
" Nanti Papi akan menjelaskan semuanya pada Syifa dan membawa Syifa untuk menemui Mama Sarah."
Mahen mengecup kening Syifa sebelum meninggalkan nya karena sudah tertidur dengan isak tangis nya.
" Bagaiman dengan Syifa?, udah tidur?." Mama Kemala menatap Mahen yang baru masuk ke kamar nya.
" Iya sudah tidur." Jawab Mahen duduk kembali dekat Papa Darwin.
" Mungkin Syifa sedang merindukan Sarah, makanya jadi sedih begitu." Mama Kemala ikut duduk di samping Mahen. Ikut memijat kaki Papa Darwin.
" Kamu tidur sana biar Mama yang menemani Papa." Mama Kemala melihat putra sulung nya itu sangat kelelahan.
" Iya Ma. Kalau ada apa-apa bangunkan aku." Dengan langkah gontai nya ia keluar dari kamar itu.
Menatap untuk beberapa saat pintu kamar Syifa. Dimana anak itu tidak mendapatkan apa pun dari siapa pun. Akhirnya ia harus hidup dan bertahan dengan cara menurut otak kecil nya. Menyuruh dan melakukan yang diperintahkan nya tanpa adanya kendali dari orang tua.
" Andai saja waktu bisa di putar dan kembali pada semula. Lebih baik aku tidak memiliki anak sekali pun tapi tidak menghancurkan kehidupan banyak orang." Mahen memegang dada yang begitu terasa sesak.
Dalam dinginnya angin malam, Mahen masih terjaga dengan sebuah keputusan yang tidak akan pernah baik untuk siapa pun. Tapi Mahen berharap dengan keputusan nya ini bisa mengurangi rasa bersalah pada semuanya.
Keesokan paginya...
Tempat yang pertama Mahen datangi yaitu kamar Syifa namun sayang ia tidak masuk karena ada Hafis di sana yang sudah membantu Syifa.
Mahen kembali memutar tubuh nya, berjalan menuju kamar Mama Kemala. Papa Darwin mengedipkan matanya untuk meminta Mahen mendekat pada nya.
" Di bagian mana yang sakit?. Ayo kita ke Dokter!. Papa harus mendapatkan perawatan intensif." Begitu pelan dan dengan ucapan yang dibuat sejelas mungkin supaya Papa Darwin mengerti ajakannya.
Papa Darwin menggeleng sembari meminta Mahen meletakkan tangan pada dada nya.
" Di situ yang sakit!." Ucap nya sangat lirih bahkan hampir tidak terdengar jelas kalau Mahen tidak mendengarnya dengan baik.
" Iya kita harus ke Dokter ya!." Ajak Mahen lagi sambil menganggukkan kepala.
__ADS_1
Kembali Papa Darwin menggeleng, " Papa ingin segera menyusul dan bertemu dengan Sarah untuk meminta maaf."
Beriringan dengan air mata yang keluar dari kedua mata Papa Darwin. Begitu dengan penuh kesakitan dan penyesalan. Hati Mahen pun begitu sakit melihat Papa Darwin seperti itu.
" Papa sudah gagal mendidik, membawa Mama pada jalan yang baik. Sehingga Papa sekarang harus menanggung semuanya. Tapi ternyata Papa tidak kuat lagi Mahen menahan rasa sakit ini. Papa ingin segera menyusul Sarah. Kesalahan Papa sudah begitu besar pada Sarah, pada mu dan keluarga Sarah." Ucapnya lagi dengan lirih dan terbata, karena begitu emosional Papa Darwin mengatakannya.
" Bukan Papa yang harus menerima kesakitan ini karena Mama. Tapi Mama sendiri yang harus mempertanggung jawab kan perbuatan Mama sendiri." Balas Mahen sungguh tidak sanggup melihat semua nya harus hancur karena dirinya. Ya Mahen merasa semua ini dimulai dari diri nya.
" Enggak Mahen. Papa yang salah." Setelah mengucapkan itu Papa Darwin tidak ada pergerakan lagi. Hingga membuat Mahen panik dan mengguncang pelan tubuh Papa Darwin namun tetap sama. Mahen berlari keluar mencari bantuan Hafis dan beberapa orang pria yang bekerja di rumah untuk membantunya mengangkat Papa Darwin untuk dibawa ke rumah sakit pagi itu.
Mama Kemala yang habis dari taman belakang menyirami beberapa bunga kesayangannya begitu panik mendengar teriakan Mahen dan segera menemui Mahen.
" Papa kenapa Mahen?." Isak tangis Mama Kemala pecah. Takut Papa Darwin akan meninggalkan dirinya selamanya.
" Papa enggak sadar diri Ma, kita harus bawa ke rumah sakit. Mama di rumah aja sama Syifa. Nanti kalau ada apa-apa aku telepon Mama." Mahen menuju ke mobil dimana Papa Darwin sudah ada di dalam bersama Hafis.
" Ayo Bang Mahen cepetan." Teriak Hafis.
" Iya Hafis " Balas Mahen sambil masuk, mulai menyalakan mobil dan melajukan nya dengan kecepatan tinggi. Karena tidak ingin sesuatu terjadi pada Papa Darwin.
Mahen menghubungi Erik untuk datang menemui Sarah karena sepertinya hari ini ia belum bisa membawa Sandra. Ia ingin mastikan dulu keselamatan Papa Darwin. Setelah itu baru memikirkan ulang untuk membawa Sandra tinggal di kantor.
Sudah hampir tiga jam lamanya Mahen dan Hafis yang menemani Papa Darwin. Dokter mengatakan semuanya tidak ada masalah hanya saja asupan nutrisinya kurang jadi tetap harus mendapatkan perawatan. Dan satu lagi Dokter hanya menduga kalau Papa Darwin sedang berada di dalam tekanan yang cukup tinggi sehingga stress berat yang dapat mempengaruhi pola makan nya.
" Kau sudah kabari Mama dan yang lain?." Tanya Mahen pada Hafis yang hendak keluar. Dan Mahen pun melihat Papa Darwin yang mulai membuka matanya dan meminta minum.
Mahen pun segera mengambil air minum dan membantu meminumkannya pada Papa Darwin.
" Tidak akan lama Papa di rawat disini. Jadi gunakan waktu Papa disini sebaik mungkin untuk beristirahat dan banyak makan supaya bisa cepat pulang." Ucap Mahen mulai menyuapi Papa Darwin yang meminta makan juga karena sudah satu Minggu lebih ia tidak makan dan hanya sesekali memakan roti. Itu merupakan bentuk protes pada dirinya sendiri yang tidak bisa menjadikan Mama Kemala ke arah yang lebih baik.
Papa Darwin mengangguk dan tidak ingin membantah putra pertamanya itu. Dengan patuh ia menghabiskan makanan yang suapi oleh Mahen.
" Minta sama Mama untuk tetep di rumah bersama Syifa. Biar Widi dan Hafis saja yang menjaga Papa. Kamu bekerja aja." Papa Darwin ingin menenangkan pikirannya yang selalu saja bergejolak dengan perdebatannya sendiri mengenai Mama Kemala.
__ADS_1
Mungkin ada baiknya juga Papa Darwin dibawa ke rumah sakit untuk menyegarkan pikiran yang selama ini terasa kusut dan tidak bisa berpikir dengan jernih dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Biarlah ia disini tanpa kehadiran Mama Kemala dan yang lainnya.
" Iya nanti aku akan kasih pengertian sama Mama. Tapi Papa harus sehat ya." Tegas Mahen.
Hafis kembali ke dalam ruangan dengan bawa banyak tentengan ditangannya. " Papa mau makan apa?. Aku ada banyak makanan yang sehat-sehat. Ini ada buah juga dan susu."
" Papa mau pir aja Hafis. Tolong kupas." Papa Darwin melihat nya saat Hafis mengeluarkannya dari kantong plastik.
" Iya Pa " Jawab Hafis.
Hafis keluar bersamaan dengan Mahen yang sudah pamit pada Papa Darwin untuk ke kantor.
" Kalau ada apa-apa kau bisa menelpon aku."
" Iya Bang "
Mahen segera pergi dan menuju kantor nya dimana pekerjaan sudah menunggu nya.
Satu hari yang seharusnya ia gunakan untuk bersama Sandra terlewati begitu saja. Ada saja jalan untuk mereka selalu tidak bersama.
Sampai di Lobby, Mahen segera menaiki Lift yang akan membawa ke lantai dimana ruangannya berada.
" Bang Mahen " Panggil Rendy dari samping lift sambil menyodorkan beberapa berkas untuk diperiksa Mahen.
" Itu kalau bisa nanti sore sudah harus selesai, biar bisa saya follow up ke pihak klien."
" Iya Rendy, terima kasih."
Mahen kembali melanjutkan langkah nya, sampai di depan pintu ia langsung saja membuka pintu seperti biasa. Dan alangkah terkejut dengan penuh haru, tidak percaya, bahagia dan senyum lebar dari bibir nya kala mendapati si cantik Sandra sudah berada di sana, bersama Sarah.
" Pa-pi "
" Pa-pi "
__ADS_1
" Papi senang banget kalian bisa ada di sini." Luapan bahagia Mahen yang langsung saja menggendong dan menghujani kecupan bertubi-tubi kening, pucuk kepala dan pipi Sandra. Dan tidak ada apa pun yang dipikirkan Mahen saat ia dengan berani mencium pipi Sarah di depan Sandra sembari memeluk mereka erat dalam dekapan Mahen yang begitu hangat. Sampai-sampai Sarah menitikkan air mata kebahagiaan yang coba disembunyikannya.
Itu lah yang diinginkan Sarah selama ini, pelukan hangat, kecupan dari Mahen yang sudah sangat lama dirindukannya.