Suami ke dua

Suami ke dua
Ayu seperti parasnya.


__ADS_3

Terrrrt terrrrrt


Suara handphoneku bergetar, aku memang sengaja tidak membunyikan handphone jika ada pesan masuk tidak bolak balik berbunyi.


Mas Adam mengirimkan beberapa foto pernikahannya. Aku membuka satu per satu, kemudian aku zoom foto Ayu.


Ayu memang cantik semoga secantik parasnya. Tinggi badannya hampir sama dengan mas Adam, mungkin karena dia memakai high heel.


Di bantu make up wajah cantik itu makin menonjol. Meskipun aku tidak pernah berkenalan secara langsung aku bisa menduga kalau dia keturunan orang punya tidak seperti aku.


Ayu memang cocok dengan mas Adam tubuhnya yang semampai membuat semakin elegan.


Mas Adam memang pintar dalam memilih seorang istri. Memang dia orang yang cerdas, mungkin semua sudah di perhitungkan secara matang.


Pernikahan itu sebuah status, bibit dan bobot menjadi perhitungan yang penting. Meski tidak cinta orangpun dapat menikah. Dan bercinta tanpa cinta itu sah sah saja.


Dulu mas Adam pernah cerita umur ayu masih dua puluh enam. Jauh sangat muda di bandingkan aku


Dia juga sudah S1. Pendidikan pengalaman dia lebih segalanya di bandingkan aku.


Jelas saja dia memilih Ayu.


"Ahhh makin kesal aku memikirkan batinku sendiri.


Rasa kesalku belum hilang mas Adam mengirimkan stiker lucu.


Aku tidak membaca atau membuka.


Mas Adam mengirimkan lagi


"🙄🙄🙄

__ADS_1


"😎😎😎😎


"Ada apa. Tanya mas Adam.


"Nggak ada. Kesal ku.


"Koq jutek. Selidik mas Adam.


"Siapa.


"Kamulah masa aku. Todong mas Adam.


"Aku mau tidur ngantuk.


Aku mengalihkan pembicaraan, sekarang bukan waktu yang tepat untuk berdebat.


Batinku masih tidak tenang ingin tidurpun susah. Mata ini tidak dapat di pejamkan pikiranku mulai berkelana.


"Koq belom tidur. Tanya mas Adam.


"Kamu cemburu ya.


"Aku. Iya enggak lah. Dengan spontan aku ngeles.


"Ooo.


"Ooo kenapa. Balik ku tanya.


"Harusnya kamu cemburu.


"Buat apa, kamu juga nggak cemburu dengan suamiku.

__ADS_1


Mas Adam terdiam aku pun demikian.


Suasana seperti apa ini, aku tidak bisa menahan rasa rinduku. Rasa yang tidak bisa di jelaskan, rasa yang tidak bisa di ungkapkan, rasa yang tidak bisa di kendalikan, rasa yang tidak bisa di pertanyakan.


Ahhh aku menarik nafas panjang.


"Jangan jangan kamu sudah punya yang lain. Mas Adam menanyakan hal yang buat aku kesal.


"Iyalah aku kan punya suami.


Aku heran dengannya mengapa dia tidak cemburu dengan suamiku. Malah menuduhku punya lelaki lainnya lagi.


Berurusan dengan dua lelaki saja sudah buatku pusing. Apalagi mau bermain main dengan orang asing.


Aku itu sudah malas untuk berkenalan dengan orang baru. Di usia ku yang sudah kepala tiga ini sudah tidak gampang beradaptasi dengan orang baru.


Mas Adam memang benar benar buat aku kesal, di pikir aku ini wanita seperti apa. Meski aku tidak bisa hidup dengan satu cinta bukan berarti aku bisa dengan banyak laki laki.


"Maksudku.


"Dari dulu sekarang dan nanti aku tidak pernah berubah. Perasaan...hatiku... masih sama. "Dalam hidupku hanya ada kamu dan suamiku.


Aku ingin terus melanjutkan ucapanku tapi segera ku hentikan aku tau mas Adam tidak suka jika terus ku tekan.


Sudah jadi kebiasaan mas Adam tidak pernah menjelaskan perasaannya. Harusnya kalo dia tidak suka sebaiknya katakan saja.


Beda dengan mas Gilang yang emosinya bisa meledak ledak.


Batinku. "Kalo marah ya marah aja. tidak usah menggunakan kata kata yang elegan. Apalagi otakku ini tidak bisa mencerna hal hal yang berat.


"Ini kan malam pertamamu dengan Ayu.

__ADS_1


"Terus kenapa.? Tanya kembali mas Adam.


"Jangan lupa bayangin aku.


__ADS_2