Suami ke dua

Suami ke dua
Tidak selayaknya


__ADS_3

Dinda dan Dimas sampai di kantor mereka berkerja seperti biasanya.


Yang tidak biasa adalah Dinda selalu menatap bosnya dengan rasa harap.


"Pak Adam udah sarapan, saya pesankan makanan yaa."


"Ngak usah aku udah makan dengan Devan." Tolak Adam.


"Tapi sepertinya pak Adam sedang sakit."


"Aku baik baik saja. Kamu kerja yang benar."


Dinda mulai berlebihan, tidak sepantasnya Dinda menaruh perasaan terhadap bosnya. Apalagi perbedaan umur mereka yang terpaut jauh.


Di sela sela Dinda bekerja, Dia juga menyiapkan segala keperluan Adam. Termasuk makan dan minum.


Arah jam menunjukkan angka sembilan. Di ruangan ini hanya ada Dinda dan Adam. Mereka menghabiskan waktu bersama setiap hari.


Jelas saja Dinda tidak punya pemandangan lain selain Adam. Makin hari perasaan itu tidak bisa dia bendung. Apalagi Adam sering memberi hadiah hadiah hingga Dinda salah faham.


Dinda hanya merasa Adam menyukainya saat ini. Karena Dinda adalah karyawan yang di spesialkan di perusahaan ini.


Lain halnya dengan Adam, Dia hanya mencintai rosa dan Dinda adalah tanggung jawabnya. Seperti layaknya Devan.


"Ini Pak teh panasnya." Dinda menaruhnya di meja Adam.


Dinda terus saja memandangi bos nya yang sibuk bekerja.


"Iya iya.." Jawab Adam.


Adam mengambil sesuatu tanpa menghiraukan Dinda dan akhirnya teh panas itu tumpah. Gelas itu ternyata belum mendarat di meja. Akhirnya air panas itu mengenai Dinda.

__ADS_1


Dengan sepontan Dinda memegang tangan Adam berharap durasi ini akan lama. Dinda tidak menghiraukan jika gelas itu terbang dan menumpahinya.


"Auaaahh Pak Adam panas." Suara Dinda keras sekali hingga terdengar dari luar ruangan.


Ini akibat Dinda yang tidak konsentrasi saat bekerja, Saat ini dadanya tersiram teh panas.


"Pak tolongin Dinda."


Adam hanya bingung menolong dengan cara apa. Karena itu adalah daerah sensitif seorang wanita. Kalau itu ibunya Dinda mungkin Adam akan bersenang hati menyentuhnya. Tapi ini Dinda... gadis dua puluh tahun.


Tanpa pikir panjang Adam menolongnya, Dia hanya berpikir dia adalah anak dari kekasihnya. Anak kekasihnya itu adalah anaknya juga batinnya.


Adam membersihkan baju itu dengan sapu tangan. Sementara Dinda belum melepaskan tangan Adam. Berulang kali Adam ingin melepaskan tapi Dinda begitu kuat menggenggamnya.


"Ya Tuhan seandainya aku jadi istri kedua aku rela." Batin Dinda.


Gadis itu udah hampir gila, cara berpikirnya pun sudah terlalu dewasa.


Beberapa karyawan langsung masuk ke ruangan Adam tanpa permisi mereka langsung membuka pintu. Mereka takut terjadi sesuatu dengan bosnya itu.


Apalagi Dimas lebih gesit dari teman temannya.


Saat mereka membuka pintu, ...... Mereka hanya terpaku melihat pemandangan Adam dan Dinda.


"Lihat apa kalian. cepat bantu Dinda." Bentak Adam.


Mereka langsung membawa Dinda keluar. Dimas berada di garis terdepan menarik tangan Dinda.


"Pak Dimas lepasin tangan Dinda, sakit." Rintih Dinda.


Dimas tidak menghiraukannya dan membawa Dinda jauh dari kerumunan.

__ADS_1


"Pak ... Pak ..."


"Apa maksudnya ini." Tanya Dinda.


"Pak sakit ..."


"Lebih sakit mana!! aku melihat kejadian itu."


"Maksud pak Dimas apa.??"


"Jangan pura pura tidak tahu. Semua orang sudah melihatnya."


Dinda hanya semakin membenarkan gosip yang beredar saat ini.


"Dinda ngak ngerti maksud pak Dimas."


"Din aku menyukaimu, aku tahu yang ada di dalam otakmu itu. Tolong ngak usah cari masalah deh."


"Pak Dimas itu berlebihan."


"Din kamu itu masih kecil. Sedangkan om Adam itu sudah tua. Kalian itu layak seperti anak dan bapak. Lebih baik urung kan saja niatmu itu."


Dinda hanya diam...


......


.......


.........


.........

__ADS_1


__ADS_2