
Pagi
Terdengar suara tangisan Devan.
"Mas bangun."
"Aku masih ngantuk." Jawab mas Adam.
"Mas... Devan nangis terus nih." Ayu menidurkan Devan dekat mas Adam.
Devan menepuk nepuk pipi mas Adam.
"Pa pa papa.... papa."
Mas Adam kemudian bangun. Membuka sedikit matanya.
"Halo sayang. Kamu sudah bangun. Anak papa ganteng banget."
"Mas kamu lupa ini hari apa."
"Hari minggu." Ucap mas Adam.
Mas Adam masih berguling guling di kasur bersama Devan. Terlihat perutnya yang mulai membuncit, tapi tidak mengurangi ketampanannya.
"Kamu lupa ya.... hari ini acara tasyakuran Devan."
"Oh iya."
Bagaimana bisa lupa mas Adam dengan hari ini. Mas Adam telah mengadakan tasyakuran untuk mengadopsi Devan. Tanpa harus berkonsultasi dulu dengan kekasihnya. "Rosa"
Padahal jelas kekasihnya tidak setuju dengan keputusan ini. Ibu mana yang rela jika anaknya di adopsi oleh orang lain. Meski Mas Adam adalah ayahnya biologisnya.
Mas Adam Kali ini sungguh kejam.!!!
"Mas..... kamu jaga Devan dulu. Aku mau mempersiapkan nasi tumpeng dulu."
__ADS_1
Ayu mengundang teman teman dekatnya. Serta saudara saudara nya juga turut hadir.
Beberapa hidangan di sajikan tidak lupa pula makanan kecil di atas meja.
Semua undangan telah hadir. Tapi mas Adam masih di dalam kamar bersama anaknya.
Beberapa pesan di kirim mas Adam.
"Sayang hari ini aku mengadakan tasyakuran untuk Devan."
Setelah itu mas Adam keluar dari kamar dan meninggalkan handphone nya.
Mas Adam lebih konsentrasi dengan acara hari ini.
Lantunan ayat suci Alquran telah selesai di bacakan. Kemudian sedikit tausiyah dari pak ustadz.
Acara demi acara terlewati tanpa gangguan.
.......
.......
.......
Aku ingin kejelasan dari mas Adam.
Mas Adam tidak membalas pesan yang aku kirim.
Mas Adam mengirimkan fotonya dengan Devan. Sungguh mas Adam kali ini cukup tampan.
Ya Tuhan .... aku malah memandangi foto mas Adam. Padahal di sampingnya tertera jelas foto anakku.
Mungkin Devan kalo sudah besar akan setampan papanya.
Foto foto yang di kirim mas Adam membuat aku lupa. Padahal aku ingin sekali memarahinya. Disaat seperti ini aku masih sibuk memuji mas Adam. Padahal Jelas mas Adam ingin memisahkan aku dengan anakku.
__ADS_1
Aku mengirimkan pesan lagi ke mas Adam.
"Kembalikan anakku."
Entah sudah berapa kali aku mengirimkan pesan.
"Halo." Akhirnya mas Adam menjawab.
"Mas dimana anakku."
"Disini banyak orang. Nanti aja ya..." Mas Adam dengan suara pelan.
"Kenapa sih kamu selalu menghindar."
Mas Adam hanya diam, memang dia tidak suka menggunakan suara keras. Tapi kali dia membuatku kesal. Karena mas Adam selalu menghindar dari pada harus menjawab pertanyaan pertanyaanku.
"Aku harus apa???. membiarkanmu dengan anakku. Dan nanti kalo mamanya Ayu menyakitinya gimana. Kamu bisa tanggung jawab. Aku tidak akan membiarkan anakku di sakiti siapapun. Jika Devan bersama ku dia akan aman Karena aku sendiri yang menjaganya."
"Tapi mas "
"Kita kan masih bisa ketemu." Jelas mas Adam.
Kini giliran aku yang mulai terdiam. Bukan ini yang aku mau. Aku hanya tidak bisa menjawab pertanyaan suamiku. Apa yang harus aku katakan.
"Tapi istrimu."
"Gampang. Kita masih bisa ketemu koq."
Lelaki itu dengan mudahnya menggampangkan urusan. Padahal Jantungku ini sudah mau copot
"Mungkin saja mas Adam hanya ingin memanfaatkan anakku agar bisa sering sering ketemu denganku." Batinku.
Karena saat ini aku sering menolak jika mas Adam mengajakku untuk bertemu. Bukannya aku tidak mencintainya lagi. Tapi aku lebih menghormati perasaan suamiku.
.....
__ADS_1
.....