Suami ke dua

Suami ke dua
Nasi pecel di depan gang


__ADS_3

Usia kandunganku sudah lima bulan tapi masih saja muntah muntah.


Kata orang kalo anak pertama emang gitu. Tapi ini anak ke dua juga sama.


Tubuhku terasa lemas dan wajahku terlihat pucat, karena sudah tidak ada yang di keluarkan lagi.


Pengen makan biar tubuh ini kuat.


Terlintas dalam pikiranku untuk makan nasi pecel yang di bungkus daun pisang.


Aku ingin mas Adam menuruti keinginanku tapi dia jauh disana.


"Ayah aku pengen makan nasi pecel. Pintaku dengan sedikit lemas.


"Dimana ada jam segini. Jelas suamiku.


"Ada tapi depan gang.


Kebetulan di depan gang ada sekitar lima ratus meter dari sini


"Tapi di bungkus daun pisang.


" Kalo nggak ada gimana.


"Yaa bawa daun pisang sendiri.


Aaahhh suamiku menghela napas panjang.


Mungkin suamiku heran dengan kelakuan ku.


"Permintaan mu itu aneh aneh saja.


"Aku saja tidak merasa kalo aneh.

__ADS_1


Suamiku bergegas berangkat aku tau dia sedikit kesal tapi tetap saja berangkat.


Sementara mas Adam tidak pernah menujukkan kekesalannya dan tidak bisa berbuat apa apa.


Suamiku.... ku buat sibuk membersihkan bajuku setelah mual mual.


Kalo keadaan seperti ini aku benar benar tidak berdaya. Seandainya di buang ke lautpun aku hanya bisa pasrah.


Memang wanita seperti itu jika hamil atau hanya aku saja yang melempem kaya kerupuk yang di kasih air."lembek"


Lima belas menit kemudian mas Gilang datang membawa dua bungkus nasi.


Satu untuk mas Gilang yang satu lagi untukku aku dan Dinda. Kebetulan makanku cuma sedikit.


Aku membuka bungkus nasi yang di bungkus daun pisang. Aroma nasi panas dari daun pisang sangat menggugah selera ku. Rasanya seperti tidak pernah makan nasi saja aku ini. Cara makan ku yang kalap. Hingga suamiku hanya bisa geleng geleng.


"Kamu itu buk pelan pelan kalo makan.


"Tapi aku nggak pernah makan nasi pecel seenak ini yah. Dan aku masih mengunyah.


"Ibu mu itu saja yang heboh sendiri.


"Ayah.


"Iya yah. Dinda juga ikut ikutan.


Semua pada mengeroyokku aku tak peduli dan aku menghabiskan semuanya.


..............


Sudah tiga hari aku tidak menghubungi mas Adam. Mas Adam tidak memberi ku kesempatan untuk menanyakan kabar atau hanya berkata halo. Sepertinya dia sibuk dengan proyek proyek baru.


Yaa kesibukannya semakin hari semakin padat. Terkadang dia menelpon ketika aku sudah terlelap.

__ADS_1


Dan pagi hari berlalu begitu saja.


"Yaa sudah lah. Batinku.


Memang aku istrinya yang harus di urusin. Aku hanya wanitanya bukan istrinya.


Aku hanya nggak tahan jika di cuekin itu saja. Tapi lebih nggak tahan lagi jika mas Gilang yang cuekin aku bisa bisa perang dunia ke tiga mampir kerumahku.


Terrrrt terrrt


Suara handphone ku berbunyi.


"😗😗😗😙. Mas Adam memulai.


"☺☺☺☺☺☺.Aku hanya diam saja.


"😍😍😍😍😍😍. Mas Adam mengoda.


Aku masih saja diam. Setelah berhari hari tidak ada kabar tapi seakan tidak ada apa apa.


Mas Adam pun ikut diam. Kekesalan ku jadi bertambah.


Pengen saja aku maki maki sepuasnya tapi aku sadar tidak punya hak atas dia.


Jika mas Gilang yang tidak ada kabar sudah langsung ku tanya.


Dari mana..... kemana....


"Hmmm gimana kabar. Tanyaku


"Baik. Jawab pendek mas Adam.


Aku ini seperti orang yang baru kenal saja.

__ADS_1


"Aku jadi lega mendengarnya.


__ADS_2