Suami ke dua

Suami ke dua
Dinda sudah dewasa


__ADS_3

,"Buk .... boleh ya Dinda kerja Di kota." Setiap hari itu yang di omongin Dinda.


Aku masih tidak memberi jawaban atas pertanyaan Dinda.


"Yah .. boleh ya.."


Mas Gilang pun juga diam. Dia tidak bisa melepaskan putrinya begitu saja. Meski Mas Gilang kelihatan garang tapi dia seorang penyayang, Apalagi kepada putrinya.


"Aku tidak bisa ambil keputusan. semua keputusan ada di tangan ayahmu."


Mas Gilang memang lebih lama jika berpikir. Dinda tidak berani jika ayahnya hanya diam saja.


"Aku sudah daftar online. Dan aku sudah lulus tes koq. Ayah dan ibuk tinggal memberi restu itu aja. Janji aku akan jaga diri. Jaga makan!!!!"


"Boleh tapi....."


"Beneran yah."


"Iya . Tapi dengerin dulu. Ayah belum melajutkan. Boleh tapi ayah yang nganter. Dan ayah yang nyarikan tempat tinggal. Gimana."


"Terima kasih ayah." Dinda kegirangan.


"Tumben ayah ngasih ijin." Selidikku.


"Seandainya dinda tidak di kasih ijin. Dia akan tetap pergi. Entah kita setuju atau tidak. Karena Dinda sudah memikirkannya. Sepertinya dia mirip kamu buk. Kalo sudah ada keinginan tidak bisa di larang."


"Bukannya itu mirip ayah."


"Iya .. iya buk mirip aku."


"Haaa haaa."

__ADS_1


Aku dan mas Gilang saling tertawa.


.....


Pagi


Setiba di kantor yang Dinda ketahui lewat internet. Dan Ayahnya sedang menunggu di luar.


Ada beberapa kandidat yang sedang menunggu di kursi. Mereka mungkin dari berbagai kota di sekitar.


Dinda mengawasi mereka satu per satu. Padahal Dinda juga nantinya akan di interview. Sempat sempatnya dinda mengawasi kepribadian seseorang.


Mereka satu persatu di panggil ke ruang untuk interview. Dinda semakin tidak karuan karena di dalam ruangan itu bukan lagi staf yang akan interview melainkan bos pemilik gedung ini.


Aku dengar dia memiliki bisnis bermacam macam. Dari kuliner, sembako, menyediakan bahan bahan bangunan. Dan membangun perumahan. tambang emas.


Entahlah mungkin masih banyak lagi.


Kalo nanti aku punya uang yang banyak , ngak akan buat bisnis yang banyak banyak gitu. Paling Cukup satu saja dan fokus. Ahhh Dinda sedang berkhayal.


Akhirnya Dinda memasuki ruangan juga. Dinda memandangi seluruh ruangan itu. Semua tampak begitu aneh bagitu. Mungkin karena ini pertama kalinya Dinda harus di interview.


Dinda memandangi lelaki itu, tapi ketika Dinda sadar dia tundukan Kepalanya..


"Nama kamu Dinda." Si bos memberi pertanyaan pertama.


"Iya pak." Dinda menjawab dengan tegas. Padahal dalam hatinya sudah tidak karuan.


"Punya pengalaman kerja."


"Tidak pak."

__ADS_1


"Pernah kerja dimana aja."


"Belum pernah pak. Cuma bantu bantu ibuk saya jualan di kampung."


Ahhh Dinda makin tidak karuan. Lulusan SMA mungkinkah bisa masuk ke perusahaan yang keren ini. Apalagi di bandingkan perempuan perempuan yang keluar masuk ruangan ini.


"Jika kamu di terima di perusahaan ini. Apa kamu mau di tempatkan di posisi mana saja."


"Iya pak." Dinda menjawab tanpa berpikir panjang.


Dinda mencoba memperhatikan lelaki di depannya. Sepertinya dia orang yang sabar tapi tampak menakutkan.


"Besok kamu datang kesini jam tujuh. Dan langsung menemui saya."


"Iya pak."


"Sekarang kamu boleh keluar."


Dinda masih kebingungan dengan ulah lelaki itu.


"Apa saya di terima pak." Tegas Dinda.


"Iya saya coba dulu. Tapi kalo selama satu bulan kamu tidak bisa. Mungkin akan saya pertimbangkan."


Dinda keluar dari ruangan itu dan segera menemui ayahnya.


"Ayah ...." Dinda berlari kecil menuju ayahnya.


"Bagaimana."


"Aku di terima yah."

__ADS_1


.......


__ADS_2