
Hidangan yang diminta pun sudah tertata rapi di atas meja makan. Memanjakan mata dengan bentuk makanan dan memanjakan hidung dengan aroma yang tercium. Sangat sempurna dan menggugah selera, Pak Arifin ingin menjamu tamu nya dengan sempurna.
Mengetahui hal itu, Sarah berinisiatif untuk mengajak Sandra pulang dan menidurkannya. Tapi apa yang terjadi, Pak Arifin sendiri yang meminta Sandra untuk menemaninya menyambut tamu.
Mendengar hal itu Sarah hanya menghela nafas sementara Umi Fitri tersenyum lepas. Meski jauh di dalam hati nya ia merestui jika Ifin bersikeras ingin memperistri Sarah. Tapi untuk saat ini biar kan saja dulu dirinya dan sang putra memilih dari sekian banyak gadis yang akan dijadikannya menantu.
" Biarkan saja Sarah nanti ada Umi yang mengawasi Sandra. Kamu bisa fokus menyelesaikan pekerjaan mu." Umi Fitri memantau para pelayan untuk menyiapkan semuanya.
" Iya Umi, saya titip Sandra." Sarah meletakkan kembali perlengkapan Sandra di tempat nya.
Pak Arifin menatap Sarah yang dilihatnya semakin cantik setiap harinya. Semakin sulit bagi dirinya untuk menjauh, mencari dan menerima wanita lain.
" Kalau jodoh tidak ada kemana?." Goda Umi Fitri kala melihat sang putra tersenyum simpul memandangi Sarah walau dari belakang.
" Umi " Balas Ifin malu-malu dan langsung mengalihkan pandangannya pada Sandra.
Waktu tidak terasa terus berjalan dengan cepat sampai tamu yang sedang di tunggu dari tadi pun kini sudah datang. Meja makan tempat yang pertama di kunjungi oleh sang tamu.
" Ayo Pak Mahendra langsung saja masuk ke sebelah sini. Kita makan siang bersama sebelum melanjutkan pekerjaan yang tidak ada habisnya." Pak Arifin begitu ramah dalam menyambut tamu nya. Bukan pada Mahen saja ia berbuat seperti ini, melainkan pada semua tamu yang berkunjung ke rumah nya baik yang datang sengaja atau pun atas undangannya seperti Mahen saat ini.
" Terima kasih Pak Arifin atas jamuan yang sangat istimewa ini." Kini Mahen sudah berhadapan dengan berbagai menu makanan yang sudah dipersiapkan para pelayan.
" Sama-sama Pak Mahendra. Ayo jangan sungkan untuk di makan hidangan nya." Pak Arifin sudah mempersilakan tamu untuk mengambil makanannya.
Si kecil Sandra yang sedari tadi tidak bisa diam sampai salah satu pelayan membawanya berkeliling. Namun rupanya Sandra belum merasa lelah sampai masuk ke dalam rumah pun sambil berlari.
" Sandra jangan berlari!." Volume suara Umi Fitri yang cukup tinggi mengalihkan pandangan Pak Arifin dan Mahen kini menatap pada gadis kecil yang berdiri dekat mereka.
Umi Fitri memacu cepat roda nya mendekati Sandra yang menatap tamu putra nya dengan wajah yang sangat menggemaskan.
Deg
" Kenapa bisa kebetulan seperti ini?." Dengan cepat Umi Fitri menggeleng lemah seraya tersenyum menatap tamu yang baru dilihatnya siang ini.
__ADS_1
" Sandra sayang " Pak Arifin mengambil Sandra yang berdiri dan memangku nya. Umi Fitri duduk di sebelah sang putra.
" Yang kecil, cantik, imut, lucu dan menggemaskan ini namanya Sandra, Pak Mahendra."
" Halo Sandra "
Sandra hanya tersenyum tersipu disapa Mahen seperti itu. Begitu dengan Mahen tidak bisa memalingkan pandangannya beberapa detik dari senyum Sandra yang mengingatkannya pada Sarah. Sebelum suara Pak Arifin terdengar dengan memperkenalkan sang Mama.
" Umi, perkenalkan ini Pak Mahendra. Pak Mahendra ini Umi kesayangan saya." Mahen bangkit dan mengitari meja makan guna menghampiri wanita paruh baya yang duduk di kursi roda. Lalu memperkenalkan diri sebelum mencium tangan Umi Fitri dengan takzim.
" Mahendra Wicaksana Pradivya "
Umi Fitri menggunakan kesempatan baik ini untuk menatap pria di depan nya lebih dekat, dengan intens dan membingkai wajah pria itu serta menyimpan nya dalam relung hati.
" Sembilan puluh sembilan persen, aku menyakini nya."
" Panggil saja Umi Fitri." Mahen mengangguk mengiyakan dan kembali duduk di kursinya.
" Mari Pak Mahendra kita mulai makan siang nya!."
" Titip Sandra Umi, aku bersama Pak Mahendra ke ruang kerja."
" Iya Ifin kerja lah dengan tenang. Paling Sarah sebentar lagi selesai."
" Sarah " Batin Mahen dengan mengedarkan pandangannya pada beberapa bingkai foto yang terpasang di dinding guna mencari sosok Sarah yang dimaksud. Tapi tidak menemukan sosok wanita di dalam bingkai foto itu yang sama dengan istri nya.
" Mari Pak Mahendra!." Kini keduanya berjalan beriringan menuju menuju ruang kerja Pak Arifin. meninggalkan Umi Fitri dan Sandra.
Tidak berselang lama dari Mahen dan Pak Arifin yang sudah masuk ke dalam ruang kerja nya. Sarah muncul dari lantai dua dimana ia diminta untuk membenahi pakaian Umi Fitri yang sudah tidak terpakai untuk disimpan atau bagikan pada yang memerlukannya.
" Bagaimana Sarah sudah selesai?." Umi Fitri memegangi tangan Sandra yang meronta minta di gendong oleh Sarah.
" Nanti dulu sayang biar Mama makan dulu." Sekalian Umi dan Sarah makan di meja makan dimana tadi tempat Mahen.
__ADS_1
" Semuanya sudah beres Umi, sudah saya packing dengan rapi kalau mau dibawa untuk dibagikan." Ucap Sarah mengambil alih Sandra yang sudah mulai rewel karena mengantuk juga.
" Iya rencananya semua pakaian itu mau di bawa ke kampung nya Mbok Minah di sana katanya banyak Ibu-Ibu pengajian jadi akan lebih bermanfaat." Umi Fitri menelisik wajah Sandra dan Sarah dengan seksama secara bergantian pula dan membandingkannya dengan tamu nya Ifin yang bernama Mahendra itu.
" Sarah, apa boleh Umi bertanya sesuatu yang sifat nya pribadi?. Kalau kamu nyaman boleh di jawab kalau kamu enggak nyaman abaikan aja." Tanya Umi Fitri hati-hati, melihat si kecil Sandra mulai terlelap tidur.
" Iya Umi, silakan." Balas Sarah menyetujui.
" Apa pernah Sandra bertemu dengan Papa nya atau sebaliknya?." Umi Fitri melihat raut wajah Sarah yang langsung berubah kurang nyaman.
" Tidak perlu dijawab Sarah kalau kamu kurang nyaman." Lanjut Umi Fitri yang entah kenapa ia merasa ada beban berat yang disimpan Sarah sendirian.
Sarah menggeleng lemah sambil membenarkan posisi Sandra yang tidur di atas pangkuannya. " Mereka belum pernah bertemu sama sekali Umi."
" Terima kasih Sarah sudah mau menjawabnya." Balas Umi.
Sarah hendak berpamitan pada Umi sebab Sandra sepertinya tidak nyaman tidur dengan posisi saat ini. Tapi sebelum itu terjadi, Sarah kembali duduk karena kaki Sarah kesemutan, berbarengan dengan itu Mahen dan Pak Arifin baru saja keluar dari ruang kerja setelah hampir satu jam berbicara masalah pekerjaan.
" Sekalian saya akan pamit pada Umi, Pak Arifin." Mahen mengikuti nya sampai di meja makan. Pak Arifin mengangguk mempersilakan.
" Umi saya pamit dulu, terima kasih atas jamuan dan sambutan hangat nya."
Deg
" Suara itu?." Sarah tidak berani untuk menoleh ke samping kanan nya dimana terlihat oleh ekor matanya sosok pria tegap berdiri menyalami Umi Fitri. Sampai suara Pak Arifin mau tidak mau membuatnya menoleh ke arah sosok pria tersebut.
" Sandra tidur, Sarah?."
Deg
Jantung Mahen seolah berhenti berdetak, nafas nya pun ikut terhenti, waktu seolah berhenti untuk beberapa detik mendapati kenyataan yang sungguh membahagiakan sekaligus sakit melihat ada pria baik yang begitu perhatian pada Sarah dan buah hati nya saat ini.
" Sini biar aku bantu menidurkan Sandra." Pak Arifin dengan cekatan mengambil Sandra dari pangkuan Sarah dengan sangat hati-hati supaya tidak mengganggu si kecil Sandra.
__ADS_1
" Sarah...Sandra..." Teriak Mahen dalam hati sembari menatapnya dalam semua rasa yang bercampur menjadi satu.