
Aku mendengar suara pintu yang di banting cukup keras.
Bruaaakkkkk .........
Seketika aku bangun dari tidurku. Aku melihat Dinda masih tidur lelap di sampingku.
Jam dinding masih mengarah ke arah dua belas. Aku kembali untuk melanjutkan tidur. Mata ku seakan di olesi lem, sulit untuk membukanya karena ngantuk ini sudah berat.
Bruaaakkkkk
Kembali aku mendengar suara pintu itu lagi.
Mas Gilang masih menghisap rokok di tepi tembok. Ku lihat barang barangku sudah di lempar kemana mana. Aku sengaja tidak menghiraukannya. Apalagi ... Aku malu, karena ada Dimas temannya Dinda menginap di sini.
Ku lihat lagi Dinda dia tidak terbangun."Syukurlah"
Aku membereskan barang barangku yang sengaja di lempar mas Gilang. Entah kesalahan apa yang sedang aku perbuat haru ini.
Otakku mulai berkerja untuk memflash back kejadian hari ini.
Apakah mas Gilang tau perbuatanku tadi siang dengan mas Adam.
Deg .....
Perasaanku tidak karuan antara takut dan takut.
Aku kembali ke belakang ke arah dapur. Bumbu untuk memasak semua berantakan di lantai.
Barang barang Ukm di desaku yang sengaja di titipkan padaku, untuk di jual lagi di siram dengan air. Semua basah bagaimana aku bisa menggantinya.
"Ya Tuhan...." Bagaimana lagi aku bisa mengeluh.
__ADS_1
Dengan berapi api aku menuju kearah suamiku.
Aku melemparnya dengan panci kecil yang sedang aku bawa. Padahal panci itu rencananya untuk membuat kopi untuk suamiku.
Tapi niat hati ini sudah berbelok, bukan minta maaf yang aku lakukan. Aku malah melempar nya tepat di dahi.
Praaaanggg
Aku sudah benar benar tidak terima jika orang lain yang menjadi korban dari kemarahan suamiku.
Jika ingin marah lampiaskan saja padaku, tapi jangan membuang barang barang orang. Disana banyak hasil kerja keras banyak orang.
Mas Gilang tidak terima dan melempar kembali. Dia merasa harga dirinya di injak injak seorang wanita.
Aku tahu aku tidak pantas melakukan itu tapi aku sudah muak dengan kelakuan suamiku.
Dimas terbangun dari tidurnya. Dia mencoba melihat apa yang terjadi. Kemudian niatnya untuk mengetahui apa yang terjadi di urung kan. Karena dia hanya sebatas tamu yang tidak sepatutnya mengurusi kehidupan rumah tangga orang lain.
"Aku punya salah apa?" Bentak ku.
Seperti biasa mas Gilang hanya diam. Dia memang tidak suka banyak ngomong berharap aku bisa menyadari kesalahan lu sendiri.
Bagaimana bisa aku mencari kesalahanku sendiri. Karena aku masih merasa baik baik saja. Apalagi permainanku dengan mas Adam selalu sempurna aku tutupi.
"Biasanya marah marah. Kalau punya mulut itu buat ngomong. Jangan Diam aja." Suaraku semakin keras.
Dinda langsung terbangun dari tidur nya. Dengan setengah sadar dia mulai berdiri.
Seandainya dia tahu. Orang yang paling aku benci saat ini adalah suamiku. Dia tepat berdiri di hadapanku saat ini.
Aku hanya seorang wanita yang tidak bisa di injak injak. Aku akan menampilkan sisi lainku.
__ADS_1
"Malu di lihat anak. Anak sudah besar masih saja tidak berubah."
Dinda langsung berada dihadapan ayah saat ini. Dia ingin membela aku, Dia tidak bisa melihat ibunya di perlakukan tidak baik.
"Ayo sayang." Aku mengajak Dinda pindah ke kamarnya.
Aku tidak ingin gadisku ini akan menjadi beringas sepertiku. Aku harus meredam emosinya.
"Ibukkk kenapa diam aja, Dibentak bentak ayah."
Dinda sudah dewasa dia tahu mana yang benar dan mana yang tidak benar.
"Udah sayang... kamu tidur di kamar Dinda sendiri. Nanti ibuk yang ngurusin ayah."
"Tapi buk...."
"Udah ibuk baik baik saja. kamu lanjutkan tidur."
"Sampai kapan ibuk masih bisa bertahan." Kata kata itu tiba tiba muncul dari mulut Dinda. Dia sekarang sudah dewasa dan mampu menggunakan nalarnya.
"Dinda sekarang sudah besar. Ibuk bisa ngajak ngomong kan"
Dinda hanya diam. Itu artinya dia menyetujui kalimat ibunya.
"Ayah itu sebenarnya baik. Dan berlebihan mencintai ibuk. Makanya dia seperti itu. Semarah apapun ayah, Dia tidak pernah memukul ibuk. Jadi Dinda ngak boleh dendam dengan ayah."
"Tapi buk."
"Kamu tidur lagi ya... besok kan harus berangkat kerja."
Aku melihat mas Gilang masuk kedalam kamar.
__ADS_1
Setelah membereskan kekacauan yang di buat mas Gilang. Aku mengikuti suamiku masuk kamar.