Suami ke dua

Suami ke dua
Bab 80


__ADS_3

Mama Kemala, Papa Darwin, Lydia dan Hafis begitu fokus pada layar didepannya. Dari sebuah kamera CCTV yang dipasang dalam ruang yang minim pencahayaan, Mahen menatap gundukan baju yang berbentuk menyerupai sebuah makam. Mungkin dengan seperti itu ia merasa terus dekat dengan Sarah dan calon bayi mereka. Sesekali terlihat mengusap gundukan baju tersebut dengan tangan satunya lagi mengusap pipi.


" Apa Bang Mahen menangis?." Rasa pedih kehilangan Sarah pun ikut dirasakan oleh Hafis yang hanya satu tahun saja hidup bahagia bersama Sarah sampai memiliki Syifa dalam hidupnya.


" Siapa yang meletakan baju-baju di dalam sana dan membentuknya seperti itu?.Kalau dibiarkan seperti ini bagaimana anak ku bisa sadar dengan kematian istri dan calon anak mereka." Mama Kemala begitu geram baik dengan apa yang dilihat dari layar yang berukuran sedang itu dan juga pada Dokter yang diminta untuk menyembuhkan putra sulungnya.


" Sabar Ma, mungkin orang-orang di sini memiliki alasan kenapa melakukan itu pada Bang Mahen." Ucap Hafis tidak ingin terprovokasi oleh Mama Kemala.


Semenjak Mahen jadi tidak waras seperti ini Mama Kemala lebih frontal lagi berbicara dan bertindak untuk mengeluarkan isi hati, pikiran, atau sesuatu hal yang tidak disukai dan dapat membahayakan dirinya.


" Iya Ma apa yang dibilang Hafis ada benarnya juga. Biarkan saja Doktor bekerja dengan caranya sendiri. Lagian mana ada Dokter yang ingin gagal dalam menyembuhkan pasiennya, apalagi ini ini milik pemerintahan Ma." Papa Darwin pun turun tangan menenangkan Mama Kemala.


" Iya Ma kita percayakan semuanya pada Dokter." Timpal Lydia sembari memegang tangan Mama Kemala dan menatapnya lembut.


Satu lawan tiga jelas dirinya yang kalah, jadi Mama Kemala mau tidak mau diam dan kembali fokus melihat Mahen.


Hari semakin malam, ketika mereka kembali ke Hotel dan langsung menempati kamar yang sudah dipesan olah Hafis sebelumya.


" Kak Lydia, bisa kita bicara sebentar?." Hafis menahan pintu yang hendak di tutup oleh Lydia.


" Sebenarnya Kak Lydia sudah lelah banget Hafis. Penting enggak yang mau kamu bicarakan?." Lydia benar-benar merasa lelah dengan tubuh dan pikirannya sendiri. Bercabang menjadi beberapa bagian, ada yang tertuju pada Syifa, kesembuhan Mahen, penolakan Mahen, bujukan Mama Kemala dan larangan Paman Bibinya.


" Kalau bicara masalah Bang Mahen pasti Kak Lydia tidak akan merasa kelelahan Kak?." Hafis sengaja menggunakan nama Mahen untuk bisa memancing Lydia. Karena Hafis tahu kalau Lydia masih begitu mencintai Mahen dan menunjukkan rasa itu kemi

__ADS_1


bali setalah kematian Sarah.


Setelah membuang nafasnya secara perlahan, Lydia menutup pintu kamar dan berjalan mengikuti Hafis yang sudah berjalan lebih dulu.


" Apa yang ingin kamu bicarakan?." Setelah keduanya duduk dengan memesan dua gelas kopi.


" Begini Kak. Mama ada terlibat enggak dalam kematian Sarah?."


Lydia cukup terkejut dengan apa yang dipertanyakan oleh Hafis. Meski sebenarnya Lydia sempat mencurigai Mama Kemala namun tidak ada bukti satu pun yang mengarah atau yang tampak pada Mama Kemala.


" Kak Lydia nggak tahu Hafis. Karena pihak kepolisian pun sudah mengatakan kalau itu murni kecelakaan bukan rekayasa atau ada seseorang yang merencanakannya." Jawab Lydia jujur, karena pada saat itu Lydia mendengar sendiri apa yang disampaikan polisi pada Mahen. Hingga Mahen tidak bisa mengusut kasus ini lebih lanjut lagi.


Mahen begitu frustasi kala itu. Semua akses sudah tertutup dengan rapat tanpa celah sedikit pun untuk menemukan siapa yang sudah mencelakai Sarah dan keluarganya?.


.


.


Sementara itu di tempat lain. Kehidupan rumah tangga Rendy dan Sari sangat terlihat harmonis. Namun sampai sekarang mereka belum memiliki momongan. Tapi itu tidak menjadikan keduanya berputus asa, banyak sudah Dokter yang menyatakan kalau kedua nya masih subur dan sangat besar untuk memiliki momongan, hanya dibutuhkan kesabarannya saja.


Banyak hal tak terduga yang jadi dalam hidup mereka. Salah satunya Rendy dan Sarah pernah tidur di kantor polisi atas laporan Mahen. Tapi itu tidak lama karena Mahen menarik lagi laporannya.


Sempat Mahen mendatangi rumah mereka untuk menyelidiki keduanya satu Minggu setelah kematian Sarah. Namun yang didapatnya pengakuan jujur Rendy dan Sari yang memang ingin mencelakai Sarah. Dengan menyabotase kursi yang di ada di ruangan Mahen.

__ADS_1


Kini mereka berdua ikut membantu Mahen menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi dengan mobil yang ditumpangi oleh keluarga Sarah pada saat itu?. Tapi sampai saat ini mereka belum menemukan apa pun setelah hampir dua tahun lebih.


" Apa lagi yang harus kita lakukan Mas Rendy untuk membantu Pak Mahen?."


Rendy menggeleng lemah sebab dirinya dan Erik pun sudah mulai putus asa. " Tidak ada Sari. Mungkin untuk sementara aku akan berhenti mencari informasi lagi. Semenjak Pak Mahen enggak lagi ke kantor. Ada banyak hal yang sudah terbengkalai. Jadi aku dan Erik mencoba memperbaiki semuanya."


" Aku merasa bersalah sekali pada Sarah. Padahal Sarah wanita yang baik. Untung saja kecelakaan yang disebabkan oleh kita tidak melukai Sarah dan calon bayi nya." Sesal Sari. Kali ini ia benar-benar bersedih dan menyesal sudah menyakiti Sarah.


Rendy mengakhiri percakapan pagi itu, sebab dirinya sudah sangat telat datang ke kantor. Ya kini Rendy dan Erik bahu membahu untuk membangun kembali perusahaan otomotif Mahen yang semuanya hampir hancur. Tapi perlahan semuanya mulai membaik walau masih jauh dari kata baik.


Rendy dan Erik sama-sama baru sampai di kantor tentunya dengan alasan yang berbeda.


" Ku kira kau sudah di kantor. Rupanya baru datang juga?." Ucap Rendy berbarengan masuk ke dalam ruangan bersama Erik.


" Pak Mahen sudah berada dalam pengawasan dinas sosial di kampung Ibu Sarah?!." Bisik Erik.


" Terus apa yang harus kita lakukan sekarang?. Pasti keluarga Pak Mahen sudah berada di sana?." Jadi kita tidak akan leluasa untuk bertemu dengan Pak Mahen." Rendy sudah merasa sangat pusing dengan masalah yang bertubi-tubi menimpa hidup sang Bos.


Erik hanya mangut-mangut sambil memeriksa laporan dari para klien yang masih bertahan di perusahaan Mahen.


" Iya kamu benar. Sekarang kita belum bisa melakukan apa pun untuk Pak Mahen. Tapi sambil menunggu waktu yang tepat, Kita harus mencari orang yang bisa kita andalkan berada dekat dengan Pak Mahen." Ucap Erik.


Selama ini Erik selalu gigih berjuang untuk hal apa pun yang berhubungan dengan Mahen. Erik sudah mengusahakan segala macam cara untuk kesembuhan Mahen dan semua bisnis nya. Tidak peduli dengan kedekatannya bersama Evi yang selangkah lagi menuju pernikahan. Seban bagi dirinya kepentingan Mahen masih menjadi prioritas utamanya. Dan sejauh ini Evi sangat mengerti.

__ADS_1


__ADS_2