Suami ke dua

Suami ke dua
Flashback tidak di restui


__ADS_3

Setelah beberapa tahun menikah aku baru sadar ternyata orang tua dari mas Gilang tidak merestuiku.


Aku pikir semua baik baik saja ternyata semua itu salah. Orang tua mas Gilang yang aku anggap sebagai orang tua ku sendiri. Ternyata tidak menganggapku sebagai anaknya.


Kepolosanku membuat aku buta siapa yang baik dan buruk menjadi sama rata. Terkadang semua orang terlihat baik di mataku.


Pernah suatu ketika Ibu mas Gilang berkata ingin di belikan ini dan itu. "Kenapa tidak to the point saja." Batinku.


Tapi kenyataannya aku tidak se kaya yang di bayangkan ibu mas Gilang. Mereka pikir aku orang yang berduit dan bisa menopang kehidupan mereka.


Aku tau orang tua mas Gilang kecewa atas pernikahan kami yang tidak membuat hasil apa apa.


Memang dulu aku mempunyai penghasilan sendiri tapi sekarang aku lebih fokus menemani Dinda.


Karena kekecewaan mereka aku selalu jadi kambing hitam dalam setiap masalah.


"Dinda ikut nenek ya.... nenek punya ice cream."


Dinda langsung saja ikut neneknya tanpa menyapaku. Anak kecil mana yang akan menolak jika di tawarkan makanan kesukaannya.


Setiap hari bujukan demi bujukan di mainkan dengan mahir. Hingga aku sadar ibunya mas Gilang memang ingin memisahkan aku dengan Dinda.

__ADS_1


Jika Dinda bisa di kendalikan kelak ayahnya juga akan di kendalikan.


"Ini Dinda cantik banget jam segini udah mandi. Kalo sama ibu kamu tuh ngak bakal di mandiin."


Kulihat jam tiga sore aku masih sibuk mengerjakan pekerjaan rumah.


Aku tidak ingin membalas sakit hati dengan menyakiti. Karena perdebatan akan berlangsung lama. Membela diri pun tidak ada gunanya karena mas Gilang akan lebih patuh terhadap orang tuanya.


Dinda dan Mas Gilang Lebih sering dirumah mertua. Alasannya Dinda senang menonton televisi dan disamping nya ada kipas angin.


"Dinda di rumah nenek aja enak ngak panas." Sambung nenek nya.


"Iya nek."


Jika aku buka pintu depan dan belakang angin bebas berhembus kemana saja. Karena sekeliling ku persawahan jelas anginnya kenceng banget.


Sindiran demi sindiran sudah menjadi makananku sehari hari. Belum lagi omongan tetangga tajam nya setajam pisau.


Hidupku makin hari makin redup. jika seluruh dunia menghardikku aku masih bisa bertahan. Karena suamiku masih mendampingiku. Tapi hari ini suamiku tidak percaya lagi padaku.


Wanita mana yang masih berdiri tegak jika suaminya sudah tidak lagi mendukungnya. Seakan dunia ini hampir kiamat.

__ADS_1


Jika Dinda saja sedikit melupakan aku bagaimana dengan mas Gilang.


"Yaa sudah cukup." Batinku. cukup dengan semua terjadi. Cukup mempermainkan hatiku


Aku tidak mau di injak injak lagi. Aku Akan mencari uang yang banyak hingga kalian akan silau dengan apa yang nanti aku lakukan.


Dan Dinda akan pulang dengan sendirinya karena dia adalah anakku. Kalian tidak bisa menghipnotisnya lagi. "Ikatan Ibu dan anak tidak bisa di beli dengan apa pun." Kecamku.


Detik ini....... saat ini aku bukan aku yang dulu. Aku Bukan Rosa yang selalu mengalah. Bukan orang yang akan diam saja jika di rendahkan


Aku mencari kontak telpon di handphoneku. Mencari teman lama yang bisa membantuku.


Kebetulan handphoneku masih jadul.


"Mas ini aku Rosa. Bisa kita ketemu."


"Ketemu di mana." Jawab mas Adam yang tidak pernah menolakku.


...........


.........

__ADS_1


.........


__ADS_2