Suami ke dua

Suami ke dua
Bab 96


__ADS_3

Pertemuan yang sebaiknya tidak terjadi ini sama-sama meninggalkan luka baik bagi Sarah atau pun Mahen. Terlebih bagi Sandra nantinya. Tapi Sarah sendiri tidak memiliki pilihan yang lebih baik selain memang harus berpisah dan Mahen sendiri pun seperti tidak memiliki keinginan untuk mempertahankan apa yang masih menjadi milik nya saat ini.


" Sekarang Papi harus pulang dulu, untuk menyiapkan semua keperluan Sandra selama bersama Papi. Besok pagi Papi akan datang kesini lagi untuk menjemput Sandra." Pamit Mahen pada gadis cilik yang sangat disayangi nya dengan segenap jiwa raga nya. Yang bisa dipastikan kalau Sandra belum mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Mahen.


" Pa-pi...Pa-pi...Pa-pi..." Sandra menjadi rewel saat Mahen berpamitan seperti ini. Seakan Sandra enggan untuk berpisah dari Mahen. Meski baru beberapa jam saja menemaninya makan, mandi dan bermain. Tapi sudah sangat membekas dan Sandra sangat menyukai sosok Mahen.


" Abang bawa saja semua keperluan Sandra dari sini. Biar Sandra bisa langsung ikut dangan Abang." Sarah tidak tega melihat Sandra yang untuk pertama kali nya menangisi seseorang yang tiada bukan adalah Ayah kandung nya sendiri.


" Tidak Sarah, ada yang harus Abang selesaikan dulu. Jadi tetap besok Abang akan membawa Sandra nya." Tolak Mahen. Sebab pulang dari sini ia akan mengunjungi Mama Kemala yang meminta nya datang ke rumah Pradivya. Jadi tidak mungkin ia membawa Sandra ke rumah yang sudah membuat mereka harus menderita seperti sekarang ini.


" Terserah Bang Mahen saja." Sarah mencoba membujuk Sandra yang merubah tangisannya menjadi raungan yang cukup kencang hingga Pak Arifin, Umi Fitri dan Erik mendatangi rumah belakang guna melihat apa yang terjadi dengan Sandra.


" Sandra sayang kenapa menangis?. Kita main bersama lagi yuk!. Pak Arifin punya banyak mainan di dalam rumah, Sandra bisa memainkan sepuasnya." Pak Arifin mencoba untuk mengambil hati Sandra tepat dihadapan Ayah kandung nya.


Pak Arifin meraih tangan Sandra yang masih memegang erat tangan Mahen dan perlahan tangan mungil itu kini berpindah pada tangan Pak Arifin dengan mudah. Anak kecil memang sangat peka pada orang yang memang benar-benar tulus menyayangi mereka.


" Pa-pi " Panggil Sandra yang berada dalam gendongan Pak Arifin melambaikan tangan pada Mahen yang perlahan berjalan menjauh dari mereka semua setelah berpamitan dan tentunya mengucapkan rasa terima kasih nya pada Pak Arifin dan Umi Fitri.


Mahen masuk ke dalam mobil setelah menghapus air matanya. Melajukan kendaraan dengan kecepatan penuh supaya lebih cepat untuk sampai di rumah Mama Kemala.

__ADS_1


Sampai di rumah Pradivya, Mahen disuguhi pemandangan yang begitu mengiris hati nya. Kala mendengar Hafis sedang menceritakan sosok wanita yang menjadi Ibu kandung Syifa. Syifa begitu senang mendengar hal baik dan positif tentang Mama nya. Namun tidak jarang juga Syifa sudah mengeluhkan banyak hal dari sang Mama.


Mulai banyak pertanyaan kritis yang Syifa layangkan pada Hafis. Kenapa Mama Sarah tidak tinggal bersama mereka walau tidak di rumah ini?. Kenapa Mama Sarah pergi?, berapa lama Mama Sarah pergi nya?. Kenapa sebelum pergi tidak berpamitan padanya?, Kenapa Mama Sarah tidak pernah meneleponnya?, dan banyak lagi pertanyaan yang tidak bisa dijawab secara gamblang oleh Hafis. Biarkan waktu yang akan menjelaskan semua tentang kondisi rumah tangga Hafis, Sarah dan Mahen.


" Papi " Syifa berlari kala melihat Mahen yang sudah berdiri tidak jauh dari mereka. Yang Hafis yakini pasti Mahen sudah mendengar semuanya.


Hafis berdiri dan ikut menghampiri Mahen.


" Bang Mahen udah di tunggu Mama?. Tolong bantu aku menjelaskan pada Syifa tentang apa saja yang tidak bisa aku jelaskan." Bisik Hafis begitu pelan, karena takut Syifa akan mendengarnya.


Mahen hanya menatap kepergian Hafis yang menuju lantai dua dimana kini ada ruang tempat Hafis bekerja jika sedang di rumah.


Keduanya masuk setelah mengetuk pintu dan terlihat Mama Kemala yang membukanya.


" Papa sakit apa Ma?." Mahen menyalami tangan Mama Kemala dan duduk di samping Papa Darwin yang terbaring di tempat tidur.


" Serangan jantung biasa, tapi ini udah empat hati udah minum obat belum ada perubahan." Keluh Mama Kemala. Rencananya besok Mama Kemala akan memanggil Dokter lagi ke rumah.


" Kenapa enggak Mama bawa ke rumah sakit?." Mahen memijit kaki Papa Darwin yang terasa dingin. Dan Mahen meminta koas kaki pada Mama Kemala untuk memakaikannya pada kedua kaki Papa Darwin setalah dibaluri minyak kayu putih.

__ADS_1


" Kalau di rawat di rumah sakit, bila sewaktu-waktu ada masalah dengan Papa jadi Dokter gampang untuk memeriksanya. Kasihan Ma sudah empat hari." Mahen memijak bagian tangan yang sama persis terasa dingin dan Mahen balur dengan minyak kayu putih lagi.


" Tapi...tapi..."


" Tapi kenapa lagi Ma?. Anak Mama banyak jadi tidak perlu khawatir pasti aku dan yang lainnya bisa untuk bergantian menjaga Papa di rumah sakit."


" Bukan itu Mahen, Papa minta sama Mama dan Hafis dan yang lainnya untuk tidak membawa Papa kemana-mana. Papa minta tetap berada di kamar ini saja. Kalau mau Dokter yang datang kesini untuk memeriksa Papa." Jelas Mama Kemala mengelap air mata yang keluar dari kedua mata Papa Darwin.


" Nenek, apa Kakek akan pergi juga seperti Mama Sarah?." Tanya Syifa dengan begitu polosnya sampai berurai air mata dan Mahen segera berlari mensejajarkan tubuh nya dengan Syifa yang kini menangis terisak.


" Kakek Ifa pasti baik-baik aja. Makanya Ifa dan kita semua harus sering mendoakan Kakek supaya cepat sembuh dan bisa bermain lagi dengan Ifa." Mahen menghapus air mata yang tidak ada hentinya menetes.


Mahen membawa Syifa dalam pelukannya, memberinya ketenangan. Namun karena tangisan Syifa tidak kunjung reda malah terdengar semakin terisak, Mahen menggendong Syifa mengajaknya keluar dari kamar menuju kamar nya sendiri.


Untuk beberapa waktu Mahen masih memeluk Syifa dengan erat, belum bicara sepatah kata pun lagi. Memberikan Syifa waktu untuk mengeluarkan perasaannya saat ini. Hingga Syifa menghapus air mata nya sendiri dan menatap Mahen.


" Ifa sangat rindu sama Mama Sarah!. Ifa mau seperti anak-anak lain yang sering main di taman komplek. Mereka main sama Mama nya, di jagain Mama nya saat main ayunan dan perosotan, makan dan minum disuapi Mama nya. Tapi Ifa enggak Papi, semuanya Bibi Tuti yang bersama Ifa." Sakit yang sudah lama terpendam dan tertanam dalam hati Syifa kini mulai dikeluarkannya satu persatu.


Anak yang seharusnya mendapatkan kasih sayang utuh dari yang namanya keduanya orang tuanya, namun tidak pernah didapatnya sama sekali kini sedang menangisi kemalangan hidup karena ulah dirinya.

__ADS_1


" Ifa mau Mama Sarah, Ifa mau seperti anak yang lainnya. Kalau enggak Ifa mau punya Mama lain yang sayang dan ada sama Ifa." Anak kecil yang terlihat selalu ceria, kini mengeluarkan semua duri yang tertancap dalam hati nya dengan kembali memeluk Mahen.


__ADS_2