
Dokter yang dipanggil ke rumah pun sudah menyatakan kalau Mama Kemala sudah berpulang pada sang Pencipta. Dengan diagnosa medis tubuh renta Mama Kemala tidak bisa menerima penggunaan obat tidur yang dikonsumsinya selama kurang dari tiga hari.
Kini hanya tinggal mereka di pusara sang Mama yang masih sangat basah. Papa Darwin tidak menyangka jika bentuk tanggung jawab yang dimaksud Mama Kemala jalan yang seperti ini. Padahal ini justru menambah luka hati pada anak-anaknya. Terlebih pada Hafis, Mahen dan Syifa.
"Kalian pulang saja duluan, Papa masih ingin disini?." Papa Darwin melihat sebagian anak dan menantunya mulai meninggalkan pemakaman.
"Aku tidak akan pulang tanpa Papa. Cukup aku kehilangan Mama, aku akan menunggu Papa disini." Hafis berdiri tepat di samping Papa Darwin yang menatap batu nisan bertuliskan nama wanita yang sangat dicintainya.
"Abang pulang saja bawa anak-anak. Biar aku yang jaga Papa." Ucap Hafis pada Mahen ketika melihat Sandra mulai menangis minta pulang.
"Aku juga masih mau disini, menemani Papa dan Hafis." Widi memilih menemani Papa Darwin dan Hafis, takut nanti Hafis membutuhkan tenaganya. Ia juga tidak ingin kecolongan lagi.
"Iya, aku titip Papa pada kalian. Kami pulang." Pamit Mahen.
.
.
Sarah melihat dua lembar foto yang ada dalam dekapan Mama Kemala. Foto pertama pernikahan dirinya dengan Hafis, dan foto kedua pernikahan dirinya dengan Mahen. Masing-masing dibelakang foto tersebut bertuliskan kata-kata maaf yang tertuju untuk Mahen, Sarah dan Hafis. Terlebih Mama Kemala meminta maaf pada Hafis dan Sarah. Rasa bersalahnya begitu besar untuk pada Hafis si putra bungsu, sampai ia berpesan pada Mahen dan Sarah untuk tetap baik, dekat dan memperhatikan semua kebutuhan Hafis meski Hafis berkeluarga nanti.
"Maafkan semua kesalahan Mama selama ini. Abang tahu ini tidak ada apa-apanya dengan kesedihan mu waktu itu." Mahen ikut duduk di samping Sarah, mengelus pipi Sandra dengan lembut yang sedang terlelap tidur. Menatap Syifa yang tidur memeluk Sandra dengan tangan kecilnya.
Sarah menggeleng, "Aku yang harusnya meminta maaf, karena kehadiran aku dalam hidup kalian, Mama harus pergi dengan seperti ini. Aku minta maaf."
Sarah menoleh dan menyandarkan kepala pada dada Mahen dengan air mata yang terus saja berjatuhan.
"Bukan salah mu sayang, Mama yang lebih memilih jalan yang seperti ini. Padahal masih banyak jalan lain yang bisa menyelesaikan masalah kita." Mahen menenangkan Sarah yang menangis tersedu-sedu.
"Kita harus bicara dengan Hafis, dan kalau kamu enggak keberatan aku akan menjalankan apa yang diamanahkan Mama. Kalau kamu keberatan bilang aja, supaya kita sama-sama saling bisa menjaga apa yang harus kita jaga." Mahen mengambil foto yang masih saja dipegang Sarah, kini Mahen yang menatap kedua foto tersebut.
__ADS_1
"Aku tidak ada masalah kalau kita harus menjalankan amanah dari Mami. Dan aku juga tidak mungkin memisahkan Syifa dari Hafis dari atau sebaliknya. Aku kita bisa hidup rukun walau bukan sebagai pasangan lagi." Karena bagi Sarah perasaannya kini hanya untuk Mahen. Hafis sudah bagian dari masa lalunya sebagai seorang ayah dari Syifa, putri pertamanya.
"Kenapa kami begitu mencintai wanita yang sama?. Padahal dulu Abang kira hanya perasaan biasa aja saat melihat mu untuk pertama kalinya datang ke rumah ini bersama Hafis. Namun ternyata lebih dari pada itu. Abang sangat sangat mencintai mu." Ucap Mahen menggenggam tangan Sarah.
"Mungkin memang jalan kita harus seperti itu.
aku hanya menyayangkan saja kalau kita bahagia harus dengan melihat mereka ada yang menderita."
.
.
Sepulangnya dari pemakaman, Papa Darwin langsung masuk ke dalam kamar ditemani dengan Hafis. Widi bersama suami hanya duduk di ruang tengah.
"Kamu tahu kalau Sarah ada di rumah ini?." Tanya suami Sarah.
"Enggak, aku enggak tahu. Bang Mahen belum bilang apa-apa pada ku. Tapi kayanya Papa dan Hafis Hafis sudah tahu." Jawab Widi. Mereka tidak habis pikir saja kenapa Ma Kemala lebih memilih jalan yang sangat jauh dari pikiran mereka?. Memang besar kesalahan yang dilakukan Mama Kemala tapi masih ada jalan damai yang mungkin saja bisa membebaskan Mama Kemala daripada memilih jalan seperti ini.
Widi dan suaminya berencana untuk menginap di rumah Pradivya selama satu bulan ke depan. Ia tidak ingin jika Papa nya merasa sendiri di rumah sebesar ini.
Sementara itu di kamar Papa Darwin, Hafis masih duduk setia di dekat Papa Darwin dengan wajah yang penuh dengan kesedihan. Duka kehilangan yang sangat luar biasa yang Papa Darwin rasakan, Mama Kemala merupakan belahan jiwa yang sempurna bagi Papa Darwin, hanya saja memang ada untuk sifat-sifat tertentu yang kadang tidak bisa ditolerir nya. Selebihnya Mama Kemala sosok istri yang baik, penuh kasih pada keluarganya, ketujuh anaknya. Istri yang setia, patuh, pintar memasak dan memilik jiwa sosial yang tinggi.
"Kau anak yang paling Mama sayang diantara semua kakak-kakak mu. Mama penuh perjuangan untuk tetap mempertahan mu ketika masih bayi sebab usia Mama yang kala itu tidak lagi muda dan sangat rentan dengan kehamilan. Namun akhirnya kau lahir dengan selamat begitu juga Mama. Penyesalan terbesar Mama saat ia mendukung Mahen untuk bisa memperistri Sarah, yang artinya itu harus mengorbankan pernikahan mu. Tapi rupanya pondasi rumah tangga mu juga tidak kuat seperti yang Mama bayangkan." Papa Darwin memperlihatkan beberapa coretan tangan Mama Kemala mengenai permintaan maaf nya pada Hafis.
Hafis hanya diam menatap Papa Darwin dengan lelehan air mata yang sudah membanjiri pipinya.
"Sekarang kau harus bisa hidup mandiri, lupakan Sarah dan mulai lagi kehidupan mu dengan Syifa atau tanpa Syifa. Jangan pernah egois untuk setiap keputusan yang akan kamu ambil." Pesan Papa Darwin sambil menepuk pundak sang putra bungsu yang selalu dianggapnya masih kecil itu.
Hafis memeluk Papa Darwin masih dengan air mata yang belum mau berhenti keluar dari kedua matanya.
__ADS_1
Setelah beberapa hari kepergian Mama Kemala, Widi dan adik-adiknya Mahen sudah mendapatkan penjelasan mengenai Sarah yang bisa berada di rumah ini bersamanya. Dan mereka pun bisa mengerti.
Mahen sudah berhasil membeli satu unit rumah yang cukup luas untuk tempat tinggal mereka nantinya. Yang sebentar lagi akan segera bisa dihuni oleh dirinya, Sarah, Syifa, Sandra dan kedua adik Sarah.
Mahen dan Sarah hari akan berbicara dengan Hafis sebelum mereka akan pindah ke rumah baru mereka. Kini mereka sudah berada di ruang kerja Hafis.
"Pasti kau tahu kenapa kita harus bicara?." Mahen membuka obrolan terlebih dulu.
"Iya Bang Mahen" Jawab Hafis.
"Apa rencana kau selanjutnya?, Bagaimana dengan semua bisnis-bisnis mu?."
"Aku sudah putuskan akan meneruskan usaha yang disini aja supaya lebih dekat dengan Papa, untuk yang di luar kota mau aku jual dan uangnya nanti untuk Syifa. Dan aku juga sudah putuskan Syifa akan ikut tinggal bersama kalian, paling aku hanya minta waktu satu Minggu sekali untuk bisa mengajak Syifa pergi." Ucap Hafis dengan tenang walau ia harus melepas Syifa.
"Kau tenang saja pintu rumah kami selalu terbuka untuk mu. Untuk bisnis aku serahkan semuanya pada mu, kalau kau perlu bantuan aku siap membantu mu. Dan untuk Syifa terima kasih kau sudah mau membiarkannya untuk tinggal bersama kami." Semoga semua ini menjadi awal yang baik untuk Kehidupan semua orang.
.
.
Mahen dan Sarah kini menepati rumah baru mereka setelah berpamitan pada Papa Darwin. Papa Darwin sangat mendukung dengan keputusan Mahen, posisi rumah Mahen tidak terlalu jauh, hingga memudahkan bagi Sarah mengajak kedua putri mereka untuk mengunjungi sang Kakek kalau Mahen sedang tidak bisa mengantarkannya.
Rencananya Doni dan Ratih akan datang hari ini usai Ibu Riska selesai mengurus semua kepindahan sekolah keduanya. Ibu Riska merupakan orang yang paling berjasa dalam kehidupan Sarah dan kedua adiknya.
"Mama...Ma-ma, Papi...Pa-pi" Sandra menirukan Syifa saat memanggil Mahen dan Sarah.
"Apa Kakak Ifa?." Balas Sarah menghampiri keduanya.
"Kakak Ifa enggak mau tidur di kamar sendiri. Kakak Ifa juga mau tidur sama Mama Papi." Syifa merajuk saat tahu Sandra akan tidur bersama kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Mulai susah deh kita sayang" Bisik Mahen.