Suami ke dua

Suami ke dua
Rencana Dimas


__ADS_3

"Kalo dari sini sih, ke rumah Dinda cuma satu jam aja pak."


"Ayo main kerumah kamu Din. Aku pengen makan makanan ibu kamu." Ajak Dimas.


"Pak Dimas itu pikirannya makanan terus."


" Namanya juga laki din. Kita itu tidak bisa menahan lapar." Dimas tersenyum.


Dinda melihat handphonenya sudah mengarah ke jam dua.


"Dinda ayo ke balik." Ajak Dimas.


"Balik ke mana pak."


"Yaaa kita jalan jalan aja. Kerjaan kita kan udah selesai. Lagian om Adam nyuruh kamu buat pulang sama aku."


"Tapi pak. Dinda tidak pernah jalan jalan. Sepulang kerja langsung tidur."


"Kerjaan kamu cuma tidur aja." Ledek Dimas.


"Dari pada pak Dimas kerjaannya makan."


"Eh kita jalan jalan kemana ya. ... kerumah kamu aja Din." Dimas mengusulkan.


"Ngak ahh pak Dimas banyak mengeluh."


"Itu kan kemarin sekarang ngak deh." Dimas rupanya mengucapkan dengan tulus.


Dinda tidak enak hati menolaknya. Apalagi Dinda juga kangen dengan ibuknya.


"Asikk kalo diam aja itu artinya setuju. Lets go ......"


Dimas langsung mengemudi dengan cepat. Entah apa yang akan di rencanakan Dimas. Dimas sudah merancang jika bertemu dengan tante rosa. Dia ingin mengambil hatinya. Intinya sebelum mengambil hati anaknya. Terlebih dahulu mengambil hati orang tuanya. Cakep ....


Ditengah perjalanan Dimas berhenti.


"Kenapa berhenti pak." Tanya Dinda.

__ADS_1


"Udah diam aja disitu." Dimas turun dari mobil. Dia memilih buah buah yang kualitas super. Tentu untuk mendapatkan perhatian orang tua Dinda. Dimas harus mengeluarkan sedikit uang. " "Modal dikit Ngak apa apa." Batin Dimas.


"Lama benar pak Dimas." Dinda hanya bisa menggerutu.


Dimas kemudian balik lagi. Dia memesan dua martabak.


Setelah lama menunggu Dimas akhirnya dia datang juga.


"Ngapain aja sih pak koq lama banget."


"Ini." Dimas menunjukkan ke arah Dinda. Dua box martabak dan sepaket buah.


"Buat apaan."


"Yaa buat tante rosalah." Dimas sudah tidak sabar ingin memberikan kepada Rosa


Dinda langsung merebut martabak itu.


"Ehhh itu buat tante rosa. Kalo mau beli sendiri." Kata Dimas.


Dinda tidak memperdulikan perkataan Dimas. Dia langsung membuka dan melahap satu persatu.


Dimas juga ikut ikutan makan. Sebenarnya Dimas memang sengaja membelikan Dinda. Tapi Dimas hanya malu untuk mengatakannya.


"Bagi dong." Ucap Dimas.


"Pak Dimas udah membelikan masa' di minta lagi."


"Ternyata kamu lebih pelit dari pada aku."


Ketika Dimas ingin mengambil lagi. Dinda berusaha menghalang halangi. Hingga tangan Dimas menyentuh baju Dinda.


Dimas kemudian sadar dan menarik tangannya.


Perasaan itu kembali muncul saat berdekatan dengan Dinda.


"ihhh pak Dimas. Baju Dinda kotor nih."

__ADS_1


Dimas tidak menjawab pertanyaan Dinda. Dimas kemudian melanjutkan perjalanan.


Detik itu kemudian hening. Entah karena Dinda marah, gara gara Dimas sudah mengotori bajunya. Atau Dimas yang sudah tidak karuan.


...


....


....


Sementara Adam pergi menemui Rosa. Sudah lama mereka tidak menjalin kasih. Karena kesibukan Adam, yang menjadikan rutinitas untuk bertemu semakin jarang.


Tapi bagi mereka komunikasi jauh lebih penting daripada apapun.


"Sayang di leher kamu itu apa." Tanya Adam.


"Mana sih mas." Rosa memeriksa dengan cermin.


Rosa merapikan rambut dan menutupi noda di lehernya.


Adam hanya menganggukkan kepala.


"Ada apa dengan kamu mas."


"Ohh ternyata itu bekas ciuman suami kamu."


"Emang siapa lagi." Rosa tidak menghindar dari pertanyaan Adam.


Lantas Adam tidak memperdulikannya. Dari pada pertemuan yang singkat ini di jadikan untuk berdebat. Lebih baik di gunakan untuk menghibur diri.


"Awas nanti akan buatkan yang lebih besar dari pada itu."


"Coba aja kalo berani."


Haaaa haaa


....

__ADS_1


....


....


__ADS_2