Suami ke dua

Suami ke dua
Makanan Gratis


__ADS_3

"Dinda kamu hubungi nomor ini, suruh kirim makanannya cepat. Karena ini jam makan siang bentar lagi." Perintah Adam.


"Iya pak."


Adam memang membuat bisnis di segala bidang. Setiap kesempatan yang ada pasti dia ambil. Kali ini Dinda di suruh menghubungi salah satu bisnis kulinernya. Hampir sama dengan produknya artis yang menjual ayam tepung. Tapi Adam memberi rasa yang beda. Kini cabangnya sudah menguasai jawa timur.


"Pak Adam mengapa pesan banyak makanan, Apa ada yang ulang tahun." Dinda penasaran.


"Enggak. Setiap hari jumat, saya memberi makanan gratis ke karyawan." Jawab Adam.


"Ya Tuhan Pak Adam adalah orang yang paling sempurna yang Dinda kenal. Baik, sopan, cerdas, kaya raya, berwibawa, suka sedekah." Batin Dinda, Dinda semakin mengagumi sosok Adam.


"Kita boleh berkerja keras tapi jangan lupa untuk sedekah." Kata Adam.


Benar benar perfect kata Dinda. Dinda makin hari makin kagum. Karena Dinda melihat sendiri cara kerja bosnya itu. Setiap ada Adam, Dinda selalu membuntuti di belakangnya


Adam memang terkadang hitungan hitungan kalo mengenai soal uang. Karena dia bergerak di bidang bisnis. Dia tidak ingin rugi, karena bisnis itu sama dengan jualan. Kita harus mendapatkan untung dari penjualan. Dari hasil untung itu baru di sedekahkan.


Jam makan siang sudah tiba. Dinda mengawasi apakah semua dapat makan siang gratis hari ini. Tidak luput juga dengan tukang parkir, satpam juga kebagian.


Sayangnya si bos itu tidak senang pansos, meski dia orang yang agak narsis. Dia Tidak Ingin di puji orang kelihatan baik. Karena dia tau dalam hasil kerasnya saat ini. Bukan semata mata haknya sendiri, tapi ada hak hak orang lain yang harus merasakan nya.


"Kak Dinda..."


"Devan kamu ngapain ke sini." Tanya Dinda.


"Pengen ketemu kak Dinda." Jawab nya lugu.

__ADS_1


"Kemarin kan udah ketemu."


"Kan kemarin kak. Sekarang kan belum."


"Udah makan belum." Tanya Dinda.


"Belum kak, Devan sengaja belum makan hari ini. Nungguin di suapin kak Dinda."


"Bisa aja kamu ini."


"Papa..... "Devan menemui Adam.


"Ngapain kamu kesini." Tanya Adam.


"Pengen ketemu kak Dinda."


"Hii hihi." Devan hanya tersenyum.


Devan memang punya supir pribadi. Untuk mengantarkan sekolah, les dan kegiatan lainnya. Termasuk seenaknya dateng ke kantor papanya.


"Kak suapin dong."


"Dinda menyendokkan makanan ke mulut Devan."


Dinda seneng menyuapi Devan, Tapi kalo Devan cocok dengan makanannya. Belum sempat Dinda menyendok untuk dirinya sendiri. Devan sudah membuka mulutnya. Hingga akhirnya tinggal sambal sama kerupuk aja. Devan memang sedang masa pertumbuhan yang harus banyak makan.


Adam sudah hafal dengan kebiasaan anak lelakinya itu. Jadi Dinda sering di kasih uang lebih, untuk menganti kerugian yang di timbulkan Devan. Padahal menurut Dinda, Dinda seneng hati melakukannya. Karena Dinda sudah menganggap Devan seperti adik sendiri.

__ADS_1


"Kak Dinda sekarang tambah cantik." Puji Devan.


"Bisa aja kamu. Anak kecil tau apa dengan wanita cantik."


"Kakak itu memang cantik. Artis korea aja kalah. Kalo kak Dinda itu cantiknya natural. Pasti mamanya Kak Dinda cantik juga ya." Tanya Devan.


"Kak Dinda manggilnya ibuk bukan mama. Karena kak Dinda tinggal di Desa."


"Kapan kapan Devan ajak dong ke rumah kak Dinda."


"Iya boleh."


"Devan pengen ketemu dengan ibuknya kak Dinda."


"Ini ada fotonya." Dinda menunjukkan foto Rosa kepada Devan.


"Wah cantik banget ibunya kak Dinda. Sepertinya Devan pernah ketemu, dengan Ibunya kak Dinda." Jawab Devan.


"Ngak mungkin. Ibunya kak Dinda kan di desa sementara Devan kan di kota." Ulas Dinda.


"Kak Dinda ngak percaya sih."


.......


......


......

__ADS_1


__ADS_2