Suami ke dua

Suami ke dua
Bab 76


__ADS_3

Cuaca sore ini mendung, awan hitam menaungi rumah sakit tempat Sarah di rawat. Suara hujan rintik-rintik mulai terdengar dari dalam ruang kamar inap Sarah.


Setelah sudah dengan susah payah di bujuk oleh Sarah akhirnya Mahen bersedia untuk berangkat ke Manado besok malam untuk menyelesaikan masalah pekerjaan yang ada di sana. Usai Sarah di kasih tahu dan di beri penjelasan panjang lebar oleh Mama Kemala lewat sambungan telepon.


Dengan satu syarat yang diajukan oleh Mahen supaya memboyong Ibu dan Bapak dari kampung untuk sementara waktu menemani Sarah di rumah Pradivya.


" Masih ada satu hari ini kita menginap di kamar ini. Mama dan Papa tidak jadi datang ke sini karena mereka sedang menunggu kedatangan Ibu dan Bapak." Ucap Mahen yang sudah satu selimut dengan Sarah. Sebab sudah dipastikan sebelumnya tidak akan ada perawat yang akan mengecek suhu dan tensi Sarah lagi.


" Iya kita nikmati satu hari ini bersama di atas tempat tidur ini. Walau bukan peruntukkan tidur berdua seperti ini. Tapi ini sangat nyaman ya Bang?." Sarah memposisikan tubuhnya miring menghadap Mahen dengan membuat pola abstrak pada dada Mahen.


" Hem, apa lagi kalau bersama orang yang kita cintai dan balik mencintai kita. Seperti kita ini sayang." Mahen mengelus perut itu dari dalam daster, yang artinya Mahen sudah berhasil menyingkap daster yang merupakan pakaian kebangsaan bagi Sarah yang sangat membuatnya nyaman.


" Geli Bang " Jerit tertahan dari mulut Sarah.


" Abang juga geli sayang dengan jari-jari nakal milik mu ini." Mahen meraih tangan yang masih terpasang selang infus dengan mengecupnya berkali-kali.


Suasana alam dan manusia yang begitu mendukung hingga Mahen dan Sarah untuk pertama kalinya mereka melakukan penyatuan di dalam kamar rumah sakit.


Melupakan semua beban, kesakitan dan begitu banyak air mata yang telah mereka berdua lewati. Malam ini seolah menegaskan apa pun tidak akan ada yang sanggup memisahkan keduanya. Mahen dan Sarah sanggup bertahan dalam situasi dan kondisi apa pun.


Kilatan petir dan suara geledek yang berbarengan dengan suara-suara erotis yang memenuhi ruang kamar tesebut. Tentunya dengan menahan segala emosi dan suara supaya tidak mengangguk indera pendengar orang lain.


" Kamu lelah sayang?." Mahen menarik miliknya dan segera berbaring di samping Sarah dengan memakai selimut rumah sakit.


Mahen dapat merasakan gerakan kepala Sarah pada dada bidangnya yang berupa anggukan kecil.


" Nanti kita lanjutkan lagi ya sayang." Mahen mengusap lengan Sarah. Dan lagi-lagi Sarah mengangguk pelan dengan mata yang sudah terpejam.

__ADS_1


Pagi harinya Sarah bangun kesiangan setelah ada Dokter yang melakukan visit untuk terakhir kalinya sebelum Sarah pulang nanti sore.


" Abang enggak bangunin aku!. Aku malu tau Bang." Sarah merapikan rambut dan mengikatnya asal.


" Habisnya kamu nyenyak banget tidur nya sayang. Dokter dan perawat nya juga pasti tahu lah apa kalau kamu memang butuh istirahat yang cukup." Ucap Mahen mengerlingkan sebelah matanya.


" Abang yang sudah bikin aku kesiangan." Tuduh Sarah menyalahkan kegiatan Mahen yang tidak berkesudahan di atas tubuh nya sampai pagi.


" Aku tidak bisa menghentikannya sayang!. Tubuh mu sudah berhasil mengunci kelelakian ku." Goda Mahen sambil mengangkat dagu Sarah hingga tatapan mata keduanya saling mengunci.


" I Love You Nyonya Sarah Mahendra Pradivya." Bisik Mahen pada ceruk leher Sarah.


" I Love You too Papi dari calon bayi kita." Balas Sarah membalas perlakuan Mahen.


" Oh iya, Bapak dan Ibu sudah sampai di rumah. Aku sudah meminta mereka untuk menunggu kepulangan kita." Mahen mengeluarkan pakaian baru untuk Sarah.


Sarah meminta Mahen untuk keluar supaya ia lebih leluasa untuk membersihkan dirinya. Dan Mahen pun menunggu Sarah di luar sambil menerima telepon dari Erik.


Kali ini Sarah berada di dalam kamar mandi cukup lama. Hingga membuat Mahen cukup khawatir. Sampai ia mengetuk pintu kamar mandi. Dan untung saja Sarah keluar dengan cepat jika tidak Mahen sudah hendak akan mendobrak pintu nya.


" Kenapa kamu lama sekali mandi nya sayang?." Jantung Mahen begitu kencang berbunyi kala Sarah cukup lama di kamar mandi.


" Iya maaf Bang, aku sekalian pup tadi." Sarah menyisir rambut yang masih basah.


Dengan gerakan cepat tangan Mahen menyambar sisir dari tangan Sarah dan meminta Sarah untuk duduk di tepi ranjang pasien. Sebab Mahen yang kini menyisir rambut Sarah.


" Terima kasih Bang " Sarah memasukkan sisirnya kembali di dalam tas. Supaya mempermudah Mahen mengemasi semua perlengkapan Sarah selama di rawat.

__ADS_1


Waktu terus berjalan sampai akhirnya sore ini Sarah sudah bersiap pulang. Erik sudah membantu Mahen memasukkan beberapa tas ke dalam bagasi mobil Mahen. Dan kini Sarah sudah duduk manis di samping kemudi, menunggu Mahen yang terlihat masih berbicara dengan Erik.


" Semuanya sudah saya atur Pak Bos. Pak Bos hanya tinggal berangkat saja." Ucap Mahen menatap intens wajah Bos nya yang terlihat ragu-ragu untuk melakukan perjalanannya kali ini, berbeda dengan sebelum-sebelumnya.


" Jika Bos tidak ingin berangkat, sebaiknya di tunda atau dibatalkan saja Bos."


" Tidak Rik. Justru aku harus segera ke sana menyelesaikan masalah dan menyerahkan semua tanggung jawab pada Andre supaya aku bisa berada dekat dengan istri dan anak-anak ku nantinya." Balas Mahen dengan wajah yang biasa saja.


" Ok Pak Bos Mahen. Sampai bertemu di Bandara." Pamit Erik sebab ia akan lanjut lagi meninjau lokasi pembangunan Showroom yang baru.


Mahen berjalan dengan senyum yang tertuju pada sang Istri yang sudah berada di dalam mobil.


Kini mobil Mahen sudah melaju meninggalkan gedung rumah sakit dan menuju rumah kediaman Pradivya dimana semua keluarga sudah menunggu kedatangan mereka berdua.


Sesampainya di rumah, benar saja ada begitu banyak orang. Semua keluarga berkumpul di ruang keluarga tanpa terkecuali Lydia dan Syifa.


" Selamat datang Sarah, Mahen." Sambut Mama Kemala begitu hangat. Tapi itu sudah tidak membuat hati Lydia sakit atau pun merasa iri atas kebahagian Sarah, itu karena kehadiran Syifa yang mengisi dan menemani hari-hari Lydia.


" Ma-ma " Syifa berlari ke arah Sarah dan memeluk kedua kaki Sarah dengan wajah yang mengenai perut besar nya.


" Sayang " Panggil Sarah lirih dan mengelus pucuk kepala Syifa dengan air mata yang begitu saja menetes melewati kedua pipinya.


Semua pasang mata begitu terharu melihat Syifa yang memanggil Sarah dengan sebutan Mama. Karena mereka mengetahui cerita Mahen, Lydia dan Sarah sebelumnya.


" Ma-ma " Ulang Syifa dengan begitu jelas terdengar di telinga Sarah.


Mahen mengambil Syifa dan memangku Syifa. Ia pun meminta Sarah untuk duduk di sebelahnya.

__ADS_1


__ADS_2