayang." Balas Mahen.
__ADS_1
Mahen dan Sarah mulai sarapan dengan makanan yang tadi dibeli oleh Mahen. Usai sarapan Mahen menerima telepon lagi lagi Andre dan mendesaknya untuk segera datang ke Manado.
" Masa kau tak becus untuk menghandle pekerjaan seperti itu?." Bentak Mahen diakhir kalimatnya dan ia pun langsung memutus teleponnya tanpa mempedulikan Andre.
Sarah merasa ada yang tidak beres dengan pekerjaannya sampai Mahen harus marah dan berbicara dengan nada tinggi seperti itu.
" Maaf sayang kalau kamu harus mendengar Abang bicara kasar." Ucap Mahen mengecup kening Sarah dan melanjutkan merapikan sisa-sisa sarapan mereka dan hendak masuk ke dalam kamar mandi namun terhenti suara Sarah.
" Iya Bang enggak apa-apa ngerti ko" Jawab Sarah menundukkan wajahnya. Entah apa yang dirasakannya saat ini namun yang jelas ia merasa ada hubungan dirinya.
Mahen tidak masuk ke kamar mandi, ia hanya perlu membasuh muka nya saja supaya tidak terlihat suntuk di depan Sarah.
" Iya sayang terima kasih." Mahen duduk di samping Sarah dengan merebahkan tubuh Sarah pada dadanya.
Hening saat ini sebab baik Sarah atau pun Mahen tidak ada lagi yang berbicara sampai suara seorang perawat menganggu indera pendengaran mereka.
" Selamat Pagi Ibu Sarah, Pak Mahen. Maaf menganggu tapi Dokter Wahyu ingin berbicara dengan Bapak Mahen. Beliau sudah menunggu Pak Mahen di ruangannya. Dan saya akan memeriksa tensi dan suhu Ibu Sarah." Ucap perawat tersebut.
" Iya sus terima kasih " Balas Mahen.
" Sayang aku ke ruangan Dokter Wahyu." Pamit Mahen, namun sebelum itu ia menyempatkan diri untuk mendaratkan sebuah kecupan singkat tapi begitu mesra pada kedua pipi Sarah. Sampai muka si perawat ikut merah dibuatnya karena malu melihat adegan manis tersebut.
Ponsel Sarah bergetar usai dirinya di periksa oleh perawat sehingga ia dengan leluasa bisa berbicara dengan orang yang meneleponnya.
Sarah hanya diam dengan bibir yang mengatur saat ponsel yang sudah dipegang dan berada di telinga nya. Sepertinya ia sedang menyimak dengan seksama apa yang disampaikan si penelepon dengan sesekali Sarah mengangguk pelan sebagai tanda setuju atau paham. Cukup lama juga Sarah menerima telepon sampai pintu terbuka dan Mahen yang masuk dengan senyum yang terus mengembang dari wajah tampan nya.
Sarah segera menurunkan ponsel nya setelah dengan sengaja ia memanggil nama suami nya itu cukup kencang.
" Bang Mahen sudah selesai?."
" Hem. Kamu tahu sayang kemungkinan besok sore kita bisa pulang. Dan kita bisa menunggu kelahiran calon bayi kita di rumah saja dengan tenang." Mahen bertubi-tubi mengecup bibir Sarah sampai Sarah merasa sudah untuk bernafas.
" Maaf sayang " Gumam Mahen lirih sembari menghilangkan jejak-jejak basah pada bibir Sarah.
__ADS_1