Suami ke dua

Suami ke dua
Bab 95


__ADS_3

" Aku rasa itu yang jalan yang terbaik bagi kita Bang Mahen. Aku juga melaluinya penuh perjuangan untuk bisa sampai di sini saat ini. Bang Mahen pasti tahu kenapa aku tidak pulang dan mencari Abang setelah peristiwa itu?. Jadi biarkan semuanya seperti ini." Untuk mengucapkan hal yang se-menyakitkan ini pun Sarah harus menekan perasaan terdalamnya tentang Mahen dan Sandra. Ia harus kuat untuk meminta berpisah dari Mahen.


Mahen terlihat menunduk, tidak mampu memperlihatkan wajah yang sudah dipenuhi kesedihan dan air mata. Biarkan saat ini dirinya menangis, sebelum semuanya benar-benar berakhir.


" Abang tidak ingin mempersulit hidup mu lagi. Jadi Abang akan mengabulkan apa yang menurut mu baik untuk diri mu dan Sandra. Tapi tolong beri Abang waktu untuk bisa bersama Sandra." Mahen menguatkan hati nya untuk menatap Sarah yang terlihat tegar dan sudah bersiap untuk berpisah dari nya.


" Berapa lama?. Aku berharap tidak akan lama-lama Bang. Takut nya Sandra terbiasa dengan Abang dan aku nya jadi kesusahan untuk membawa pergi Sandra dari Abang." Terdengar begitu kejam dengan apa yang sudah diucapkan oleh Sarah. Tapi itu lah Sarah saat ini yang lebih menekan hati nya dari pada logikanya.


" Tiga bulan "


Sarah menggeleng lemah.


" Dua bulan "


Sarah kembali menggeleng lemah


" Satu Bulan "


Lagi-lagi Sarah menggeleng lemah.


" Hanya kurang dari satu bulan waktu yang kamu berikan untuk Abang?."


Sarah mengangguk lemah.


" Baiklah dua pulih sembilan hari biarkan Abang tinggal bersama Sandra."

__ADS_1


" Tidak Bang Mahen!, jangan lakukan itu!." Sarah begitu ketakutan jika Sandra akan dibawa tinggal di rumah Pradivya, takut jika Sandra tidak akan pernah kembali lagi pada nya.


Melihat begitu banyak kecemasan dan ketakutan, Mahen pun tidak tega untuk membawa Sandra bertemu dengan kakek nenek nya.


" Abang akan membawa Sandra ke kantor, walau tidak layak, tapi kamu akan tenang untuk meninggalkan Sandra bersama Abang."


" Kantor?. Apa maksud Bang Mahen?. Kenapa harus membawa Sandra ke kantor?. Lalu Apartemen?, rumah?. Apa yang sudah terjadi selama diri ku tidak ada?." Semua pertanyaan itu hanya bisa ia tanyakan sendiri pada hati nya. Berusaha menebak apa yang terjadi pada hidup Mahen yang tidak diketahuinya.


" Apa aku sudah bertindak kejam dengan seperti ini?." Batin nya.


" Karena kamu diam Abang anggap setuju untuk membawa Sandra ke kantor." Ulang Mahen pada istri nya itu.


" Iya " Ucap Sarah pelan.


Sarah, Mahen dan Sandra terlihat sudah bersiap untuk mulai sarapan. Sandra dibantu Mahen untuk makan sendiri dari atas pangkuan nya. Terlihat Sandra makan dengan lahap walau harus berantakan sampai mengenai dada bidang Mahen. Tidak banyak larangan yang biasa nya keluar dari mulut Sarah. Sandra tidak boleh ini, jangan sambil berlari Sandra, hati-hati tumpah Sandra, Jangan sampai kotor pakaian mu Sandra, dan banyak lagi kata larangan dari Sarah.


Sarah segera bangkit berdiri dan membuka pintu dengan lebar.


" Sarah ada Pak Erik di rumah yang ingin mengantarkan pakaian untuk suami mu." Pak Arifin yang ternyata mengetuk pintu rumah. Pak Arifin berharap bertemu suami Sarah yang diyakini nya Mahendra Wicaksana Pradivya.


Dengan susah payah Sarah menelan ludah nya sendiri kala Mahen sudah berdiri tepat dibelakangnya dan menyapa secara langsung Pak Arifin.


" Halo Pak Arifin. Maaf kalau pertemuan kita kali ini harus seperti ini. Maaf saya juga sudah lancang masuk ke rumah Pak Arifin yang ini untuk menemui istri dan anak saya." Ada banyak ketidakrelaan Mahen untuk melepas Sarah pada pria mana pun untuk saat ini atau pun selamanya.


" Ok tidak masalah Pak Mahendra. Silakan selesaikan masalah diantara kalian. Karena saya akan menunggu Sarah." Pak Arifin begitu terbakar api cemburu melihat tampilan Mahen yang bisa dipikirkan Pak Arifin jika Sarah dan Mahen sudah bercinta melepas rasa rindu mereka. Sampai ia harus berbicara seperti seolah-olah dirinya kekasih Sarah yang sedang menunggu Sarah untuk segera berpisah dari suaminya.

__ADS_1


Mahen mendengar dan melihat jelas keseriusan yang sedang ditunjukkan Pak Arifin pada wanita yang masih berstatus istri nya itu.


" Apa iya aku sanggup melepas mereka?. Kalau untuk seperti ini lebih baik aku memilih untuk tidak pernah bertemu dengan mereka." Jerit Mahen pilu. Memegang erat tangan Sandra yang tiba-tiba menyentuh telapak tangan nya.


" Baik Pak Arifin saya akan ke rumah depan untuk mengambil pakaian yang dibawa oleh Erik." Sarah tidak ingin mendengar lebih banyak lagi apa yang akan dibicarakan keduanya. Makanya ia lebih memilih pergi saja dari sana.


" Kalau urusan kalian sudah selesai, saya mengundang Pak Mahendra untuk membicarakan keseriusan saya pada Sarah. Dan saya harap Pak Mahendra tidak akan pernah mempersulit jalan Sarah." Sudah terlanjur jauh ia menyukai Sarah dengan keberanian yang tiba-tiba datang menyentuh sisi rasa cinta nya pada Sarah, hingga ia memutuskan untuk memperjuangkan Sarah dari Mahendra dan restu dari Umi Fitri.


" Saya akan melepaskan Sarah, tapi tidak sekarang. Jadi bersabarlah untuk menunggu sampai waktu nya tiba untuk Pak Arifin bersama Sarah." Balas Mahen dengan wajah datar tanpa ekspresi.


" Bersama Sandra tentunya Pak Mahendra." Tegas Pak Arifin. Kemudian ia berpamitan pada Mahen setalah mengelus rambut kepala Sandra dengan sayang.


" Mungkin untuk Pria sebaik Pak Arifin aku akan tenang melepaskan mu dan Sandra. Tidak seperti aku dan keluarga ku yang sudah banyak membuat mu menderita." Ucap nya dalam hati dengan mata yang berkaca-kaca.


Sedangkan Erik baru saja menyerahkan pakaian lengkap untuk Mahen pada Sarah.


" Jangan menghakimi Bang Mahen karena kesalahan keluarga nya, Bang Mahen sudah banyak menderita kehilangan mu dan semua yang dimiliki nya. Berilah sedikit saja kebahagian dalam hidup nya, Bang Mahen..." Erik menghentikan kalimat nya karena kedatangan Pak Arifin yang meminta Sarah untuk segera ke rumah belakang dan memberikan pakaian nya untuk Mahen.


" Terima kasih Erik " Sarah pun berpamitan pada keduanya dan segera pergi.


" Pak Erik mungkin mau mampir dulu untuk sekedar minum teh atau kopi bersama saya?. Tadi nya saya hari ini mau ke kantor, tapi melihat ada Pak Mahendra di rumah saya dan bersama Sarah. Jadi lebih baik saya di rumah saja siapa tahu Sarah dan Sandra membutuhkan saya." Lagi-lagi Pak Arifin menunjukkan ketertarikannya pada wanita satu dua anak itu. Yang Erik pun tidak bisa menyalahkan Sarah jika ada banyak pria yang dengan begitu gampangnya jatuh hati pada Sarah.


" Aku rasa Bang Mahen akan mundur jika tahu Pak Arifin begitu menginginkan Sarah." Ucap Erik dalam hati.


" Tapi mohon maaf Pak Arifin, mungkin saya harus mengecewakan Pak Arifin tapi saya setalah dari sini ada meeting bersama Pak Robby." Pak Arifin tahu siapa Pak Robby. Orang yang sudah mendapatkan rekomendasi dari nya tentang perusahan Mahen.

__ADS_1


" Ok kalau begitu saya akan minta pada Pak Robby untuk meeting di rumah saya aja. Pasti Pak Robby tidak akan menolak. Pak Erik tenang saja Pak Robby orang nya fleksibel jadi pasti bisa datang kemari." Erik pun hanya bisa pasrah menerima keadaan seperti ini.


__ADS_2