Suami ke dua

Suami ke dua
Hantu Berjalan


__ADS_3

Pagi


Ini hampir subuh, Dimas terbangun karena dia merasa ada yang berjalan di sekitarnya.


Dimas mengawasi ruangan rumah semua tampak sepi.


Dimas tidak sadar jika dia telah ketiduran di sofa.


"Ini rumah siapa?" Karena Dimas kelelahan ahkirnya dia menginap di rumah Dinda.


Ada langkah kaki menuju Dimas. Semua lampu di matikan. Kecuali lampu teras yang masih menyala. Sorot cahaya itu menyelip ke dalam ruangan tamu tempat Dimas duduk saat ini.


"Siapa dia. Apakah dia hantu. Di jaman modern seperti ini masa' ada hantu." Pikiran Dimas bergulat.


"Terus siapa dia yang mendekatiku."


Sosok itu masih nyata terus menghampiri Dimas. Dia merinding karena selama ini belum pernah melihat hantu.


Dimas merinding , dia masih duduk di sofa. Tapi sosok itu berjalan jalan terus memutari ruang tamu. Hingga akhirnya menabrak sofa yang di duduki Dimas.


Sosok itu kemudian tidur di pangkuan Dimas.


"Ya Tuhan...." Dimas melihat wajah sosok itu.


"Haaa Dinda."


Dinda sedang tidak sadar sekarang. Sementara Dimas membangun Dinda. Dia sudah berusaha keras, tapi kenyataannya Dinda masih tertidur.


"Dinda benar benar sudah gila. Dia bisa bisanya tidur sambil berjalan." Celoteh Dimas tidak membuahkan hasil.


"Dinda bangun." Berulang kali Dimas menepuk nepuk pipi Dinda.


"Ini kebo atau apa ya... susah banget bangunin nya."

__ADS_1


Dimas akhirnya nyerah juga. Membangunkan Dinda hanya membuang energi saja.


Ini kesempatan langka bisa berduaan dengan Dinda.


"Dasar aku ini. hihi ." Dimas tertawa dalam hati.


Dinda ternyata cantik juga kalo diam seperti ini. Dimas mencoba mencium pipi Dinda. Memang naluri lelaki tidak pernah salah. Tapi niat buruk itu di urungkannya


"Upps. Dinda jorok banget bau apa ini."


Dinda mengusap air liurnya yang menetes. Lantas dia melanjutkan tidurnya kemudian memeluk Dimas.


"Koq ada yaa orang ngelindur seperti Dinda." Dimas masih tidak habis pikir.


"Ya Tuhan tolong hambamu ini. Naluri laki lakiku tidak bisa aku kendalikan."


Dimas Pria normal yang sampai saat ini masih jomblo. Bagaikan rumput yang kering terus terkena air hujan. "langsung hijau" duit kali hijau.


Pria berumur dua puluh delapan tahun itu langsung berdiri. Dan bangun dari sofa.


Dinda lantas jatuh ke lantai dan kepala ke bentur ujung meja.


Suaranya cukup jelas sekali hingga seisi rumah kebangun.


Dimas hanya tidak ingin berlama lama tubuhnya menempel ke tubuh Dinda.


Rosa dan Gilang berlarian menuju ke ruang tamu.


Mereka hanya bisa melongo melihat anaknya terjatuh.


Gilang menyalakan lampu hingga semua terlihat terang.


"Apa yang terjadi." Ucap Ayahnya Dinda.

__ADS_1


"Anu omm Dinda." Jawab Dimas.


"Mungkin Dinda ngelindur yah. Biasanya memang suka tidur sambil jalan. Terus kalo di peluk tidur lagi.." Jelas ibunya Dinda.


"Ooo ternyata." Batin Dimas.


Dinda membuka matanya dan mengedip ngedipkan. Dia bangun seakan tidak terjadi apa apa.


Kemudian Dinda kembali ke kamarnya dan melanjutkan tidur.


"Koq ada ya... Orang seperti itu." Batin Dimas.


Dimas hanya bisa menggeleng gelengkan kepala. Seandainya ada orang yang tahu,


Dimas sudah menyimpan ketakutannya dari tadi. Beruntung tidak ada yang curiga.


"Ayo yah kita tidur lagi." Ajak ibunya Dinda.


"Buatkan kopi buk." Pinta Gilang.


"Ayah ini..."


Ayam sudah banyak yang berkokok, mau tidur pun sudah nanggung bentar lagi sudah mau subuh.


Rosa menyalakan kompor dan membuatkan kopi untuk suaminya.


"Ini yah kopinya." Mas Gilang Menyeruput kopi untuk menyegarkan tubuhnya.


.....


.....


....

__ADS_1


.....


__ADS_2