Suami ke dua

Suami ke dua
Flashback suami temperamen


__ADS_3

Mas Gilang dulu adalah lelaki yang temperamen. Padahal hanya masalah sepele saja akan menjadi besar di buatnya.


Pernah suatu ketika aku menanyakan kabar keluarganya. Mas Gilang langsung marah besar. Dia selalu sensitif jika tentang keluarganya. Padahal menurutku keluargamu adalah keluargaku juga.


"Mas gimana kabarnya si adek." Tanyaku terhadap adek suamiku.


"Mengapa kamu tanya tanya." Mas Gilang membentakku.


"Aku kan hanya tanya mas. Katanya sakit ...... kalo sakit koq gk di bawa ke dokter. Nanti malah kenapa kenapa?"


"Emang kamu doain biar cepat mati. Iya kan!" Bentak suamiku.


Aku hanya diam. Tiap hari di bentakpun menjadikan aku tambah kuat bukan menjadi lemah. Ini aku malah jadi Wonder woman.


"Aku hanya ingin mencurahkan isi hatiku mas. Kepada siapa lagi aku mencurahkan isi hati ku kalo tidak kepada suamiku."


"Ngomong saja kalo kamu ingin mendoakan keluargaku cepat mati semua kan."


Susah kalo ngomong sama orang yang pendapatnya dangkal. Padahal gini gini juga aku masih bisa bedain Orang sakit atau sehat Dan orang waras atau tidak.


Aku juga tidak mau harga diriku di injak injak oleh mas Gilang.


"Oh ya kalo aku hanya curhat aja kamu marah marah dan bentak bentak aku. Inget kata kataku hari ini. Ini terakhir kali nya aku mengutarakan isi hatiku. Aku akan mencari laki laki lain untuk mendengarkan aku. " Suara ku benar benar lantang. Padahal aku biasanya tidak seberani ini.

__ADS_1


Orang baik juga akan menjadi jahat karena tersakiti.


Mulai sejak itu aku tidak pernah bertanya apapun kepada suamiku. Aku mulai membenci suamiku. Ternyata realita yang tidak sesuai kenyataan itu menyakitkan.


Padahal dulu aku berharap jika menikah suamiku akan melindungiku. Tapi kenyataannya nol besar.


Aku dan Dinda sering hidup sendiri karena mas Gilang lebih senang tinggal dengan orang tuanya. Karena di sana selalu tersedia makanan di atas meja.


Kalo di rumahku untuk ada sepiring nasi saja aku harus bekerja dulu. Dinda masih kecil aku gandeng tangan mungil itu. Mengitari desa desa untuk berjualan aneka gorengan.


Aku tidak memutuskan untuk bekerja di pabrik lagi. Aku tidak mau Dinda jika aku titipkan orang lain. Karena saat ini Dinda adalah hartanya satu satunya yang aku punya.


Aku tidak mengijinkan air mata mataku menetes. Karena tidak ada gunanya, air mata ini tidak membuatku kenyang.


"Masa ada maling siang siang gini. Lagian maling mau nyuri apa ke rumahku." Batinku.


"Dari mana saja kamu ngak ada di rumah. Kluyuran kemana kamu."


Mas Gilang melempar semua barang barang di rumah.


"Tumben pulang mas." Sapa ku seperti tidak terjadi apa apa.


"Emang ngak boleh aku pulang ini juga rumahku juga." Bentaknya lagi.

__ADS_1


Namun Dinda masih ketakutan melihat ayahnya. "Ayah jahat." Suara Dinda terdengar pelan.


Tapi aku yakin ayahnya juga mendengarkan karena ayah Dinda hanya temperamen bukan bolot.


"Sudah makan mas." Meski begitu aku masih menawarkan makanan.


"Sudah kemarin."


Aku menyiapkan makanan di atas meja, kami bertiga pun makan. Padahal dimana mana barang barang masih berserakan. Aku tidak membereskan terlebih dahulu. Yang penting perut terisi dulu, jika perut sudah kenyang mas Gilang tidak akan marah marah lagi.


Aku memandikan Dinda dan menidurkannya. Karena ini jam tidur siang Dinda.


Sementara aku membereskan ulah suamiku. Merapikan kembali perabotan yang sudah di lempar kemana mana. Untung saja tidak ada piring atau gelas yang pecah.


Mas Gilang menangkapku dari belakang. Memelukku dengan erat. Aku yakin nafsu nya ingin di salurankan.


Mungkin di rumah ibu mas Gilang tersedia apa yang di perlukan mas Gilang tapi.... Suamiku butuh istrinya.


Karena yang lebih mengenal suamiku adalah aku, istrinya bukan orang lain.


.............


.............

__ADS_1


__ADS_2