Suami ke dua

Suami ke dua
Devan dan mas Adam.


__ADS_3

Devan menangis melihatku bersama laki laki lain selain ayahnya.


Meski mas Adam ayah biologisnya tapi bagi Devan mas Gilang adalah ayahnya.


Mas Adam masih tidak melepaskan aku. Dia benar benar sudah kecanduan atas tubuh ini. Dia sudah melihat pesona gadis desa yang menggairahkan.


Aku ingin menenangkan bocah kecil itu. Tapi mas Adam tidak membiarkan aku, tangannya masih menjelajahi aku.


"Mas." Kenapa kamu seperti ini. Kemarahan apa yang ingin kamu melampiaskan. Mas Adam yang biasanya menjaga perasaanku. Yang biasanya ingin menjaga rumah tanggaku dengan mas Gilang. Tapi kali ini dia ingin menghancurkannya.


Apakah mas Adam benar benar kecewa padaku!!! Dia hanya ingin melampiaskan nafsunya.


Entah ada apa dengan ku??? Aku biasanya menggoda lelaki itu tapi justru kali ini aku selalu menghindar. Apakah aku sudah lupa kalau aku mencintainya.


Aku berulang kali menoleh jam dinding. Aku tidak ingin sampai di rumah larut malam. Apalagi mas Gilang biasanya pulang kerumah sekitar pukul delapan. Aku harus pulang sebelum mas Gilang pulang.


Jam dinding masih menunjuk pukul enam. Aku belum membuat kopi untuk suamiku.


"Ahhh ada apa dengan ku ini." Pikiranku terus mengarah ke mas Gilang.


Aku tidak ingin berlama lama berada di sini. Ahkirnya aku putuskan untuk segera menuntaskan permainanku dengan mas Adam. Aku percepat permainan ini hingga mas Adam berhujan keringat.


"Mas kita bersih bersih yuk dan antar aku pulang." Pintaku.


"Kita menginap semalam saja di sini."


"Gila kamu. Aku punya suami .. anak." Tidak semudah itu.


Mas Adam mendekati Devan. Dia mengajak bermain bocah itu.


"Pa... pa." Mas Adam mengajari Devan memanggilnya papa.

__ADS_1


Bocah kecil itu masih belum biasa mengucapkannya. Dan umurnya masih setahun.


"Pa ... pa." Mas Adam terus mengucapkannya. Kemudian dia mengajak bocah itu duduk di pangkuannya.


"Papa papa." Suara kecil itu muncul dengan intonasi yang cepat.


Aku melihat mimik wajah mas Adam begitu bahagia. Karena sebelumnya dia tidak pernah di panggil seperti itu.


Istri mas Adam belum juga hamil hingga saat ini.


"Sayang panggil papa lagi."


"Papa papa." Padahal dia baru berumur satu tahun.


Devan mulai nyaman dengan mas Adam. Ya anak kecil itu seperti saja. jika di makanan atau mainan pasti akan mendekat.


Devan mengoceh tidak jelas mungkin dengan cara itu dia berkomunikasi dengan Papanya. Lantas mas Adam menyahuti seakan hanya mereka yang mengerti percakapan itu.


"Anak papa sini."


Devan menghampiri mas Adam. Kemudian !mas Adam menggendong.


"Anak papa ganteng nya." Mas Adam mencium bocah itu. Seakan hari ini tidak cepat berlalu.


"Sayang.... Lihat Mata Devan mirip dengan ku." Mas Adam menunjukkan padaku.


"Iya. Ayo antar aku pulang."


Aku beranjak menuju mobil. Mas Adam mengikutiku sambil menggendong Devan. Kemudian dia memberikan Devan kepadaku. Karena mas Adam akan mengemudi.


Mas Adam sekarang jauh lebih baik dari pada tadi. Dia sudah mulai lembut seperti biasanya.

__ADS_1


Hal itu yang membuat aku sulit untuk melupakannya.


......


......


Setiba di rumah aku mencari Dinda. "Dinda ..... dinda ......"


"Iya buk .


"Apa ayah sudah pulang."


"Belum ."


Aku menurunkan Devan dari gendonganku. Aku menyiapkan makan malam untuk mas Gilang dan Dinda. Tidak lupa pula kopi kesukaannya.


"Ayah...... " Dinda Memanggil ayahnya.


"Ahhh." Untung aku sudah pulang terlebih dahulu.


"Hai sayang." Aku memanggil suamiku.


"Lapar banget aku buk.


"Kopinya yah." Sementara aku menyiapkan makan malam. Aku Lebih senang meluangkan waktu dengan keluargaku di ruang tengah. Makan dan menonton televisi di tempat itu.


"Ayo Dinda makan dulu." Panggil suamiku.


.....


......

__ADS_1


__ADS_2